1 Januari 2020

Hujan yang tak begitu deras namun tak biasanya jalanan di depan rumah tergenang semata kaki. Pasti segera surut, begitu pikirku. Aku masih sibuk di dapur dan menganggap biasa saja.

Perumahan dimana kami tinggal sebenarnya daerah langganan banjir. Namun hampir lima tahunan daerah kami aman dari banjir. Kabarnya pihak perumahan telah mengeruk sungai yang selama ini menjadi penyebab terjadinya banjir dan membuat tanggul-tanggul yang cukup untuk menahan air sungai agar tak masuk ke dalam pemukiman.

Masih asyik dan fokus dengan pekerjaan dapur karena mumpung libur sekolah keluarga harus makan masakan rumah. Namun tiba-tiba putriku teriak, “Ma, airnya udah nyampe depan pager!” teriaknya sambil berlari masuk ke dalam rumah.

Mendengar teriakkan putriku, segera aku berlari ke depan. Betapa kagetnya aku, air telah menggenang tepat di depan pagar, padahal kondisi saat itu tak hujan namunmendung.

Panik, segera kuamankan barang-barang dan surat-surat penting. Air banjir dengan cepat masuk melalui lubang pembuangan air di kamar mandi. Kami pasrah menyaksikan air yang masuk ke dalam rumah.

Perlahan namun pasti dari semata kaki sampai kurang lebih sepaha, air telah masuk ke dalam rumah. Akhirnya aku putuskan untuk keluar rumah untuk mengungsi ke rumah tetangga yang kebetulan rumahnya bertingkat.

Membawa satu tas berisi surat-surat penting, laptop dan kantong plastik berisi baju ganti. Di jalanan air sudah setingga pinggang orang dewasa. Tak mudah berjalan di banjir sambil membawa barang di tangan.

Detik demi detik, waktu terasa begitu lama berlalu. Mata ini tak henti-hentinya melongok keluar jendela untuk melihat apakah air banjir telah surut. Namun sepertinya semakin tinggi airnya.

Yang bisa dilakukan diam menunggu sambil tak henti berdzikir. Berharap air segera surut. Melihat dari kejauhan, jendela rumahku telah tergenang air. Sedih namun tak ada yang bisa dilakukan.

Bersabar dan berdoa agar air tak naik lagi. Was-was selalu, hati tak bisa tenang menyaksikan air banjir tak kunjung surut.

Baru kali ini sejak tinggal di perumahan ini air banjir melebihi 50 cm tingginya. Dan lebih dari 24 jam rumah kami tergenang air.

Perlahan air mulai surut, bersabar lagi menunggu sampai air banjir benar-benar surut. cukup lama. Saat air semata kaki barulah pulang ke rumah. Bersih-bersih menjadi kegiatan selanjutnya.

Memilih dan memilah barang yang masih bisa diselamatkan. Rak berisi buku-buku bacaan tak terselamatkan. Dengan berat hati buku-buku yang telah basah aku keluarkan untuk kemudian ada petugas kebersihan yang akan mengangkutnya.

Diperlukan fisik yang kuat dan sehat saat membersihkan rumah akibat bencana banjir. Berusaha ikhlas dengan takdir yang telah Allah gariskan. Membuang barang-barang yang tak bisa digunakan lagi, memanggil teknisi untuk membetulkan peralatan elektronik.

Bencana banjir menyisakan banyak duka. Namun sebaiknya menjadi salah satu cara untuk muhasabah diri. Semua karena campur tangan Allah agar umatNya lebih sabar dan ikhlas dalam menghadapinya.

rumahmediagrup/ she’scafajar