HIJRAH, INILAH AKU SEKARANG!

”Tinggalkan negerimu hai saudaraku,

agar kau  tahu begitu luasnya bumi Alloh,

alangkah agung ciptaanNya,

betapa beragam manusia.

Dalam perjalanan kau kan dicekam keterasingan,

Dihantui kesunyian.

Tetapi disitu kau kan rasa, betapa ia penyerta nan setia.

Dalam safarmu, ilmu membanjir selaut biru,

Pemahamanmu berpijar bagai ledakan bintang beribu-ribu,

Hidupmu tak henti membaru”

(Imam Asy-Syafi’i)

Kita tinggalkan bermusik, kita tinggalkan fashion yang membuka aurat, kita tinggalkan merokok, kita tinggalkan minum minuman keras, kita tinggalkan menonton video porno, lalu bagi yang masih berpacaran kita tinggalkan itu pacar yang belum halal. Ehm, apalagi ya? Dan sebenarnya masih banyak contoh hal-hal yang harus kita tinggalkan.  Lalu untuk siapa? Karena Alloh kita melakukannya. Inilah yang dinamakan hijrah.

“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Alloh kecuali Alloh akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik.” (HR. ahmad no 23074) Hijrah adalah pilihan kita untuk memperbaiki iman. Hijrah adalah bagian hidayah. Banyak sekali pengorbanan ketika hijrah. Kadang tak hanya materi yang harus dikorbankan, tapi juga korban perasaan, kehilangan keluarga dan sahabat. Maka benarlah syair diatas, ketika hijrah kita dalam keterasingan dan kesunyian dan hanya harapan bahwa hidayah akan terus melekatlah yang membuat kita mampu menghadapi godaan.

Dalam sebuah kajian, disebutkan bahwa para alim, sahabat, tabi’in dan juga rasul terus meminta hidayah.  Mengapa mereka minta hidayah? Apalagi kita dengan kadar keimanan yang masih dipertanyakan dan masih naik turun, justru harus kuat meminta hidayah! Mengapa minta hidayah walaupun sudah tidak pacaran, tidak minum miras, memelihara jenggot, berhijab lebar, dan misalnya sering ikut kajian? Karena belum tentu amalan kita menjamin akhir kita yang baik.

Apakah pernah kita menjamin amalan baik sekarang ini akan menjamin khusnul khatimah? Karena ga ada yang menjamin kita masuk surga kecuali Alloh. Minta hidayah agar Alloh memberikan ampunan dan keistiqomahan ketika kita mendapat ilmu yang benar sampai akhir hayat.

 Banyak contoh dalam sejarah, Alloh memberikan akhir yang buruk pada orang-orang yang amalannya bertabur iman sejak berhijrah. Seperti Bal’am bin Ba’ura, hidup di jaman Nabi Musa, orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Alloh tapi matinya murtad! Ada pula seorang muadzin yang diceritakan oleh Imam Qurthubi, ketika adzan naik ke tempat yang tinggi kemudian melihat wanita canti dan tergiur oleh cantiknya wanita kaum Nasrani. Kemudian turun dan menyatakan cintanya kepada wanita tersebut namun ditolak dengan alasan berbeda keyakinan. “Dengan cara apa agar bisa menikahi engkau?”, Tanya Mudzin tersebut. “Pindahlah ke agama Nasrani”, jawab wanita tersebut. Maka pindahlah Muadzin tersebut menjadi nasrani, sampai tibalah saat pernikahan justru meninggal dalam keadaan belum mencampuri wanita yang menjadikannya murtad.

Sebaliknya ada pula yang melakukan amalan penduduk neraka terus sepanjang hayatnya sampai amalan penduduk neraka ini tinggal sejengkal saja. Tapi catatan takdir yang mengakhirkannya dalam keadaan khusnul khatimah. Seperti Usairim bin Al Asyhal, seorang sahabat penghuni surga yang keningnya belum pernah dipakai untuk sujud. Justru beliau termasuk penghuni surga! Ma sya Alloh! Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena masuk Islamnya belum ada 24 jam. Setelah mengucapkan syahadat, kemudian beliau bertanya: “Salat?”. Lalu nabipun menjawab, “Belum waktunya salat. Ayo, berjuanglah bersama kami”. Dan dalam perjuangan tersebut Alloh takdirkan beliau meninggal dunia dalam peperangan.

Bagaimana contoh di sekeliling kita? Banyak sekali hal serupa seperti sejarah tersebut. Karena sejarah akan terus berulang dengan tujuan kita bisa meminimalisir kejadian yang buruk. Seperti kisah sahabatku yang berhijrah dengan secara instan meninggalkan amalan penghuni neraka, tapi apalah daya perjuangan hijrahnya tanpa doa meminta keistiqomahan. Sungguh sayang di sayang akhirnya sahabatku kembali ke dunia sebelum hijrah.

“Ibarat orang ketika menemukan kolam renang. Maka yang harus dilakukan adalah melakukan pemanasan sebelum berenang tak perlu langsung menyelam pada kolam yang dalam karena akan menyebabkan kita tenggelam. Pemanasan ini ibarat doa. Doa meminta keistiqomahan agar mampu menerapkan ilmu yang benar sampai akhir hayat.” Mari genggam hidayah ini jangan tertipu dengan amalan kebaikan kita karena belum tentu menjamin kita masuk surga.

Sumber:

rumahmediagrup/nurfitriagustin

sumber gambar: galeri rumah media grup