ASI menyembuhkan anakku

ASI menyembuhkan anakku

Malam itu tepat pukul 01.00 dini hari. Tak terasa diriku terbangun dari tidur yang lelap. Malam itu badanku meraba hawa dingin yang menusuk-nusuk sampai tulang. Kup noertahankan memakai selimut tebal. Tak terasa bibir dan badanku bergetar menahan dingin ini. Kepala seakan menahan beban berat. Tanganku meraih suami yg sedang tidur terlelap. Hanya satu sentuhan suami terbangun dalam mimpi indahnya. Diriku duduk sambil menggigil kedinginan.

” Ya Allah… Badanmu kok panas sekali dek”.

“Di…di…Ngin… Bi”. Abi nanti jangan masuk kerja dulu ya. Ummi lagi g enak badan”.

” Iya… iya… Nanti Abi gak masuk kerja”.

” Abi… Pandangan mama kok berat banget.

Tubuhku melemas, serasa semua tulang tidak bisa menopang berat tubuh ini. Tanganku yang dirangkul suami tiba-tiba terlepas. Mataku tertutup tak sadarkan diri.

Dibangunkan suami tiba-tiba aroma kayu putih sudah membasahi hidung untuk bisa siuman kembali. Dan sadar akan aku hidup kembali.

” Ummi masih kuat? Kita ke rumah sakit sekarang”.

” In sha Allah Bi kuat”. Tubuhku terasa berat berjalan. Masih dengan rasa dingin yang semakin menjadi-jadi. Baju double, masih pakai jaket tebal, dan masih memakai selimut tebal aku berjalan sambil menaruh beban tubuh pada dinding rumah untuk bisa berjalan sampai depan rumah. Untuk segera dibonceng sang suami naik motor. Tetapi tubuhku masih lemas. Inisiatif suami ditampilkannya seutas kain potong untuk diikatkan di pinggang agar diriku tak terjatuh. Perjalanan dari rumah ke RS 15 menit cukup jauh. Sesekali suami memanggilku untuk memastikan aku masih sadar.

Di rumah masih ada dua anak kecil yang tertidur pulas tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Panik tapi cukup tenang suamiku bertindak. Bapak mertua yg cukup dekat jaraknya dengan rumahku bisa mengatasi kedua anakku.

Sesampai depan UGD Rumah Sakit diriku tubuhku semakin melemas. Mataku semakin meredup melihat cahaya lampu. Terlihat hanya sebatas bayangan hitam berbaju putih yang menanyaiku bertubi-tubi. Alat bantu oksigen yang masuk membuat diriku lebih bisa bernafas. Sedikit demi sedikit pandangan mulai kembali. Saat itu yang aku rasakan  adalah perutku meremas kencang dan badanku masih merasa sangat dingin.

Terdengar suara suami dan seorang dokter mejelaskan gejala yang saya alami. Sakit ini tiba-tiba menyerang tanpa memberikan gejala apapun. Tetapi memang 2 hari yang lalu diriku mengalmi diare yg berlebihan. Tetapi itu tidak menutup kemungkinan diriku baik-baik saja. Ternyata itu membuat diriku tidak baik-baik saja. Panas badan mencapai 39.6°C dan tekanan darah 150/90. Pantas saja kepala ini sampai seperti menahan beban 10kg berat sekali.

Dokter menyarankan untuk rawat inap. Karena melihat kondisiku yang tidak memungkinkan rawat jalan. Tetapi apa yang aku pikirkan? Anakku yang masih umur 6 bulan masih memerlukan ASI ku.

Yang aku pikirkan hanya bagaimana ASI ini bisa diminum si kecil. Karena teringat pesan dan diagnosa dokter saat anak ke-dua masuk rumah sakit selama 7 hari 6 bulan lalu.

Diagnosa dokter dari hasil MRI otak si kecil mengalami pengerutan otak dikarenakan kejang yg lumayan lama. Hampir 30 menit saat dinyatakan dehidrasi berlebih karena umur 3hari sudah mengalami diare yang membuat berat badannya turut drastis sampai 1kg. Dokter menyarankan untuk tetap minum ASI selama proses penyembuhan. Karena kandungan ASI memberikan teraphy untuk bisa berkembang kembali bagian otak yang mengkerut. Selain itu asupan Obat untuk otak juga diberikan. Sejenis obat yang membantu memulihkan kondisi normal otak si kecil. Dalam waktu dekat obat itu harus diminum habis sampai benar-benar pulih dan perkembangan anak normal. Obat itu bernama tulisan “Mersi”.

Saat ini si kecil sudah berusia 6 bulan dan kekhawatiran itu tetap membayangi pikiranku. Karena hanya kandungan ASI yang membuat dia membantu perkembangan tumbuh kembangnya. Otak ku senantiasa berfikir memutar jalan keluar. Di rumah masih ada alat pumping untuk pompa

Sebelum asi aku berikan masalah lagi yang harus aku hadapi adalah obat yang sudah masuk dalam tubuhku dalam penanganan pertama tidak aman untuk ibu menyusui. Antibiotik yang diberikan masih tergolong keras untuk si kecil. Dengan terpaksa asi tidak bisa diberikan. Pertama kalinya susu formula diberikan si kecil kekhawatiran ini masih menyelimuti. Sedikit demi sedikit susu diberikan dengan takaran bertahap. Agar tubuhnya mulai mengenal asupan susu yg baru masuk. Beruntung dia sudah MPASI jadi bisa mengurangi rasa lapar ASI untuk beberapa hari selama aku di rawat.

Diagnosa dokter sudah terbantahkan dengan perkembangan anakku yang jauh lebih cepat dengan anak-anak yang lain. Si kecil sangat semangat sekali untuk tumbuh kembangnya. Dalam waktu kurun 6 bulan dia sudah bisa duduk sendiri. Mungkin hal ini sepele bagi ibu yang lain. Tetapi melihat dia bertumbuh kembang dengan cepat itu sungguh luar biasa bagiku seorang ibu.

Merujuk penelitian di Ghana, 16% kematian bayi baru lahir bisa dicegah bila bayi disusui pada hari pertama kelahiran. The World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) memperkirakan 1 juta bayi dapat diselamatkan setiap tahunnya bila diberikan ASI pada 1 jam pertama kelahiran, kemudian dilanjutkan ASI eksklusif sampai dengan enam bulan[5]. Jurnal internasional menyebutkan, manfaat lain ASI dalam menurunkan angka kesakitan diantaranya menurunkan infeksi saluran pencernaan lebih rendah hingga 50%. Penurunan ini lebih berarti pada bayi yang menerima ASI ekslusif hingga 6 bulan dibanding yang hanya 3 bulan. Sedangkan jika dibandingkan dengan susu formula pengganti ASI, bayi yang diberikan ASI ekslusif memiliki infeksi telinga 13% lebih rendah, 17% lebih jarang menderita influenza, dan 29% lebih jarang untuk muntah[6]. Sementara pemberian susu formula pengganti ASI akan meningkatkan risiko alergi 30% dan penyakit asma sebesar 25%.

Sumber https://www.kompasiana.com/izzatunnisa/551742f9813311cd669de3d3/mendulang-manfaat-asi-bagi-ibu-dan-bayi-analisis-qs-al–baqarah-233-dan-qs-luqman-14

Jika ingat si kecil di ICU dulu dengan banyaknya selang yang menempel di badan dan masuk dalam incubator mungkin tidak akan tahu betapa hebatnya dia sekarang. Dalam bayangan pandanganku terlihat jelas saat perawat memanggil namaku yang sedang duduk di ruang tunggu. Aku masuk dalam ruangan ICU si kecil dan saat itu juga badannya yang kuning Langsat mulus dan lembut berubah dengan hitam dan beberapa otot di tubuhnya terlihat menegang. Si kecil nafasnya tersengal-sengal aku sesekali melapnya cairan yang keluar dari mulut dengan tissue dan tak terasa air mata ini tak kuasa aku tahan jatuh bagaikan rintik hujan yang tak kunjung reda. Terus menetes sampai tubuhku melemas. Si kecil tak sadarkan diri. Dia harus disuntik dengan cairan ……. Agar dirinya tetap tidur untuk melemaskan otot-otot yg menegang. Si kecil ditidurkan selama 3 hari dengan keadaan puasa. Karena ketika seorang bayi kejang maka dalam lambungnya masih terisi cairan sisa kejang. Harus dikeluarkan dulu dengan sonde. Cara sonde inilah untuk bisa memaksimalkan kerja lambung agar berfungsi normal kembali. Memasukan Asi lewat selang yang sudah terhubung langsung ke lambung. Begitulah tutur perawat saat setelah kejang mereda.

Tapi saat itu memang si kecil belum sadarkan diri. Seorang ibu yang tak kunjung menahan isak tangis ketika anak sakit harus menunggu diluar. Tak bisa sembarangan menemani setiap waktu, setiap menit hingga setiap detiknya. Hanya berbekal pasrah.

” Ummi disini sayang… Di luar menunggu dirimu akan sehat kembali”, gumamku dalam hati.

Tapi sekarang dia sudah sehat. Semangat untuk sembuhnya tinggi. ASI dari sang pencipta sungguh luar biasa. ASI menyembuhkan anakku. Sungguh benar firman Allah SWT

“Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang . Seseorang tidak akan dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun berkewajiban seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan keduanya, maka tidak ada dosa pada keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu pada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah: 233)

Sekarang aku masih terbaring lemas menunggu hasil urine untuk di teliti sakit apa yang sedang aku alami. Rasa rinduku menjadi candu ketika melihat foto yg terpampang dalam layar handphone ku. Tunggu mama sayang…

Mama akan segera pulang untuk ASI-mu.

rumahmediagrup/novylestari

2 comments

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.