Kuku dan Pernikahan

Hanya karena kuku, rencana pernikahan antara Baim dan Dwi gatot, alias gagal total.

“Kukuku kenapa?” Dwi memperhatikan sepuluh jari tangannya begitu sampai di kamar kos. Mahasiswi semester akhir itu tidak menyangka bahwa hubungannya dengan Baim gagal berlanjut ke pelaminan. Padahal, mereka berdua telah menetapkan tanggal pertunangan.

Hanya karena persoalan sepele. Kuku Dwi.

***

“Emang kukuku kenapa sih, Mas?” Tanpa salam bahkan say hello, ia langsung mencecar Baim dengan peristiwa yang menurutnya tak lazim terjadi di meja makan tadi siang. Tawa lelaki di seberang telepon membahana. Menambah keheranan di sanubari Dwi.

“Aku serius! Kukuku kan bersih dan cantik. Merah itu karena pewarna alami. Sah kok kalau dipakai salat.” Dwi membela diri.

Hening. Baim sedang berusaha menghentikan tawa. Perutnya terasa sakit sekali.

Baim sendiri awalnya tidak mengerti kenapa ibu tidak merestuinya untuk menikahi Dwi. Ia yang awalnya menyetujui kemudian berubah pikiran setelah gadis pujaan hatinya itu hanya tersenyum dan mengangguk saat menjawab pertanyaan ibu, “Dwi, kamu memelihara kuku?”

***

“Mamih pernah dengar kajian ustaz kondang di YouTube. Katanya kalau mau lihat saleh atau tidaknya seorang perempuan, bisa dilihat dari kukunya. Kalau kukunya panjang, berarti orangnya jorok. Coba kamu bayangkan gimana dia beristinja dengan kuku sepanjang itu.” Baim bergidik jijik. Sejurus kemudian ia manggut-manggut lalu tersenyum pertanda ia memaklumi alasan ibunya.

***

“Silakan pilih cincin untuk pertunangan kita.” Baim mengerling nakal. Mereka baru saja tiba di salah satu pusat perbelanjaan khusus perhiasan.

“Apaan sih kamu, Mas. Aku nggak mau ya, nikah tanpa restu orang tua. Nggak berkah. Bisa-bisa hidup aku jadi menderita sama kamu. Ogah, ah.”

“Kamu menyerah?” Lelaki itu tersenyum kecil. Lesung pipi terlihat jelas kini. Menambah ketampanan. Sungguh, wanita mana yang tidak akan jatuh hati melihatnya.

Dwi diam seribu bahasa. Butiran bening di kedua ujung mata seolah mewakili isi hatinya. Perasaan cintanya pada Baim harus segera dikubur dalam-dalam. Ia bertekad untuk itu.

“Kalau Dwi nggak mau memilih, biar Mamih saja.”

Seseorang yang baru ia temui seminggu yang lalu memegang hangat lengan kanannya. Gadis itu tersenyum sungkan lalu menoleh ke arah Baim dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Gimana kalau yang ini?” Bu Ratmi meraih jemari Dwi dan memasangkan cincin berlian itu ke jari manis calon menantunya.

“Maaf, Ibu. Sepertinya Mas Baim harus menjelaskan tentang ini semua.”

Pria berdasi hitam itu tertawa lepas. Dwi benar-benar perempuan desa yang polos.

“Coba perhatikan kukumu, Sayang!”
Dwi tidak dihiraukan panggilan asing di telinganya itu. Dia tahu, Baim pasti sedang menggodanya.

Dwi mengamati kukunya. Kemarin, hari Jumat, ia memotong seluruh kuku jari tangannya. Kata ustaz, itu sunnah. Biasanya ia hanya memotong bagian kiri saja. Kelima kuku di jari kanan ia biarkan tetap panjang. Sesekali diberi pewarna agar terlihat bagus. Dwi juga baru tahu kemarin dari teman kajian di Komunitas Hijrah kalau ternyata kuku tidak boleh dibiarkan panjang lebih dari 40 hari.

***

“Dwi itu insya Allah perempuan salihah kok, Mih. Dia rutin ikut kajian di kampus. Mungkin, ilmu tentang perkukuan belum ia terima. Doakan ya, Mih. Menantu Mamih sedang berproses menuju wanita saleh yang sesuai dengan tuntunan Alquran dan Sunnah.”

Baim mencium punggung tangan perempuan yang sangat dicintainya itu, lalu mengerling penuh arti lalu berkata, “Dwi dari dulu sudah beristinja dengan baik kok, Mih.”

Ibu dan anak tersebut serempak tertawa.

-Tamat-


rumahmediagrup/hasnahsiregar

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.