Praktik Kupas Bawang untuk Mengenali Inner Child

Praktik Kupas Bawang untuk Mengenali Inner Child

Reaksi kita saat dewasa pada orang lain (pada orangtua, saudara kandung, suami, anak, saudara ipar, sahabat, tetangga, dan lain-lain) semua berakar dari apa yang kita dengar, lihat dan alami sewaktu kita kecil. Reaksi ini muncul dari anak dalam diri kita, atau jiwa masa kecil kita yang bernama inner child (IC).

Kita semua punya IC yang membuat kita bereaksi kuat terhadap sesuatu, tanpa sepenuhnya menyadari “kenapa?”.

Inner child adalah sisi kepribadian kita yang masih bereaksi dan terasa seperti anak kecil. (On Marissa’s Mind : Menyembuhkan Luka Masa Kecil. http://youtu.be/-e_DWK0bv3w. Diakses 24 Oktober 2019).

Dulu, aku belum memahami mengapa sangat mudah terpicu amarah saat melihat anakku dalam keadaan bajunya basah. Meski hanya basah sedikit saja ketika mencuci tangan atau kaki.

Apalagi dalam keadaan basah kuyup seperti yang terlihat pada foto Jehan di bawah ini. Sungguh … dua tahun lalu, aku pernah sangat membencinya. Padahal ia adalah putri keduaku yang sangat kucinta.

Setelah mengenal dan belajar Mindfulness Parenting (MP) pada Agustus tahun 2016 dari Mentorku, Pak Supri Yatno. Aku belajar sebuah ilmu pengasuhan yang benar-benar baru kukenal.

Secara perlahan namun pasti, aku belajar mengasuh anak dengan mengasuh diriku terlebih dahulu. Sebab tagline MP “Mengasuh anak adalah mengasuh diri orangtua terlebih dulu.”

Aku jadi belajar mengasuh IC-ku yang banyak mengalami trauma dalam hidup.

Melalui MP aku berusaha mengenali penyebab emosi yang berlebih dan sangat mudah terpicu (bahagia, sedih, marah, kecewa, dendam, dan lain-lain). Sampai kemudian aku mengenal istilah Praktik Kupas Bawang dari Mentorku.

Praktik kupas bawang ini dalam arti kiasan. Bukan mengupas bawang merah atau bawang putih bahkan bawang bombai dalam arti harafiah.

Tetapi mengupas lapisan emosi demi lapisan emosi. Dalam hal ini, emosi kemarahanlah yang paling terlihat. Aku pernah sangat marah pada Jehan yang saat itu masih berusia tiga tahun. Sebab ia hobi sekali main air dan basah-basahan.

Aku pernah marah besar saat melihat Jehan basah kuyup. Karena mengingatkanku pada beberapa kejadian traumatis dalam hidupku. Kejadian-kejadian yang sebenarnya aku sendiri masih menebak-nebaknya.

Ada apa gerangan yang terjadi di masa kecilku dulu yang mirip Jehan sekarang? Kok, aku bisa semarah ini pada Jehan, ya?

Aku mencoba mengingat-ingat kejadian di masa lalu dan masa kecilku. Dengan menyediakan waktu selama 30 menit sebelum atau sesudah subuh.

Lalu aku duduk bersandar di kursi dan memejamkan mata. Aku menarik napas panjang dan dalam. Kemudian menghembuskannya panjang dan dalam juga.

Aku merasakan satu per satu sensasi stres dimulai dari atas kepala, lalu turun ke pelipis, alis mata, rahang, bahu, punggung, bokong, paha, betis hingga telapak kaki. Terasa tegang di beberapa titik tubuh. Aku merasakan apa yang melintas dipikiran. Memunculkan kesedihan mendalam yang membuatku menangis tergugu.

Kelebat pikiranku menemukan kejadian saat usiaku masih 26 tahun (2006) pernah mengalami kejadian yang membuat trauma ketika hujan lebat.

Sewaktu aku masih indekos di kota Padang. Ada seorang teman indekos yang berbeda kamar, lari tunggang langgang ke kamarku. Di saat hujan lebat bak air dicurahkan dari langit, pada pukul 3 dini hari. Ia hampir saja diperkosa oleh orang tak dikenal yang mencungkil jendela kamarnya. Kata kunci “hujan lebat” dan “basah kuyup” begitu memicuku.

Lalu aku teringat satu lagi kejadian sewaktu hamil Tyaga, anak pertamaku. Aku mendapati anak tetangga depan rumah sedang berdua di kamar mandi. Tak ada seorangpun yang mengurusnya. Kedua orangtuanya bekerja dan pembantu rumah tangganya sedang sibuk menyetrika pakaian.

Anak pertama dari tetanggaku itu, yang berusia 3,5 tahun, menyemprot adiknya yang masih berusia satu tahun sampai basah kuyup. Karena memang si kakak belum paham sepenuhnya kalau perbuatan itu berbahaya untuk si adik. Sementara si adik yang belum bisa menghindar.

Seketika rasa marahku membuncah mendapati keadaan yang miris seperti yang aku lihat kala itu. Apa jadinya jika aku tidak datang melihat dan si adik tak sempat ada yang menolong.

Lagi-lagi, “basah kuyup” menjadi kata yang memicu kemarahanku yang meledak saat melihat Jehan air di kamar mandi sampai basah kuyup. Aku marah pada diri sendiri jika sampai membiarkan Jehan basah kuyup tak terurus.

Dari kejadian di atas terus di kupas lagi ke lapisan berikutnya. Ternyata aku menemukan trauma Inner child (masa kecil) sewaktu aku masih berusia 9 tahun (1989).

Ribka kecil pernah terjebak banjir sampai batas dada. Dalam keadaan panik, aku berjuang sendirian menepi sepulang dari tempat ibadah yang berjarak 3 km dari rumah.

Dengan memegang gorengan di tangan yang baru saja kubeli. Semua begitu nyata dalam ingatanku. Aku menangis sesegukan seorang diri. Trauma itu terekam jelas saat aku basah kuyup dan menggigil. Putus asa. Takut.

Aku, anak perempuan kecil yang baru duduk di kelas 3 SD seakan tak mampu berbuat apa-apa. Sampai akhirnya, atas pertolongan Tuhan, aku ditolong oleh pasangan suami istri.

Aku diselamatkan oleh orang yang tak kukenal. Dimandikan. Digantikan baju milik anaknya. Lalu diantar pulang dengan berbekal alamat yang kusebutkan.

Jujur, memang aku begitu trauma atas kejadian 30 tahun silam. Kejadian yang tanpa kusadari telah membawa efek negatif dalam pengasuhan kepada kedua anakku.

Jadi ternyata kejadian-kejadian inilah yang menjadi akar penyebab kemarahanku yang seketika bisa meledak saat melihat anakku basah kuyup.

Ditambah gangguan mood swing karena aku mengidap bipolar, benar-benar memicu ledakan amarahku yang pernah tidak bisa terkendali.

Dulu, jika melihat keadaan Jehan seperti dalam foto, aku berteriak, menarik kasar tangan Jehan, membuka baju dengan paksa, ada dorongan kuat ingin mencubit dan sekelebat pikiran ingin memukul Jehan dengan shower kamar mandi.

Entah setan apa yang merasuki aku saat itu?

Ketiga kejadian di atas hanya sebagian kecil contoh akar penyebab ledakan emosiku. Masih banyak kejadian masa lalu dihidupku yang akhirnya terungkap bisa memicu kejadian sepele di masa kini.

Dengan belajar MP, aku juga jadi belajar ACCEPTANCE (Penerimaan). Aku belajar menerima kejadian yang traumatis itu satu per satu.

Aku belajar menerima dengan kesadaran penuh bahwa kejadian anakku basah kuyup di masa sekarang, akibat main air di kamar mandi adalah berbeda dengan kejadian aku basah kuyup di masa lalu akibat terjebak banjir sebatas dada.

Keadaan anakku sekarang tidaklah sama dengan keadaanku 30 tahun lalu. Otak ini aku ajak untuk bisa membedakan dua kejadian yang memang berbeda.

Kejadian yang kualami di masa lalu merupakan kenangan masa lalu, sebaiknya diterima, meski itu traumatis.

Kejadian di masa sekarang adalah kenyataan yang sebaiknya diterima dengan penuh kesadaran.

Kejadian masa lalu jangan sampai membelenggu kebahagiaan mengasuh kedua anakku.

Aku berjuang melepaskan belenggu trauma itu. Agar bisa berbahagia melihat Jehan yang nyatanya sangat bahagia bermain air sampai basah kuyup.

Aku belajar untuk terkendali agar tidak terpicu emosi. Jadi marah saat teringat trauma masa lalu yang kejadiannya mirip dengan masa sekarang yang sedang kujalani.

Pada kenyataannya mengasuh kedua anakku memang pasti membangkitkan trauma-trauma masa laluku. Karena apa yang sudah terekam jelas di otakku tak akan mungkin terhapus oleh waktu dan apapun.

Namun dengan MP, aku belajar mengatur ulang pikiran yang tidak sadar tersebut. Agar bisa diajak berpikir dalam keadaan sadar (emosi positif). Tidak atomatis memunculkan emosi negatif.

Sumber gambar: dokumentasi pribadi

Sokaraja, 1 November 2019.

rumahmediagrup/ribkaimari

7 comments

    1. Iya Mbak Fifi … betul sekali. Menganggap wajar, karena memang ego dirinya tinggi jadi tidak mau belajar mengendalikan emosi diri sendiri. Ada juga yang memang belum sadar bahwa marah ke anak itu bisa melukai hati anak seumur hidup.

      Padahal, kita yang sudah sadar, bisa nyeri hati saat diri ini marah tak terkendali ke anak. Pun ketika melihat anak lain dimarahi orangtuanya.

      Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.