Wajah dalam Bayangan

Wajah dalam Bayangan

Aku memandangi dua lelakiku dengan perasaan buncah. Wajah tenang mereka begitu meneduhkan. Sirna sudah kelelahan yang menggelayutiku setelah seharian berjibaku dengan tugas baru sebagai seorang ibu.

Kudekati mereka dengan langkah hati-hati supaya tidak menimbulkan suara. Tidak mau membangunkan malaikat kecil yang tangisnya bisa memekakkan seisi rumah. Malam ini–untuk pertama kalinya–suamiku berhasil membuatnya terlelap dalam pelukan yang hangat.

Kudaratkan kecupan di dahi mungilnya. Halus dan wangi khas bayi. Sabit di bibirku pun terkembang, bahagia. Sampai-sampai kurasakan cairan hangat di sudut mata. Mungkin ini yang dinamakan air mata bahagia.

Mataku tak hentinya mengagumi ciptaan-Nya yang ada di depan mata. Setelah sembilan bulan menanti dalam harap dan cemas, akhirnya kami dipertemukan dalam momen yang tak akan kulupakan sepanjang masa.

Rasa kantuk pun menghampiri. Kubaringkan tubuh di samping permata hati kami. Mengapitnya untuk memberikan kehangatan dan kenyamanan.

“Sayang.” Sebuah suara dan belaian di pipi membangunkanku.

Mataku mengerjap, berusaha memulihkan kesadaran. Tubuh yang dijalari rasa lelah yang teramat pun seketika terpaku begitu mendapati pemandangan serba putih di sekelilingku.

Jadi barusan aku tertidur dan bermimpi setelah semalaman tidak dapat memejamkan mata?

Kesadaranku sepenuhnya pulih saat tangis bayi terdengar memenuhi ruangan. Mataku terus mencari sumber suara. Nihil. Aku tak dapat menemukannya.

Kupandangi laki-laki di hadapanku dengan penuh tanda tanya. Lalu kuekori tatapannya yang berhenti pada tirai di sebelah kanan, yang membatasi tempat tidurku dengan tempat tidur lain dalam ruangan. Rupanya tangisan itu berasal dari sana.

Seketika air mataku tumpah mengingat peristiwa yang terjadi semalam. Dimana rasa mulas hebat yang kurasakan sejak sore kemarin berakhir pada jam sembilan malam.

“Di mana bayi kita?” tanyaku. Laki-laki itu mengelus kemudian mengecup kepalaku lama. Kurasakan hangat yang menetes dari sudut matanya.

“Sepulang dari rumah sakit semalam, jenazahnya langsung diurus dan pagi tadi sudah dimakamkan.”

Ada gemuruh aneh yang kurasakan dalam dada. Perlahan gemuruh itu berganti desir yang membuat tubuhku berguncang dengan isak tangis yang tertahan.

“Sabar, Sayang. Kita harus ikhlas.” Belaian lembutnya tak pergi dari kepalaku.

Aku tergugu lama, menumpahkan semua sesak yang mangganjal dalam dada.

“Insya Allah kita akan berkumpul lagi di surga-Nya. Tinggal kita persiapkan bekal untuk ke sana.”

Tangannya turun ke pipiku, menghapus cairan itu dengan tulus.

“Maaf,” ucapku lirih.

“Ini bukan salahmu, Sayang. Ini adalah ketetapan-Nya. Ujian ini juga merupakan salah satu tanda sayang-Nya terhadap kita. Allah menguji untuk menaikkan derajat iman kita, bukan?” bisiknya.

Aku mengangguk. Betapa berat dan mahalnya ujian yang kami jalani ini. Teringat akan berapa banyak air mata dan biaya yang kami keluarkan untuk menjalani program hamil selama ini. Setelah Ia berikan kabar baik, ternyata dalam hitungan jam diambil-Nya kembali. Mungkin Allah memang benar-benar menyayangi kami.

“Tersenyumlah, Bidadariku, karena kita sudah punya tabungan di surga,” bisiknya lagi yang membuat air mataku akhirnya berhenti.

🌸🌸🌸

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214878710511380&id=1535703664

rumahmediagrup/nikniknuraeni

11 comments

    1. Mirip, ya? 🀭

      Boleh dikatakan ini kelanjutan ceritanya sebagai penyempurnaan ending yang terkesan terburu-buru. πŸ˜…

      Suka

Tinggalkan Balasan ke Niknik Nuraeni Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.