Onomatope

Pernah dengar istilah onomatope?
Kalau saya tulis Kring! Apa yang terlintas di pikiranmu?

Onomatopea atau onomatope adalah kata tiruan bunyi, misal “kokok” merupakan tiruan bunyi ayam (KBBI). Istilah onomatope sendiri berasal dari Yunani — ονοματοποιία — yang berarti kata atau sekelompok kata yang menirukan bunyi-bunyi dari sumber yang digambarkannya.

Mungkin kita sering menjumpai penulis di media sosial seperti Facebook, Instagram, Wattpad, dan lain sebagainya menggunakan onomatope. Sebagian besar orang beralasan menggunakan onomatope terutama pada pembuka cerita adalah untuk menimbulkan kesan “keren, cetar, menggelegar, wah”. Padahal opening seperti itu sudah dipakai ribuan orang dan tidak spesial.

Penggunaan onomatope dalam suatu karya sangat tidak dianjurkan karena anggapan yang ditangkap pembaca akan relatif berbeda-beda dan berpotensi menjerumuskan, selain itu penulis dianggap aneh oleh pembaca.

Seperti contoh yang saya tulis di awal, jika kita mendengar bunyi Kring! Apakah yang terbersit di benak kita? Mungkin ada yang bilang bunyi bel sepeda, bunyi telepon, bunyi alarm, bunyi bel resepsionis. Satu suara banyak arti. Maka daripada itu, setelah onomatope wajib diikuti dengan narasi pendukungnya.

Contoh: “Kring! Bunyi notifikasi gawai Yuni ketika sebuah pesan dari Rio masuk.”

Apakah onomatope tidak boleh digunakan di dalm novel atau cerita? Boleh hanya tidak dianjurkan. Sudah lumayan banyak onomatope masuk ke dalam KKBI contohnya Kring yang telah dibahas sebelumnya. Kring dalam KBBI berarti tiruan bunyi bel (pada sepeda, telepon, dan sebagainya). Terkadang onomatope perlu tetapi jangan mendominasi (shireishou.com).

Dee Lestari dalam blognya menulis:
We’re writers, but don’t write’em all down. Trust our readers’ ability to imagine things. And give them some inspiring convincing description, bukan sekadar deskripsi harfiah karena malas mikir. A person laugh, okay, but we don’t need to write hahaha.” (shireishou.com)

Lantas bagaimana cara menunjukkan atau menggambarkan suatu bunyi? Pergunakan showing. Showing atau mendeskripsikan dengan narasi akan membawa pembaca ikut serta ke dalam cerita yang kita buat. Pertajam showing, tunjukkan bunyi dengan jabaran kata dan diksi yang kuat.

*Contoh dengan onomatope:
Kring! Hani menelepon lagi. Aku tak ingin mengangkatnya.

*Contoh dengan showing:
Gawaiku menyuarakan bunyi seperti bel yang bergemerincing. Tampak nama Hani di layar. Ia telah meneleponku lima kali hari ini. Namun, aku tak ingin mengangkatnya.

Sudah terasa bedanya?

Semoga tulisan ini dapat membantu teman-teman dalam memahami tentang onomatope.

(Asri SN)

***
Sumber:
Shireishou. 2019. Onomatope Adalah Efek Suara Pada Novel. https://shireishou.com/onomatope-adalah-efek-suara-pada-novel/. Diakses 24 November 2019