Stop Kekerasan pada Anak

Stop Kekerasan pada Anak

Oleh : Ribka ImaRi

Sore tadi, Manager Area-ku di NuBar Rumah Media, Mbak Emmy, mengirimkan pesan ke grup whatsapp. Isinya tentang ucapan, “Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia. Mari kita jaga kesehatan mental sebaik-baiknya. Dimulai dari diri sendiri. Dimulai dari saat ini.”

Aku bersyukur bisa hidup di zaman yang modern seperti sekarang ini. Karena bisa mendapatkan berbagai macam informasi dengan mudahnya dari smartphone.

Salah satunya tentang informasi kesehatan mental yang beberapa tahun belakangan ini mulai menjadi awareness masyarakat dunia, termasuk masyarakat Indonesia.

Bicara mengenai kesehatan mental, rasanya tak perlu jauh-jauh mencari kebenaran mengenai isi quote pada gambar dibawah ini, yaitu “efek kekerasan pada anak bisa berlanjut hingga dewasa. Salah satu dampaknya adalah beresiko mengalami gangguan kesehatan yang lebih tinggi fisik, baik secara psikis maupun fisik, pada saat mereka tumbuh dewasa.”

Namun demikian, hal ini dapat dikuatkan oleh pendapat para ahli kesehatan, terutama kesehatan jiwa. Bahwa dampak kekerasan terhadap anak bisa berkepanjangan. Sehingga tidak mengherankan kalau ada sangat banyak anak korban kekerasan dan pengabaian yang tidak bisa menikmati masa kanak-kanaknya, apalagi tumbuh dan berkembang melanjutkan hidup sebagai orang dewasa yang normal. Trauma kekerasan adalah salah satu faktor risiko dari gangguan kecemasan dan depresi kronis. (Samiadi, Lika Aprillia. 2017. Kenali Dampak Trauma Fisik dan Mental Akibat Kekerasan Terhadap Anak. https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/dampak-kekerasan-terhadap-anak/. 10 Oktober 2019).

Sungguh, fakta tersebut di atas adalah benar adanya. Karena sebagai penyintas depresi dan bipolar, aku pernah mengalami luka pengabaian dan kekerasan verbal dari kedua orangtua.

Secara fakta, aku memang mengalami gangguan depresi kronis yang seingatku sudah aku idap sejak masih Sekolah Dasar. Dengan menjadi anak yang tidak percaya diri, penakut, minderan dan hampir selalu murung. Lalu semasa masih duduk di bangku SMP, aku sudah mempunyai pikiran yang tak lazim untuk anak seusia itu di tahun 90-an. Berupa dorongan kuat untuk bunuh diri akibat sebuah kalimat “lu bukan anak gua”. Seumur hidup membuatku bertanya-tanya seberapa berartinya aku bagi kedua orangtuaku, terutama bapakku? Apa benar aku ini bukan anak beliau? Pertanyaan ini terus berkecamuk menghadirkan depresi kronis sampai aku berusia 38 tahun di 2018 lalu.

Tak berhenti sampai di gangguan psikis, ketika aku sudah memasuki fase akil baliqh dan mendapatkan haid pertamaku, di situlah penderitaan fisik tak tertahankan kualami selama belasan bahkan puluhan tahun. Selama 17 tahun lamanya aku menderita nyeri haid hebat akibat kista endometriosis. Dimulai sejak haid pertama di usia 14 tahun. Baru bisa sembuh pada usia 31 tahun saat bisa hamil anak pertama. Allah Maha Baik, akhirnya aku bisa benar-benar sembuh di Desember 2018 saat usiaku sudah 38 tahun bisa haid tanpa takut merasa nyeri.

Nyeri haid atau dismenore adalah nyeri atau kram di perut bagian bawah, yang muncul sebelum atau sewaktu menstruasi. Pada sebagian wanita, dismenore dapat bersifat ringan, namun pada sebagian lain, dismenore bisa berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. (Willy, dr. Tjin. 2019. Pengertian Dismenore. https://www.alodokter.com/nyeri-haid. Diakses 10 Oktober 2019).

Kalau kuingat-ingat luka batin masa kecilku yang memang penyebab dismenore yang berkembang menjadi penyakit kronis berupa kista endometriosis. Darah yang harusnya dikeluarkan malah kembali ke rahim, melewati tuba fallopi, dan akhirnya masuk lagi ke ovarium. Semakin banyak aliran darah yang masuk, maka semakin mungkin endometrioma terbentuk dan membesar. Lama-kelamaan kista cokelat ini akan semakin besar dan bisa pecah. (Uphati, dr. Damar. 2019. Sering Nyeri Saat Haid? Hati-hati, Bisa Jadi Kista Endometriosis. hellosehat.com. https://hellosehat.com/pusat-kesehatan/nyeri-kronis/kista-endometriosis-adalah. Diakses 10 Oktober 2019).

Alhamdulillah Allah Maha Baik, penyakit psikisku berupa depresi dan bipolar selama 38 tahun dan penyakit fisik berupa kista endometriosis selama 24 tahun akhirnya bisa sembuh total. Dengan pertolongan Allah dan Mindfulness Parenting aku belajar menyembuhkan luka batin selama puluhan tahun. Sampai akhirnya Allah membebaskan aku dari belenggu penyakit psikis dan fisik di tahun 2019. Saat usiaku 39 tahun aku benar-benar sudah sangat membaik. Aku yakin sudah sembuh. Ketika aku sudah bisa memaafkan kedua orangtuaku tanpa mereka meminta maaf lebih dulu. Ketika aku sudah bisa tidak lagi meledak-ledak di depan kedua anakku.

Ternyata dulu ledakan itu berasal dari tumpukan luka batin yang terpicu oleh orangtua, suami, saudara, ipar dan tetangga. Akar pemicunya berasal dari pola asuh orangtua dan lingkungan saat aku kecil. Alhamdulillah setelah aku bisa menerima dan melepaskan semua akar pemicunya. Jadi sekarang sudah bisa kembali sabar membersamai anak. Seperti sebelum tahun 2016 saat depresi dan bipolarku luar biasa terpicu setiap saat setiap detik.

Dengan fakta-fakta diatas, yang nyata benar sudah terjadi pada diriku ini, kiranya menjadi pembelajaran buat para orangtua zaman sekarang untuk berjuang sepenuh hati demi STOP kekerasan pada anak. Aku berjuang sembuh dari depresi dan bipolar hanya demi memutus rantai kekerasan yang pernah kualami. Cukup sampai di aku saja. Anak-anakku tak boleh mengalaminya. Anak-anak Indonesia harus mempunyai masa depan yang cerah tanpa gangguan penyakit psikis dan fisik.

Stop kekerasan pada Anak!
Salam sehat jiwa dan raga!

-Ribka ImaRi-

Penyintas Depresi dan Bipolar
Sokaraja, 10 Oktober 2019.

Di bawah ini tulisan dari ahli yang berkompeten (psikiater) yang menjelaskan secara rinci penyebab kerusakan otak akibat kekerasan pada anak.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10157280576863845&id=766968844

rumahmediagroup/ribkaimari

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.