Menulis untuk Bahagia

Menulis untuk Bahagia

“Saya bingung mau menulis apa.”

“Belum ada ide untuk nulis. Rasanya mentok terus. Kenapa, ya?”

“Saya belum nulis, nih. Belum ada ide. Jadi stres, nih.”

Pernah mendengar ungkapan-ungkapan seperti itu, Sobat? Atau bahkan ungkapan-ungkapan dalam kalimat-kalimat tersebut yang sering keluar dari lisan kita di saat sedang dikejar deadline menulis.

“Saya kok susah dapat ide nulis, ya? Udah berusaha mikir, tapi nggak juga berhasil mengeksekusi sebuah tulisan.”

“Kenapa saya susah sekali untuk bisa menulis dengan mudah? Nggak seperti orang lain. Jadi hopeless.

Terdengar sangat putus asa dan seperti sudah frustasi, benar tidak? Sangat tidak bahagia, merasa terbebani. Seolah-olah menulis menjadi suatu tuntutan yang tidak menyenangkan dan mampu merusak mood serta rasa hari kita. Membuat rasa malas muncul dan berakhir dengan menunda, meninggalkan, atau tetap menulis tapi asal-asalan alias asal jadi.

Bila hal-hal tersebut dialami oleh kita yang mengaku berprofesi sebagai penulis, maka sebaiknya segera tutup pena, tutup laptop, uninstall aplikasi menulis yang ada di smartphone atau pun matikan komputer. Pensiun sajalah menjadi penulis! Berhenti jadi penulis. Sekarang juga!

Eh, serius, Thor? Serius! Pakai banget! Sekarang coba pikir, buat apa memaksakan diri untuk terus menjadi penulis bila kitanya tidak merasa “bahagia” dan terpaksa?

Tidak bahagia? Memang apa hubungannya bahagia dengan menulis? Ya, dekat sekali, dong. Seperti bunga tanpa kumbang. Seperti sayur tanpa garam. Seperti siang hari tanpa sinar mentari.

Bagaimana kita bisa memiliki banyak ide untuk menulis apabila jiwa kita sendiri merasa tertekan, terbebani, tidak enjoy, tidak dinikmati dengan sepenuh hati, tidak dilakukan sebagai cara untuk bersenang-senang dalam menciptakan rasa bahagia saat menulis? Bukankah hal yang membuat kita stres lebih baik ditinggalkan daripada dipertahankan? Sebab ujungnya takkan menghadirkan rasa bahagia dalam bentuk apa pun.

Sebagaimana layaknya profesi lainnya, yang bila dilakukan dengan cinta maka akan membuahkan hasil yang baik. Saat mengerjakannya pun kita akan merasa ringan dan senang hati. Terlebih saat hasilnya ternyata sesuai atau lebih dari ekspektasi kita. Akan timbul gairah baru dan semangat yang menyala-nyala untuk membuat karya-karya lainnya, bukan?

Itulah sebabnya selain bermusik, menggambar atau pun kegiatan positif lainnya, menulis menjadi salah satu alternatif mumpuni sebagai self healing. Bila seseorang yang depresi mampu mengungkapkan seluruh isi hati dan kegelisahannya dengan menulis maka menulis bisa menjadi salah satu alternatif penyembuhan jiwa.

Jadi, sebenarnya, menulis hendaklah menjadi suatu aktivitas yang menyehatkan dan membahagiakan. Bukan malah sebaliknya, membuat kita menjadi tertekan dan frustasi. Maka jika merasa menulis adalah passion, sumber bahagia, dan cara bersenang-senang dalam menorehkan rekam jejak langkah kita di kehidupan ini, segera ambil pena. Buka komputer dan segeralah menulis.

Menulis dengan jiwa yang merdeka, tulus, dan jujur. Menulislah dengan rasa bahagia, agar aura kebahagiaan lewat tulisan kita sampai dan tertularkan kepada para pembaca.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.