Sebuah Nasihat Dari Kakak Laki-laki Untuk Adik Perempuan

Sebuah Nasihat Dari Kakak Laki-laki Untuk Adik Perempuan

Oleh: Ribka ImaRi

“Dek, nanti kalau sudah masuk TK, ada teman yang ngomongin pacar-pacaran bilangin ‘enggak boleh pacar-pacaran. Enggak baik. Di Islam juga dilarang pacar-pacaran. Bolehnya langsung menikah kalau sudah dewasa.’ Kan ayah bunda bilang gitu,” kata mas Tyaga panjang lebar memberi nasihat pada adiknya.

“Iya Mas. De akan ingat nasihat Mas,” jawab Dede dengan bahasa yang baku dan nada yang lembutnya bikin hati Bunda yang mendengar jadi meleleh.

“Iya. Soalnya dulu Mas TK ada temen yang ngomong kayak gitu,” ujar Mas Tyaga yang sudah mau naik ke kelas 2 ini, lanjut sharing.

Oooh… So sweet-nya saat mendengar percakapan keduanya ketika Mas berbagi pengalamannya ke Dede.

Hampir 2 tahun lebih ini, semenjak mas Tyaga mengenal kamus “pacaran” dari lingkungan luar rumah, pembicaraan kami menjadi lebih intens tentang sounding larangan pacaran.

Setelah terseok-seok sounding panjang lebar tiada henti sedari keduanya masih kecil, Mas usia 5,5 tahun di TK B dan Dede usia 3 tahun.

Alhamdulilah pada akhirnya Allah SWT karuniai anak pertama laki-laki dengan tipe “mendengar dan menyimpannya di hati dan pikiran” segala macam sounding dari ayah bunda.

Lalu rajin meneruskannya ke adiknya. Dan adiknya tersebut adalah tipe anak perempuan yang super ngeyel kalau di kasih tahu ayah bunda. Tetapi uniknya justru mau mendengar apa yang masnya katakan. Mungkin memang seperti itu fitrahnya kakak beradik.

Jadi semakin Jehan membesar, tugas ayah bunda lumayan mudah. Karena ayah bundanya hanya tinggal meluruskan dan mengawasi saat Jehan mengikuti nasihat masnya. Sebab ada kalanya masnya iseng memberi tahu sesuatu justru melenceng karena tujuannya bergurau dan adiknya malah menelannya bulat-bulat. Jadi gemes melihat dan mendengarnya.

Dan percakapan antara Tyaga dan Jehan diatas bukan tanpa dasar. Kami memang berkaca pada pengalaman masa muda kami yang sekarang sudah menjadi orangtua. Dulu kami tidak mendapat sounding rinci apalagi mendalam tentang menjaga diri sendiri dalam pergaulan di lingkungan rumah atau di luar rumah.

Tak bisa dipungkiri, pengaruh lingkungan sekolah berawal Sekolah Dasar (SD) kami dulu sering meluncurkan ejekan-ejekan tentang pacaran. Begitu pula tak kalah kuatnya pengaruh dari tontonan di televisi berupa sinetron yang menggebu.

Beberapa penyebab mendasar diatas, membuatku dan suami sepakat bersatu hati untuk benar-benar berusaha mendidik tentang satu hal serius ini. Dengan memberi pemahaman yang baik secara terus menerus. Baik dengan pendekatan secara agama maupun secara sosial emosi.

Salah satu usaha yang kami lakukan dimulai dari dalam rumah. Sebelum Tyaga Jehan mengenalnya dari pergaulan diluar rumah termasuk sekolah.

Kami berusaha kompak seiya sekata saat televisi di rumah rusak mati total, dengan serius melanjutkan mematikan akses televisi. Hal ini dimulai saat Tyaga baru berusia 3 tahun 3 bulan dan Jehan baru berumur 10 bulan . Sungguh amat tak mudah melepas ego kami untuk menonton televisi.

Tetapi kami berusaha berjuang demi mencegah ketidaksengajaan Tyaga Jehan yang kemungkinan semakin membesar pasti semakin cerdas mencari channel TV untuk menonton. Dimana bisa menjadi rawan mencontoh dari seklebat iklan atau sinetron orang dewasa yang tidak seharusnya di tonton oleh anak dan balita yang sedang fase “menirulakukan”.

Sebuah fase yang sangat rentan. Sebab jika sudah terlanjur menirulakukan, akan butuh waktu panjang untuk meluruskan yang menyimpang.

Selagi Allah beri kesempatan untuk mencegahnya, kami sebisa mungkin berusaha konsisten ikhtiar NO TV dirumah sampai batas waktu Tyaga Jehan bisa mengerti, menancap, semua sounding yang baik tentang hidup dan kehidupan nyata. Bukan fatamorgana dan klise seperti yang selama ini disuguhkan di TV ala sinetron.

Sebagai orangtua biasa, kami hanya berusaha dan terus berdoa semoga Allah selalu menjaga anak-anak kami dari pergaulan yang tidak baik.

Segala cara kami usahakan dan perjuangkan. Agar sejak dari dalam rumah, keduanya saling menjaga sebagai saudara sekandung meskipun berbeda jenis kelamin.

Tentang hasilnya, sampai dewasa kelak, kami serahkan kepada Allah SWT sebaik-baiknya penjaga dimanapun anak kami berada. Bismillahirrahmanirrahim…

Sokaraja, 4 September 2019
-Ribka ImaRi-

#Nubar
#NulisBareng
#Level3
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week1
#Day2
#RNB33

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.