Kelola Emosimu Wahai Para Pendidik!

Iklan

Kelola Emosimu Wahai Para Pendidik!

Pernahkah Bapak/Ibu menemukan anak didik kita yang emosian? Ini salah itu salah, dilembutin ngelunjak, dikerasin membangkang? Diberi peraturan diam-diam hingga terang-terangan dilanggar. Saya yakin, selama kita masih bisa berinteraksi dengan manusia pasti ada saja karakter manusia yang seperti itu. Bahkan bisa jadi, di antara anak didik kita ada yang begitu.

Kenapa banyak orang yang mengartikan kata emosi sebagai kata lain dari marah? Padahal ternyata emosi itu tidak hanya marah lho. Lalu sebenarnya apa sih yang dimaksud emosi?

Emosi diartikan sebagai perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi juga diartikan reaksi terhadap seseorang atau kejadian.

(https://id.m.wikipedia.org)
Iklan

Emosi mewakili berbagai bentuk perasaan manusia. Ia sangat berhubungan dengan kondisi psikologis dan suasana hati seseorang yang dinyatakan dalam bentuk perilaku tertentu.

Fungsi Emosi:

  • Membantu manusia memecahkan masalah.
  • Memotivasi orang untuk terlibat dalam tindakan penting agar dapat bertahan hidup.
  • Sangat berpengaruh terhadap tingkah laku.

Perasaan emosi terbagi dalam 2 bagian yaitu emosi positif (emosi yang baik seperti gembira, ceria, senyum, takjub) dan emosi negatif (emosi yang buruk seperti marah, sedih, kecewa, benci, takut). Tugas kita adalah berupaya meminimalisir adanya emosi negatif atau mengubah emosi negatif menjadi positif. Kenapa? Karena emosi negatif kalau tidak bisa kelola bisa merugikan diri sendiri.

Efek Emosi negatif

  • Berpengaruh pada aliran darah ke otak. Konon katanya 77% penyakit manusia disebabkan oleh emosi. Bahkan dalam kompasiana.com disebutkan bahwa penyakit itu 90% berasal dari pikiran, 10%-nya lagi dari pola makanan kita sehari-hari. Ini diperkuat oleh Irma Rahayu, Founder Emotional Healing Indonesia dalam merdeka.com yang menyatakan bahwa kemampuan seseorang mengelola emosinya berbanding lurus dengan kesehatan jiwa dan raganya, termasuk potensi seseorang melakukan aksi bunuh diri. Faktor emosi menjadi 90 persen penyebab munculnya penyakit fisik.
  • Serangan jantung, resiko mengalami tekanan darah tinggi, nyeri dada.
  • Menghambat jalannya pernafasan sehingga mengganggu fungsi paru-paru.

Sumber Emosi dan suasana hati:

  • Kepribadian
  • Hari dalam seminggu
  • Cuaca
  • Tidur
  • Olah raga
  • Usia dan jenis kelamin

Ketika menemukan anak didik kita yang “emosian”, lebih banyak menampilkan emosi negatif maka kita sebagai pendidik seyogyanya membantu mereka. Bagaimana caranya? Berilah mereka nasihat dengan cara yang baik.

Iklan

Kata Sigmund Freud, pikiran manusia dibagi menjadi tiga level, yaitu alam sadar, alam bawah sadar, dan alam tidak sadar. Dalam kondisi sadar, seseorang akan sulit diberikan nasihat karena ia akan membuat benteng diri dan mencari cara agar ia terlindungi/tidak disalahkan. Berbeda halnya saat mereka berada di dalam kondisi di bawah alam sadar, mereka akan lebih mudah untuk diberikan nasihat (meng-input karakter positif).

Namun, ada satu keyword yang harus kita perhatikan: sebelum membantu mengelola emosi anak didik, maka bereskan dulu emosi diri kita.

Kita memiliki kebebasan untuk mengendalikan emosi. Bila kita dapat mengendalikan emosi maka kita juga bisa mengendalikan perilaku.

_Catatan pelatihan (Gunung Sindur, 6 Januari 2020)_

rumahmediagrup/wina_elfayyadh

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.