Antologi Juga Karya Literasi

Antologi Juga Karya Literasi

“Saya ‘baru’ menulis antologi sedikit.”

“Saya malu karena ‘cuma’ penulis antologi, belum pernah nulis buku solo.”

“Mencantumkan judul buku antologi yang pernah diikuti di portofolio? Malu, ah!”

Masih banyak sederet komentar bernada “miring” yang saya temukan selama mengawal Nubar Rumedia area Jabar. Komentar-komentar yang begitu “mengecilkan” arti sebuah karya literasi berbentuk bunga rampai atau yang lebih sering dikenal dengan antologi. Bentuk karya literasi yang ditulis keroyokan alias ramai-ramai.

Sayangnya, yang berkomentar miring tersebut adalah para penulis antologi itu sendiri. Entah mengapa saya merasa sedih dan kecewa saat mendengarnya. Sedih karena antologi masih dianggap minus kebanggaan dari para penulisnya sendiri. Kecewa karena para penulis antologi sedikit sekali yang berani untuk menunjukkan pada dunia bahwa dirinya seorang penulis dan pernah atau sudah menerbitkan karya sekalipun “hanya” berupa antologi.

Hey, what’s wrong with it? Don’t you proud? It’s your work, writer! It’s worth.

Wajar bila antologi seolah tak menemukan posisi sejajar dengan karya lainnya di kancah literasi, karena para penulisnya pun tak berkeinginan untuk mengangkat pamornya. Tak ada kebanggaan sedikit pun bila sudah memilikinya. Terlihat berkesan minder bila ditanya apa karya literasi yang sudah dibuat. Mungkin itu sebabnya saat buku terbit sudah diterima, tak ada keinginan untuk gencar mempromosikan dan menjualnya ke masyarakat.

Sumber gambar : Canva

Padahal beberapa penulis ada yang menerima penghargaan lewat instansi di tempatnya mengabdi berkat keaktifannya berkarya lewat antologi. Program sertifikasi bagi pihak-pihak yang bersinggungan dengan karya literasi juga meminta melampirkan bukti-bukti hasil literasi sebagai salah satu syarat utama, salah satunya karya yang berupa antologi. Memang perbandingannya sedikit berbeda dengan penilaian buku solo. Namun tetap memiliki poin penting yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Buku antologi juga karya literasi. Ia lahir dari buah pemikiran para penulisnya. Diproses dengan tahapan-tahapan dan waktu yang tidak sebentar. Di komunitas Nubar Rumedia sendiri, sudah banyak karya antologi yang sudah terbit. Bahkan sejak melebarkan sayapnya dengan membentuk beberapa area nubar, jumlah antrean buku antologi yang menunggu dicetak semakin banyak dan panjang.

Ini merupakan bukti bahwa antologi terus diminati dan terus berkembang. Maka alasan apa lagi untuk mengecilkan peran antologi? Saya mengawali menulis buku solo justru berawal dari menulis antologi.

“Calon buku solo pertama” saya nyatanya gagal terbit. Lalu untuk meneruskan berkarya mulailah ikut beberapa kelas menulis. Beberapa di antaranya menghasilkan buku antologi. Setelah lebih dari 9 bulan aktif menulis di Nubar Rumedia, barulah buku solo pertama saya terbit.

Maka, nikmatilah proses. Perbanyak portofolio sekalipun dalam bentuk antologi. Tak perlu mengecilkan arti antologi, sebab ia juga sebuah karya. Bila bukan kita, para penulisnya, siapa lagi yang akan merasa bangga dan memperkenalkannya kepada dunia lewat promosi?

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.