Biarkan Aku Bermimpi (bagian 1)

Iklan

 

 

Judul: Biarkan Aku Bermimpi

Penulis: Ilham Alfafa

Buku: Titik!

 

Mimpi. Setiap orang berhak bermimpi. Setiap orang punya mimpi; dari mimpi yang biasa-biasa saja hingga mimpi yang luar biasa. Dari mimpi yang realistis sampai mimpi yang tidak realistis. Mimpi yang baik dan tidak sedikit memiliki mimpi yang tidak baik. Tapi, tidak semua orang bisa mewujudkan mimpinya. Dan, sebagian tidak diperbolehkan bermimpi, yaitu Andri, seorang anak SD kelas 3 yang dilahirkan sebagai anak dari ayah seorang pemulung dan ibu seorang buruh cuci.

Sejak kecil, Andri selalu dikucilkan teman-teman sepermainan karena kondisi keluarganya yang tidak seperti kebanyakan orang-orang di kampungnya. Ia menjadi bahan ejekan karena kemiskinan keluarganya.

Suatu hari, di sekolah, ada tugas dari guru. Setiap anak harus menuliskan minimal satu cita-citanya. Mau jadi apa setelah besar nanti. Dari seluruh siswa yang diberi tugas, hanya Andri yang menyerahkan lembar kertas tugas dengan isi yang kosong. Ia tidak menuliskan satu pun cita-citanya.

“Andri…” Panggil bu Ida, guru bahasa Indonesianya.

“Hadir, Bu…” Jawab Andri polos.

“Kenapa kertas tugasnya tidak diisi?” Tanya bu Ida penasaran dengan murid yang satu ini.

“Andri ga punya cita-cita, Bu…” Terang Andri, masih dengan wajah polosnya. Tangan kirinya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

“Kenapa ga punya cita-cita, Nak?” Bu Ida penasaran dengan jawaban Andri. Setahunya, semua orang memiliki cita-cita, kenapa Andri tidak memiliki cita-cita?!

“Kata teman-teman, Andri ga pantas punya cita-cita…”

“Kata siapa? Coba tunjuk siapa orang yang melarang Andri punya cita-cita?” Ibu Ida sedikit kaget dengan jawaban Andri. Andri hanya diam saja. Entah takut, malu, atau sedih. Karena, ekspresi wajahnya menunjukkan semuanya. “Coba tunjuk siapa yang bilang kalau Andri ga punya cita-cita? Bilang sama Ibu…” Lanjut bu Ida menegaskan ucapan sebelumnya. Andri tetap diam. “Ya sudah, kalau ga mau jawab.” Bu ida menyerah. “Silakan duduk lagi…” Perintah bu Ida, menyuruh Andri untuk duduk, tapi Andri tidak juga duduk.

“Jangankan untuk cita-cita, untuk bermimpi saja Andri tidak diperbolehkan sama orang-orang.” Ucap Andri tiba-tiba.

“Kenapa tidak diperbolehkan? Siapa yang tidak memperbolehkan Andri bermimpi?” Cecar bu Ida setelah mendengar ucapan dari Andri.

“Semua orang, Bu… Teman-teman bermain di dekat rumah, tetangga-tetangga, bahkan sekarang, ibu Andri juga melarang Andri buat bermimpi…”

“Kenapa?” Potong bu Ida.

“Katanya… Katanya… Andri ga berhak punya mimpi soalnya Andri miskin. Andri cuma anak seorang pemulung dan buruh cuci. Rumah Andri juga jelek, bahkan mau rubuh. Orang seperti kami tidak pantas bermimpi, berkhayal menjadi sesuatu. Orang seperti kami, tidak akan mampu mewujudkan mimpi dan cita-cita itu, katanya…” Di wajah Andri tersirat garis kesedihan dan keputusasaan.

 

(bersambung ke bagian 2)

 

 

rumahmedia/nubar – nulis bareng

Iklan
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.