Biarkan Aku Bermimpi (bagian 2 tamat)

Iklan

 

Judul: Biarkan Aku Bermimpi

Penulis: Ilham Alfafa

Buku: Titik!

“Katanya… Katanya… Andri ga berhak punya mimpi soalnya Andri miskin. Andri cuma anak seorang pemulung dan buruh cuci. Rumah Andri juga jelek, bahkan mau rubuh. Orang seperti kami tidak pantas bermimpi, berkhayal menjadi sesuatu. Orang seperti kami, tidak akan mampu mewujudkan mimpi dan cita-cita itu, katanya…” Di wajah Andri tersirat garis kesedihan dan keputusasaan.

Andri melanjutkan, “kemarin, waktu Andri sedang main, sendirian di pinggir jalan, main mobil-mobilan dari plastik, yang Bapak temuin dari hasil pulungannya. Tiba-tiba beberapa teman-teman di dekat rumah mendekati Andri dan meledek Andri… katanya, ‘dasar anak pemulung, miskin, ga punya modal buat beli maenan baru, hahahaa…’ gitu ngomongnya. Teman lainnya ikut ngeledek, ‘namanya juga anak pemulung, mana bisa beli mainan baru, paling mainannya juga hasil dari mulung tuh,’ terus semua teman-teman yang lainnya tertawa puas setelah meledek Andri. Tapi, Andri ga ngebales ledekan mereka, ga ada untungnya ribut. Andri terus aja main sama mobil-mobilan pemberian Bapak, walaupun mobil-mobilan hasil mulung, tapi itu mobil-mobilan terbaik yang diberikan oleh Bapak, karena di sana ada cinta dan kasih sayangnya… Bapak ga pernah lupa buat ngasih yang terbaik buat Andri, semampunya.” Andri menghentikan ceritanya.

Ia menarik nafas panjang. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia mencoba tegar untuk terus melanjutkan ceritanya. Ia usap kedua matanya karena penglihatannya mulai terasa buram.

Andri melanjutkan, “melihat Andri tidak menghiraukan mereka, mereka malah merebut mobil-mobilan Andri dan menginjak-injaknya sampai hancur… Andri heran, apa salah Andri sama mereka… Apa karena kemiskinan keluarga kami mengganggu mereka? Hah…? Apa kemiskinan keluarga Andri mengganggu kehidupan mereka?” Andri mengulangi kata terakhirnya sambil melihat ke arah teman-teman sekelasnya.

“Andri ga mau ribut… Andri pergi meninggalkan mereka yang telah menginjak-injak mobil-mobilan satu-satunya pemberian Bapak, tapi mereka belum puas. Mereka mengejar Andri dan mengelilingi Andri sambil ngeledek, ‘dasar anak pemulung… Dasar anak pemulung… Dasar anak pemulung…’ mereka terus mengelilingi Andri sambil mengucapkan kata-kata itu berulang-ulang. Lalu, Andri bilang sama mereka, suatu hari, Andri akan jadi orang sukses, lebih sukses dari orang tua mereka… Tapi.. Mereka malah tertawa. Katanya, ‘kamu anak pemulung, ga pantas buat sukses, ga pantas punya cita-cita kaya gitu… Mimpi saja ga pantas buat kamu…’ mendengar ledekan mereka, Andri marah, rasanya pengen nonjok muka mereka satu-satu… Tapi, Bapak bilang, ‘kita boleh jadi orang miskin, tapi jangan jadi orang jahat.’ Akhirnya, Andri cuma bisa nangis mendengar ledekan mereka. Lalu, ada abang-abang mendekat. Melihat Andri nangis, dia tanya kenapa Andri nangis, Andri jawab, kalau mereka bilang bahwa Andri ga berhak bermimpi. Abang itu bukannya membela, malah tertawa. Katanya, ‘kamu kan anaknya pemulung, buat apa mimpi yang tinggi-tinggi, ntar jatuh siapa yang mau bayarin? Hahaha…’ terus abang itu berlalu dari hadapan kami. Teman-teman yang lain ikut tertawa puas penuh kemenangan. Andri ga tahan diledek kaya gitu. Andri pulang ke rumah. Nyari Ibu. Ibu ada di sumur lagi nyuci. ‘Bu, emang kalau anak pemulung ga boleh bermimpi ya?? Kenapa ga boleh? Emang mimpi itu mahal ya? Apa kita ga mampu buat beli mimpi yang kita buat sendiri? Emang ada aturannya orang miskin ga boleh mimpi??’ Andri ngomong gitu sambil nangis sama Ibu. Ibu berhenti mencuci. Beliau mengucap air mata Andri. Terus bilang, ‘Tidak ada yang salah dengan mimpi… semua orang berhak bermimpi, karena dari mimpi itu, kita bisa membangun cita-cita. Dari cita-cita kita bisa mengarahkan tujuan lebih jelas. Kalau tujuan sudah jelas, kita akan mudah untuk menggapai semua itu menjadi kenyataan.’ Terus Andri tanya, ‘kenapa Andri ga boleh bermimpi? Katanya semua berhak bermimpi? Tapi teman-teman selalu meledek Andri. Kayanya di dunia ini cuma kita yang paling miskin di dunia, Bu…’ Ibu cuma menjawab, ‘semua berhak bermimpi, tapi kadang kita, sebagai orang miskin, selalu dipandang remeh oleh orang-orang yang merasa sudah kaya, merasa sudah hidup aman. Bahkan, kerabat akan menganggap kita sampah karena kita miskin. Dan orang asing akan menganggap kita kerabat, jika kita sudah kaya dan terpandang. Itulah dunia, Ndri… Kalau kita memikirkan cibiran orang, kita tidak akan bisa maju. Tapi, kembali lagi, kita ini orang miskin. Memang tidak pantas bermimpi…’ Ibu melanjutkan mencuci.

Bu Ida, sampai hari kemarin, Andri masih terus bermimpi, karena dari bermimpi, Andri punya harapan untuk membahagiakan Bapak sama Ibu kalau Andri sudah besar nanti. Andri tidak akan pernah berhenti bermimpi. Tapi, ucapan Ibu kemarin, membuat Andri berhenti bermimpi. Kalau Ibu saja sudah tidak memberi Andri kekuatan, mau ke mana lagi Andri mencari kekuatan lagi???” Andri menangis. Air matanya mengalir cukup deras, namun wajahnya terlihat tenang, dan tangisannya tidak bersuara. Ketenangan dalam keharuan yang jarang dimiliki oleh seorang anak berusia sembilan tahunan.

Bu Ida yang mendengar cerita Andri, tidak menyadari air matanya ikut mengalir mendengarkan kisah dari salah seorang anak muridnya. Bu Ida mendekati Andri dan memeluknya. Setelah itu, ia menghapus air mata yang mengalir di pipi Andri. “Bu ida, tolong bilang sama Ibu, biarkan Andri bermimpi, agar Andri bisa punya harapan merubah masa depan kami. Andri ga tega melihat Bapak dihina orang-orang. Andri ga tega melihat ibu kecapean kanena bantu Bapak kerja.”

“Iya, Nak… Bu Ida akan bilang sama ibunya Andri supaya Andri bisa terus bermimpi, bermimpi setinggi langit, kalaupun jatuh, ga akan sakit, kan mimpi…” Jawab Bu Ida mencoba menghibur Andri. Andri tersenyum mendengar candaan gurunya. “Ya sudah, Andri duduk… Nanti pulang sekolah Ibu anter pulang…” Pinta bu Ida. Andri kembali duduk di bangkunya.

Hikmah dari kisah:

Sahabat, Siapa di antara sahabat yang tidak memiliki mimpi? Saya yakin semua orang memiliki mimpi. Ada yang bermimpi secara tidak sadar di malam hari ketika tidur, kemudian dikembangkan pada saat terjaga (melanjutkan khayalan). Artinya ia benar-benar bermimpi secara alami sebagai dampak dari tidurnya tubuh dan mimpinya itu tidak bisa ia pesan sesuai dengan keinginannya, akan tetapi muncul dengan sendirinya. Ada juga yang bermimpi secara sadar, tentang masa depannya; tentang hidupnya; tentang cintanya; tentang cita-citanya; dan lain sebagainya. Artinya ia ber-mimpi karena keinginannya, yang ia bangun sendiri secara sadar sesuai dengan hasrat yang ada di dalam dirinya.

Semua orang berhak bermimpi. Tidak ada yang melarang untuk bermimpi, dan bermimpi itu tidak harus mengeluarkan biaya mahal, bahkan GRATIS!!! Silakan bermimpi sebanyak apa pun, bermimpi seluas apa pun. Karena, semua berawal dari mimpi sederhana. seseorang tanpa memiliki impian seperti orang yang tidak memiliki tujuan hidup. Bukan berarti kita harus selalu tidur agar bisa bermimpi, karena bermimpi di sini bermakna sebuah khayalan; angan-angan. Sehingga, saat mata terbuka pun bisa bermimpi. Seseorang bisa sukses karena ia memiliki mimpi-mimpi yang membuat motivasinya muncul untuk mewujud-kan mimpi tersebut. Orang bisa memiliki cita-cita dan tujuan itu awalnya dari mimpi.

Masih takut untuk bermimpi? Kenapa? Mimpi tidak bayar kok! Apa ada orang yang melarang kita untuk bermimpi? Apa ada undang-undang dari pemerintah yang melarang kita untuk bermimpi? Jika ada, keterlaluan sekali!

Orang yang takut bermimpi adalah orang yang takut untuk sukses karena bermimpi saja yang tidak membutuhkan usaha yang keras sudah malas atau tidak mau, apalagi harus meraih kesuksesan yang membutuhkan perjuangan yang berat??? Kalau takut bermimpi, jangan hidup. Karena, mimpi hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mau hidup dan masih hidup saja.

Bermimpi tidak akan merugikan seseorang, asal jangan sampai mimpi itu kosong, tanpa tujuan. Bermimpi harus ada tindak lanjutnya, tidak sekadar bermimpi panjang lebar tanpa ada arahnya. Mulailah membangun mimpi dari hal-hal kecil dan sederhana.

Bermimpilah setinggi mungkin, tidak akan ada yang melarang. Tapi, jangan terlalu asyik bermimpi, sehingga menjadikan mimpi sebagai dunia kita. Ingat, kita hidup di dunia nyata, meskipun fana dan sementara, tapi tetap saja nyata. Bangunlah mimpi-mimpi itu dengan baik. Artinya, mimpi itu jelas, bukan sekadar khayalan tidak ada ujungnya. Kita harus bisa membangun mimpi-mimpi itu menjadi sebuah realisasi agar mimpi-mimpi kita tidak sia-sia.

Tahukah, sahabat? Ternyata dari sebuah mimpi, akan memunculkan keinginan. Saat bermimpi menjadi orang kaya, tentunya akan muncul keinginan kita untuk menjadi orang kaya. Tidak mungkin seorang miskin yang bermimpi menjadi orang kaya tetapi tidak menginginkan menjadi orang kaya.

Semua mimpi akan memunculkan keinginan, baik mimpi secara harfiah (makna sebenarnya dalam keadaan tertidur), maupun mimpi secara maknawi, yaitu sebuah khayalan; angan-angan. (penjelasan diambil dari buku “Kata Sakti M.O.T.I.V.A.S.I)

Semoga Bermanfaat.

rumahmedia/nubar – nulis bareng

Iklan
Iklan

3 comments

  1. Wah..sangat menginspirasi ceritanya Pak.
    Baper pas bagian “emang orang miskin nggak boleh punya mimpi”
    Dan terus senyum pas baca nasehat Bu Ida. Waah…jadi semangat bermimpi, semangat mengejar impian☺️

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.