Runtuhnya Tembok Penghalang Surga (bagian 1)

Iklan

Judul: Runtuhnya Tembok Penghalang Surga

Penulis: Santika Febriyani

Buku: Di Langit Kerinduan #1

Ungkapan nafas dan hanturan kata-kata indah untuk mengungkapkan kebahagiaan Putri Adzkia Ramadhani yang baru saja menerima beasiswa untuk melajutkan studi S2 di Malaysia nampaknya tak cukup. Lafadz Yang Maha Kuasa terus ia lantunkan di bibir merah mudanya. “Alhamdulillah… Terima Kasih ya Allah…” Setelah mengetahui bahwa dirinya bisa mendapatkan kesempatan tersebut langsung saja dia pergi ke mushala kampusnya untuk melaksanakan salat dhuha. Pagi itu langit nampak cerah seakan merasakan kesenangan Adzkia, wanita berhijab dengan pembawaan yang ramah dan sopan.

***

“Assalamu’alaikum, Umiii.. Ada kabar baik nih!?” Ucap Adzkia dari ambang pintu rumahnya.

“Wa’alaikumsalam Nak, ada apa sih? Umi lagi nyuci piring nih, kamu ke sini aja.”

“Umi, aku dapat beasiswa untuk melanjutkan S2 di Malaysia, aku sangat senang sekali, Mi…” Wajah cantiknya nampak berbunga-bunga karena baru saja mendapatkan kabar gembira dari Kampusnya.

“Alhamdulillah ya Nak, lalu kamu kapan berangkat ke sananya?”

“Lusa Mi, karena minggu depan kan kuliah perdana S2 udah akan dimulai, dan senangnya lagi, biaya hidup aku di sana dan keberangkatanku dibiayai oleh Kementerian Pendidikan. Alhamdulilllah banget Mi hehe…”

“Ya sudah besok kita membuat syukuran kecil-kecilan saja ya, buat mengungkapkan rasa syukur kita atas Rahmat-Nya.”

Iklan

***

Hari ini Adzkia sudah memasuki minggu keempat perkuliahannya di Unversitas Islam Internasional Malaysia yang berada di Gombak. Di sini dia mengambil jurusan Syariah, di sini pula dia harus bisa menyesuaikan diri karena menjadi mahasiswa baru. Tak disangka tak diduga ternyata banyak juga mahasiswa muslim Indonesia yang menuntu ilmu di sini. Tetapi walaupun Universtitas ini merupakan Universitas muslim, tidak semua mahasiswanya beragama Islam, ada juga yang beragama non Islam.

Di suatu siang hari saat telah selesai perkuliahan, dia menabrak seseorang yang membuat buku seseorang itu berantakan semua dan terjatuh. “Afwan, ana tidak sengaja…” Lalu Adzkia pun mengambil buku yang tengah berantakan karena ulahnya. Lelaki tinggi yang dikenal sebagai orang yang memiliki amarah yang tinggi bak sumbu kompor yang pendek itu langsung saja menyulutkan pandangan tak suka terhadap Adzkia, dia bernama Chako Rahel. Rahel merupakan mahasiswa non muslim yang mengambil jurusan Teknik Mesin, tepatnya mahasiswa Atheis.

“Afwan? Apa itu!? Sudah biar saya saja yang merapikan buku itu, lebih baik kamu enyah saja dari hadapan saya…” Berkali-kali Adzkia meminta maaf, akhirnya dia tinggalkan Rahel yang tengah merapikan bukunya yang berjatuhan.

“Adzkiaaa…” Tiba-tiba suara Intan, teman satu fakultas-nya memanggilnya saat Adzkia tengah berjalan di lorong sendirian. Intan merupakan mahasiswa asal Singapura yang telah berkuliah 1 semester lebih dulu dibanding dengan Adzkia.

“Eh iya Tan, ada apa?”

“Iih, tadi aku denger kamu tabrakan ya sama laki-laki Atheis itu? Kok bisa sih!? Terus kamu dimaki-maki gak? Tadi aku dapat kabar itu dari temanku yang melihat kamu di depan perpus.”

“Heh? Sampe segitunya ya.. Hehe, iya tapi dia biasa aja kok. Emang dia atheis Tan? Kok bisa ya? Kamu kok bisa beranggapan kalau aku bakal dimaki-maki sih olehnya? Jangan shu’udzon ah.. Udah yuk ke kelas?”

“Iih iya Adz, kalau ada berita tentang dia tuh, lelaki paling emosian pasti langsung menyebar ke mana-mana. Iya dia itu kan atheis, jarang punya teman abis egois banget Adz. Dia tuh menuhankan egoisnya. Makanya kita panggil Atheis deh haha..” Lalu mereka pun langsung masuk ke kelas yang saat itu mata kuliah intan dan Adzkia memang sama.

Iklan

***

“Heh kamu! Kamu yang kemarin menabrak saya kan!? Gak ada sopan-sopannya. Kamu ini mahasiswa baru kan! Soalnya saya juga baru lihat kamu.”

“Eeh iya ka, aku kan kemarin udah minta maaf sama kakak pas aku nabrak kakak.” Adzkia masih dalam keadaan menunduk karena takut dengan tatapan laki-laki yang tengah berada di hadapannya.

“Gak sopan banget sih! Liat wajah saya kalau saya lagi bicara! Lagi pula kapan kamu meminta maaf! Saya gak dengar kata maaf dari mulut kamu kemarin!”

“Kemarin aku kan bilang afwan kak, maaf ka bukannya saya tidak sopan karena tidak menatap kakak, tapi karena saya menjaga hijab saya ka.”

“Afwan? Hijab? Kamu ini asal planet mana sih!? Kalau bicara tuh yang bisa dimengerti semua orang dong!” Rahel memang sangat anti dengan hal yang berbau agama, walaupun ia menuntut ilmu di Universitas Islam di Malaysia, tetapi dia tidak pernah masuk kelas saat sedang perkuliahan Pendidikan Agama Islam, maka dari itu dia selalu mendapat nilai E untuk mata kuliah tersebut.

“Afwan itu artinya maaf ka, sedangkan hijab itu artinya pembatas. Jadi hijab itu…”

“Ah sudahlah saya tidak butuh penjelasan kamu. Lain kali tuh kalau bicara yang jelas dan bisa dimengerti biar orang lain paham maksud kamu. Kamu mengerti!?” Nada bicara Rahel yang tinggi membuat Adzkia sedikit tersontak. Jantungnya berdetak kencang sekali karena dia memang tidak pernah berbicara keras dengan siapapun dan Murobiyyah Adzkia pun selalu mengajarkan mutarrabinya untuk tidak berbicara dengan volume yang keras.

Lalu Adzkia pun mengambil seribu langkah tanpa memedulikan seniornya yang nampaknya masih ingin meluapkan amarahnya dengan Adzkia. Diam-diam Rahel terbesit memikir-kan Adzkia karena sikapnya yang terlalu kasar terhadap perempuan yang sopan itu.

***

Iklan

(bersambung ke bagian 2)

rumahmedia/nubar – nulis bareng

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.