Runtuhnya Tembok Penghalang Surga (bagian 2)

Iklan

Judul: Runtuhnya Tembok Penghalang Surga

Penulis: Santika Febriyani

Buku: Di Langit Kerinduan #1

Hari ini Rahel berniat untuk meminta maaf atas perlakuannya tempo hari lalu. Allah memang sang Maha Pembolak-Balik Hati hamba-Nya, tidak ada badai tidak pula ada angin yang bisa membukakan lubuk hati sang Egoisme, Chako Rahel. Setiap makhluk hidup ciptaan-Nya pasti memiliki sisi kebaikan dari nurani yang suci, ya saat itu nurani Rahel sedang terketuk sehingga dia ingin meminta maaf akan sikapnya yang sudah keterlaluan.

“Heh kamu…” Rahel yang memang belum tahu nama Adzkia berteriak tanpa memanggil nama. Adzkia yang tidak merasa dipanggil meneruskan perjalanannya untuk ke perpustakaan karena ia harus meminjam buku untuk mata kuliah Ekonomi Syariahnya. Lalu saat Rahel sudah dekat dengan Adzkia, dia langsung memegang pundak Adzkia, Adzkia tersontak kaget dan memaki-maki Rahel.

“Heh! Kamu sopan dikit dong! Jangan mentang-mentang senior bisa seenaknya saja berlaku tak sopan dengan juniornya!” Adzkia menahan amarahnya dengan istigfar. Rahel sangat tidak mengerti maksud pembicaraan Adzkia, mengapa dia bilang kalau Rahel tidak sopan? Memang apa yang telah dia lakukan kepada Adzkia sehingga Adzkia berkata seperti itu.

“Maksudmu? Berlaku tak sopan? Memangnya kamu saya apakan?” Tanpa menjelaskan semuanya, Adzkia pun langsung meninggalkan Rahel. Tujuan awal untuk meminjam buku di perpustakaan ia urungkan, Adzkia langsung pergi ke Masjid Assyifa, Masjid yang berada di kampusnya itu. Dia mengingat pesan dari murrobiyahnya, apabila amarah sedang memuncak ucapkan istigfar, bila belum reda juga rebahkan diri, bila belum reda juga hendaknya mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat sunnah dengan tujuan meredakan amarah.

Rahel yang masih terpaku di depan perpustakaan langsung mengikuti Adzkia, saat Adzkia masuk ke dalam masjid, Rahel pun mengikuti masuk ke Rumah Allah tersebut. Lalu saat Adzkia masuk ke bagian akhwat, Rahel juga mengikutinya.

“Eehhmm.. Kamu ngapain Hel di sana?” Tanya seorang laki-laki yang sehabis melaksanakan sholat sunnah di pagi hari itu.

“Ehh mm nggg….” Rahel nampak gugup dan tidak bisa berbicara apa-apa.

“Kamu mau bikin onar lagi di sini? Hah!?” Ucap Ahmad yang memang sudah sangat muak dengan semua sikap Rahel selama ini, sayangnya kemarin-kemarin ia selalu menahannya.

Iklan

“Eeh kamu jangan menuduh gitu dong. Ada bukti gak!?” Rahel nampak memarahi Ahmad. Dan hampir saja mereka berkelahi di tempat yang suci itu, untung saja penjaga masjid langsung melerainya, dan Ahmad pun meninggalkan Rahel yang masih berada di Masjid. Lalu Rahel masuk ke dalam bagian ikhwan, tiba-tiba ia mengingat semua kenangan masa lalunya. Keluarga yang harmonis, sayangnya ayah dan ibunda Rahel memang berbeda agama. Ayahnya merupakan seorang muslim yang berasal dari Indonesia, sedangkan bundanya non-muslim yang berasal dari Malaysia. Ia mengingat masa kecilnya saat ayahnya mengajarkan ilmu agama kepadanya, semua terasa indah. Tetapi seperti petir, kilat menyambar kehidupan yang indah itu, saat itu Allah sedang menguji hamba-Nya. Bundanya Rahel selingkuh dengan laki-laki lain dan mendapatkan benih dari hubungan gelap tersebut, langsung saja ayahnya meninggalkan bundanya dan pergi ke tanah air. Sejak saat itu Rahel tidak percaya akan agama karena yang ia tahu ayahnya itu adalah seorang ahli agama tetapi mengapa diberikan cobaan yang begitu berat! Padahal Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya yang telah tertuang di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 286 yang berisi “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya….

Tiba-tiba lamunan Rahel terbuyarkan oleh suara indah yang berasal dari masjid bagian Akhwat sedang melantunkan ayat suci-Nya. Suaranya amat indah, ya itu adalah suara Adzkia, Rahel mengenali suara itu. Benar-benar indah. Hingga tak terasa air mata Rahel pun keluar dari kelopak matanya dan ia menangis sejadi-jadinya.

***

Sejak hari itu Rahel berubah menjadi orang yang benar-benar lebih baik. “Maafin aku ya Mad…” Rahel meminta maaf kepada Ahmad karena memang Rahel sangat sering membuat Ahmad kesal akan perbuatannya yang tercela.

“Eh? Ada angin apa kamu! Gak usah minta maaf lah… Nanti juga kamu kayak gitu lagi. Dasar muka dua!” Ahmad yang memang sudah tidak percaya lagi dengan apa yang dikatakan Rahel malah memaki Rahel dengan hal yang tidak sebenarnya.

“Sumpah demi Tuhan Mad, aku minta maaf sama kamu.” Hampir saja Rahel terpancing amarahnya tetapi dia mengingat Sang Pencipta.

“Aah ya sudahlah terserah kamu lah, Hel…” Lalu Ahmad meninggalkan Rahel yang masih dengan wajah yang tulus meminta maaf.

“Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa Ya Allah.. Dosaku memang terlalu banyak. Ampuni aku.. Aku tidak tahu apakah Engkau akan memaafkanku atau terus membiarkanku tersesat di jalan yang salah.”

“Tidak Rahel. Allah itu Maha Pemaaf, Dia membukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya untuk hamba-Nya yang bersungguh-sungguh untuk bertobat.” Suara yang berasal dari belakang Rahel membuat Rahel menghapus air matanya yang mulai bertebaran di wajahnya itu. Ya, dia adalah Putri Adzkia Ramadhani.

“Maafkan aku ya, aku benar-benar minta maaf.” Lalu Rahel pun menunduk seakan ia benar-benar menyesali perbuatannya.

“Sudah kumaafkan dari sebelum kamu meminta maaf.”

“Kamu benar-benar wanita yang baik sekali. Belum pernah aku melihat kamu sebelumnya. Tapi dari mana kamu tahu namaku Rahel?” tanya Rahel heran.

“Siapa sih yang tidak tahu nama kamu?” Senyuman dari wajah nan cantik pun merekah indah di bibirnya. Lalu Adzkia pun meninggalkan Rahel yang masih terpaku.

“Siapa namamuuu?!” Rahel berteriak sehingga membuat semua mata tertuju padanya. Tetapi dia memedulikannya.

“Adzkia!” Adzkia menoleh sebentar untuk menjawab pertanyaan Rahel lalu melanjutkan perjalanannya.

Iklan

***

Sejak saat itu Rahel benar-benar berubah dan lebih banyak memperdalam ilmu keagamaannya dengan belajar mengaji. Dia yang mengaku telah jatuh hati kepada Adzkia yang telah membuatnya seperti sekarang, dia bertekad untuk mengkhitbah Adzkia jika ia sudah mampu dalam hal apapun.

Hari ini Adzkia telah mengakhiri semester 5-nya di Malaysia dan dia mengadakan perpisahan kecil-kecilan dengan sahabatnya. Dia akan kembali ke tanah air dengan sertifikat dan berbagai pengalaman yang tak akan dilupakannya.

(bersambung ke bagian 3)

Iklan

rumahmedia/nubar – nulis bareng

One comment

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.