Runtuhnya Tembok Penghalang Surga (bagian 3 tamat)

Iklan

Judul: Runtuhnya Tembok Penghalang Surga

Penulis: Santika Febriyani

Buku: Di Langit Kerinduan #1

Hari ini Adzkia telah mengakhiri semester 5-nya di Malaysia dan dia mengadakan perpisahan kecil-kecilan dengan sahabatnya. Dia akan kembali ke tanah air dengan sertifikat dan berbagai pengalaman yang tak akan dilupakannya.

“Kamu lihat Adzkia gak?” Tanya Rahel kepada teman satu fakultas dengan Adzkia.

“Lah, kamu gak tahu Hel? Dia kan udah balik ke Indonesia. Dia di sini cuma 1 semester aja.” Setelah mendapat kabar seperti itu, dia langsung terbang ke Indonesia, tetapi sebelum dia mencari dan menemukan Adzkia, dia pergi ke tempat ayahnya yang berada di Indonesia, dia akan menuntut ilmu dengan ayahnya yang sekarang adalah seorang murrobi di Indonesia.

Iklan

***

“Assalamu’alaikum, Umiiiii…… Abiiiii…….” Adzkia berteriak dari halamannya dengan bawaannya yang sangat banyak. Dia tak lupa membawakan banyak oleh-oleh untuk Umi dan Abinya. Adzkia adalah anak satu-satunya di keluarga kecil itu.

“Wa’alaikumsalam Nak, eh Adzkia udah pulang. Abiiii……. Adzkia pulang Bi…” Teriak umi dari halaman yang nampaknya sedang merapikan tanaman kesayangannya. Abi yang sedang membetulkan keran yang rusak segera saja menghambur ke pintu halaman dan menghampiri suara umi dan Adzkia.

“Alhamdulillah anak Abi udah sampai. Ayo masuk, istirahat dulu nanti cerita-ceritanya ya Nak.” Abi mempersilahkan anaknya untuk masuk dulu dan beristirahat. Setelah merapikan semuanya, Adzkia pun kembali ke ruang tengah untuk melaksanakan makan siang bersama, setelah itu barulah Adzkia menceritakan semuanya.

“Oalaahh Ndoo.. Siapa tuh nama anaknya tadi? Kayaknya Umi kenal deh.”

“Aduuh umi sok kenal banget sih!” Ejek abi sambil mengernyitkan alis matanya.

“Iya bener toh Bi, Rahel… Rahel ituu bukannya anaknya si murrobi Rahman ya?”

“Mmm iya Mi emangnya? Abi gak tahu tuh..”

“Iih iya Bi, ingat gak waktu itu dia pernah punya istri tapi katanya istrinya selingkuh terus anaknya yang namanya Rahel itu gak dia bawa soalnya istrinya yang mau ngurus katanya.” Ucap uminya panjang lebar.

“Adduuuhh udah udah ahh, kok jadi bergunjing sih. Udah yuk Bi, Mi, kita sholat dzuhur berjama’ah?” Ajak Adzkia yang memotong pembicaraan uminya karena sudah mulai ngelantur.

Iklan

***

Kedatangan Rahel ke rumah ayahnya disambut dengan hangat oleh ayahnya. Rahel yang memang sudah mengetahui kediaman ayahnya tanpa memberitahu kedatangannya itu agar membuat kejutan untuk ayahnya. Rahel benar-benar berubah, penam-pilannya sudah seperti ikhwan. Ayahnya sangat bangga terhadap Rahel dan sedikit menyesal karena pernah meninggalkan anaknya itu.

Saat Rahel sedang membeli sesuatu di warung untuk ayahnya, dia melihat perempuan yang dia anggap Adzkia. Lalu tanpa sadar ia berteriak memanggil Adzkia.

“Adzkia…” lalu perempuan itu menengok ke arah suara yang memanggil. Benar saja itu Adzkia. Lalu Adzkia sedikit terkejut karena melihat Rahel sedang berada di warung bu Inah.

“Rahell, kok kamu di sini?”

“Aku sedang berkunjung ke rumah ayahku, Adz, kamu?”

“Lho? Rumahku kan memang di daerah sini. Emangnya siapa nama ayahmu?”

“Rahman.. pak Rahman, yang rumahnya di sana tuh…” Sambil menunjuk rumah yang Rahel maksud, Adzkia benar-benar terkejut. Berarti benar yang dikatakan oleh uminya bahwa Rahel adalah anak murrobi Rahman. Berarti apa benar juga ya dengan yang dikatakan umi waktu itu? Apakah karena masalah tersebut Rahel akhirnya menjadi seorang berandal seperti waktu itu?

“Astagfirullah…” Ucap Adzkia tanpa sadar.

“Ada apa, Adz?”

“Eh gak kok, aku pulang dulu ya…”

Iklan

***

Saat sampai di rumah, Rahel pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya; mulai dari Malaysia sampai perihal pertemuannya dengan Adzkia tadi di warung bu Inah. Pak Rahman sedikit terkejut, lalu Rahel meminta ayahnya untuk melamarkan Adzkia untuk dirinya, ayahnya pun tak menolak permintaan yang terpuji itu. Lusa mereka merencanakan untuk segera mengkhitbah Adzkia untuk Rahel.

“Jadi maksud kedatangan pak Rahman ini untuk mengkhitbah anak kami?” Tanya abinya Adzkia.

“Kalau kami sih terserah putri kami saja ya Mi..”

“Iya Bi betul, bagaimana dengan kamu Adzkia?” Adzkia hanya tersenyum dan tertunduk malu.

“Kalau kayak gitu sih diamnya perempuan tandanya iya..” Celetuk pak Rahman membuat semuanya tertawa. Alhamdulillah!

***

Pernikahan pun berlangsung setelah Adzkia dan Rahel menyelesaikan studi S2-nya. Dan mereka hidup bahagia. Pintu surga pun terbuka lebar untuk hamba-Nya yang melaksanakan walimatul ursy dengan jalan-Nya. Rahmat dan keberkahan akan tercurah untuk rumah tangga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah. Ungkapan nafas dan hanturan kata-kata indah untuk mengungkapkan kebahagiaan seorang Putri Adzkia Ramadhani yang baru saja melaksanakan pernikahannya itu pun tak cukup untuk dilukiskan.

Iklan

rumahmedia/nubar – nulis bareng

2 comments

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.