Asa Amira (1)

Asa Amira (1)

Amira, seorang gadis manis asal Sunda yang tinggal di sebuah kampung nun jauh dari perkotaan sana. Ia adalah anak bungsu dari 5 bersaudara. Kakak pertama, kedua, dan ketiga sudah menikah dan tinggal di perantauan demi mengais sebongkah berlian.

Lahir sebagai anak bungsu sangat menguntungkannya. Ia mendapatkan perhatian penuh dari semua orang. Sehingga tak heran ia menjadi anak yang manja. Konon sejak bayi, ia sering nangis dan tahan berlama-lama dengan tangisan tersebut. Kalau belum capek, ia tak akan berhenti menangis walau dibujuk dengan berbagai cara.

Entahlah, sang bunda pun bingung mendiamkan bayi mungil tersebut. Padahal jika sudah nangis lama, efek yang paling minimal ia akan demam setelahnya. Bisa jadi karena sering sakit juga bunda memberikan perhatian ekstra pada gadis kecil itu.

Terkadang sang bunda sering menceritakan kakak-kakaknya saat masih kecil. Bagaimana kakak pertama hidup prihatin dan dengan suka rela berjualan selama masa sekolah. Si kakak yang kedua pun sama, hidup prihatin dari kecil. Begitu juga dengan kakak ketiga, bahkan hanya untuk melanjutkan pendidikan saja si kakak harus rela jauh dari bunda bertahun-tahun lamanya karena mendapatkan beasiswa di pulau seberang.

“Bun, aku pengen kayak kakak,” bisik Amira suatu saat.

“Iya, kakakmu itu lho, dari kecil sudah mandiri.”

“Ga pernah nyusahin orang tua.”

“Sekolah ga pernah pakai biaya.”

“Selalu bantu kerjaan rumah.”

Dan sederet kata-kata pujian lainnya untuk si kakak pertama. Awalnya Amira kecil merasa kagum dan bangga dengan kakak-kakaknya terutama kakak pertama, tapi karena bunda sering mengulang-ulang kalimat yang sama lama-lama Amira merasa bosan. Kekaguman yang awalnya menggunung tak terasa pelan-pelan menjadi api cemburu di dadanya.

Ia iri sama sang kakak yang selalu istinewa walau hanya dalam cerita. Jasadnya di rumah memang tak ada karena sekarang ia sedang berada di pulau yang berbeda, namun namanya hampir setiap hari terdengar di telinga Amira.

Amira menilai ibunya telah pilih kasih, selalu mengagung-agungkan si kakak.

Di situlah benih-benih ketidaksukaan sama kakak mulai tumbuh. Di satu sisi ia ingin meniru kebaikan kakaknya, tapi di sisi lain hatinya berontak, ia tak rela kalau nama kakak selalu menjadi bunga indah di mata sang bunda.

Sementara dirinya merasa semakin jatuh. Ia telah berusaha berbuat baik, namun selalu saja salah di mata bunda. Pernah ia mencuci piring, tapi tak ada satu pun kata pujian mampir di telinganya. Malah lagi-lagi bunda membandingkan dengan kakak.

Wajarkah kalau Amira mulai membenci kakaknya?

rumahmediagrup/wina_elfayyadh