Asa Amira (2)

Asa Amira (2)

“Prang ….”

Terdengar pecahan benda keras di sudut dapur. Nenek Amira yang sedang berada di ruang depan tergopoh-gopoh menghampiri. Ia melihat Amira sedang jongkok sambil memungut pecahan piring satu per satu.

“Amiraaaaa ….”

Suaranya bak halilintar menggelegar terdengar hingga ke ujung jalan. Bunda Amira yang baru pulang berjualan keliling pun mendengar padahal jaraknya masih beberapa meter untuk sampai ke rumah. Ia segera mempercepat langkah sebelum drama terjadi berkepanjangan.

Ia sudah sangat faham bagaimana nenek Amira akan mengeluarkan ratusan ribu kata dengan nada sopran tanpa mau tahu sedang berhadapan dengan siapa jika melihat ada kerusakan pada benda kesayangannya. Saat mendengar nama Amira dipanggil dengan suara kasar, bunda tahu kalau Amira telah melakukan sesuatu yang membuat sang nenek murka.

“Amira, kamu ini ya! Tiap hari ada aja yang membuat jengkel! Dua hari yang lalu gelas kamu pecahin, kemarin panci kesayangan nenek kamu buat rusak, hari ini piring kesayangan nenek kamu pecahkan juga!” bentaknya dengan muka memerah tanda penuh amarah.

“Maaf, nek! Amira ga sengaja,” bisik Amira lirih hampir tak terdengar suaranya.

“Ga sengaja, ga sengaja! Makanya hati-hati. Kamu ini ceroboh banget ya! Elmira kakakmu ga pernah seceroboh ini. Dia selalu hati-hati. Barang-barang nenek aman kalau disentuh dia!” masih dengan suara tinggi nenek mengeluarkan emosinya.

“Amira …” panggil bunda dengan nafas masih ngos-ngosan saat memasuki rumah.

Amira yang sudah bosan dengan ketakutan dan serasa dalam penjara neneknya, mendapatkan secercah harapan akan datangnya pertolongan saat mendengar panggilan sang bunda.

“Makanya hati-hati, jangan grasak grusuk, kan jadi pecah piringnya!” bunda berkata sambil mendekati Amira.

“Kakakmu ga pernah mecahin satu gelas pun di rumah ini. Lha, kamu seminggu ini sudah berapa banyak barang yang pecah. Pantas saja nenek marah-marah!” sambungnya lagi.

Harapan akan pertolongan dari sang bunda pun pupus sudah. Dua kali dalam satu waktu ia mendengar nama kakaknya disebut oleh dua orang yang berbeda. Semuanya menyanjung dia, seolah menganggap Amira hanyalah debu di ujung kuku.

Setelah merapikan semua pecahan piring porselen kesayangan neneknya, Amira perlahan beringsut menuju kamar, melupakan rasa lapar yang ia tahan sejak tadi pagi. Ya, dia memang kelaparan, ia berusaha mencari makanan di atas meja makan karena bunda masih berjualan keliling jadi tak ada di rumah. Mau minta makan ke nenek ia sangat segan. Sifat tempramen nenek membuat ia malas komunikasi dengan nenek, apalagi ia selalu menjadi anak bawang di rumah itu. Nahas, saat mau mengambil nasi, piring porselen (satu-satunya piring yang ia temukan di rak piring) yang ia ambil dan simpan di atas meja tak sengaja tersenggol badan mungil gadis kecil berusia 6 tahun itu.

Wajarkah kalau kebencian terhadap si kakak semakin besar?

rumahmediagrup/wina_elfayyadh