Asa Amira (3)

Asa Amira (3)

Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk Amira. Di ulang tahun yang ketujuh ia diajak jalan-jalan ke ibu kota tempat kakaknya bermukim. Walaupun setiap hari terpupuk kebencian namun jauh di sudut hatinya ada secuil kerinduan. Ia ingin melihat sosok sang kakak.

Maklum, sejak ia balita hingga sekarang si kakak hanya pulang sekali dalam setahun. Itu pun di rumah hanya dua sampai 3 hari. Entah karena memang pekerjaannya yang menuntut harus segera meninggalkan kampung halaman atau karena hal lain Amira tak terlalu peduli.

Perjalanan menuju ibu kota memakan waktu sehari semalam. Katanya karena akhir tahun jadi jalan menuju sana macetnya lumayan parah. Beruntung Amira sangat exciting sehingga sepanjang perjalanan ia tidak rewel.

Begitu sampai di kontrakan Elmira, Amira dan bunda disambut dengan penuh gembira. Mereka melepas kangen setelah lama tak jumpa. Diam-diam Amira memperhatikan seluruh gerakan yang dilakukan kakaknya. Semua aktivitasnya tak ada yang luput dari perhatian dia.

Tak ada satu pun sikap Elmira yang membuat ia kesal, bahkan sang kakak mengajak jalan-jalan ke beberapa tempat wisata selama ia di sana. Tentu saja Amira bahagia dan sangat menikmati moment tersebut.

Apalagi ia pertama kali seumur hidupnya melihat gedung-gedung bertingkat yang menjulang ke langit. Ia sempat terpana saat melihat gedung-gedung apartemen yang terlihat dari kontrakan Elmira. Ia juga sangat terpukau saat naik busway meskipun sempat mengeluh karena penumpang yang sesak. Apalagi saat mengunjungi kebun binatang Ragunan, ia hampir ga mau diajak pulang.

Dari situ, ia memandang sosok kakak Elmira adalah orang yang baik. Bahkan, kakak terlihat sangat menyayangi dan memanjakannya. Maklum ia adalah adik perempuan satu-satunya yang dimiliki Elmira.

Hanya saja, sayang, bibit kebencian terlanjur tumbuh dalam hatinya. Bahkan saat merasakan susahnya menyebrang jalan akibat banyaknya kendaraan, sempat tercetus doa agar kakaknya mati tertabrak mobil.

Doa itu tidak serta merta muncul, tapi karena lagi-lagi bunda menyanjung kakak di depannya. Awalnya dari obrolan biasa saat masak bersama, namun entah karena apa tiba-tiba telinganya menangkap “pujian berlebihan” untuk sang kakak.

Salahkah Amira dalam hal ini?

rumahmediagrup/wina_elfayyadh