Asa Amira (4)

Asa Amira (4)

Hari berganti hari, tahun pun berlalu begitu cepatnya. Kini Amira sudah di tahun ketiga memakai seragam putih biru. Ia belajar sangat keras demi menyamai prestasi kak Elmira.

Ia sangat sebal. Tidak hanya di rumah, Elmira juga menjadi buah bibir para guru di sekolahnya meskipun dia sudah bertahun-tahun lulus dari sekolah itu. Bahkan beberapa guru masih saja menyebut nama Elmira dalam hal tertentu. Beberapa guru bahkan menjadikan Elmira contoh dari kejadian-kejadian yang memerlukan problem solving.

Dari cerita para guru tersebut, Amira tahu kalau sang kakak adalah primadona sekolah. Bukan karena kecantikannya, tapi karena prestasi yang gemilang disertai tindak tanduk yang santun. Ia juga aktif di berbagai aktivitas sekolah. Pernah menjadi ketua OSIS namun tak mengurangi prestasinya sebagai juara umum.

Amira ingin lepas dari bayang-bayang Elmira. Makanya ia belajar sangat keras, berjuang mati-matian demi menyamai prestasi kakaknya. Ia ingin merebut semua perhatian guru maupun orang tuanya. Menurutnya, cara yang paling efektif adalah dengan menaikkan prestasi.

Demi mengejar prestasi itu, Amira melupakan tugas yang lain. Yang ada dalam fikirannya hanyalah belajar dan belajar. Ia tak peduli disebut pemalas karena memang ia enggan mengerjakan pekerjaan rumah. Ia lebih suka belajar kelompok di rumah teman daripada harus membantu nyuci, masak, dan membersihkan rumah. Baginya semua pekerjaan itu hanyalah membuang waktu saja.

Usahanya membuahkan. Sejak kelas 1 semester 2 hingga menjelang kelulusannya, ia berhasil meraih juara umum. Ia juga aktif di kegiatan sekolah dan menjadi murid kesayangan hampir semua guru.

Alhasil, nama Amira-lah yang sekarang muncul di permukaan.

Puaskah hati Amira?

Hilangkah kebencian di hati Amira?

Aktivitas belajar yang menguras tenaga membuat ia tidak lagi memperdulikan rasa bencinya ke Elmira. Ucapan nenek maupun bundanya sudah dianggap angin lalu. Perlahan rasa benci itu terkikis dengan sendirinya. Apalagi Elmira rajin memberi hadiah kepadanya, pun tanpa perhitungan. Apa pun yang Amira minta pasti kakaknya berikan.

Prestasi Amira sedikit banyak membuat bunda dan ayahnya berubah. Mereka sekarang jarang lagi menyebut nama Elmira kecuali saat tertentu. Amira berhasil menyedot perhatian kedua orang tuanya dengan prestasi yang ia raih. Nenek pun sekarang sudah bersikap masa bodoh, menganggap Amira memang berbeda dengan kakaknya.

Hilangkah kebencian di hati Amira?

Belum sepenuhnya. Terkadang ia masih merasa tersaingi. Bahkan saat ini kamar Elmira menjadi kamar pribadi Amira karena ia sudah jarang sekali pulang kampung. Jika pulang pun Elmira lebih memilih tidur di rumah mertuanya. Nah, di kamar itu ada foto peninggalan Elmira tertempel di dinding. Amira sengaja meniru pose sang kakak dan menempelkan foto dengan ukuran yang sama di samping foto tersebut.

Lalu, bagaimana Amira menghilangkan rasa benci terhadap kakaknya?

rumahmediagrup/wina_elfayyadh

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.