Korban Sinetron

“Nda, jangan diganti acaranya. Dede mau nonton film kartun.” Berebut stasiun sering kami lakukan. Aku memang tak terbiasa menonton karena memang seharian berada di sekolah. Selain itu, sekolah kami tidak memperbolehkan ada televisi seperti di ruang-ruang guru pada umumnya. Saat pulang mengajar ingin rasanya sesekali menonton televisi. Bukan tak mau menonton televisi, karena jatah program televisi sudah dikuasai oleh anak-anak. Mereka kerap menonton film kartun atau games yang sekiranya cocok dengan usia mereka. Jarang-jarang aku menonton, eh tiba-tiba saat pulang mengajar kudapati televisi kosong tidak ada yang menonton. Aku rehat sejenak, meluruskan kaki dan pinggang. Iseng kutonton program di sebuah stasiun swasta. Sebuah kisah rumah tangga, aku ikuti alurnya dari awal hingga usai.

“Bagus juga ini acara, tetapi mengapa acara ini mengisahkan seorang wanita yang tersakiti oleh pasangannya?” gumanku dalam hati. Mulailah aku terbawa emosi dengan kisahnya, begitu pandai sang sutradara memainkan perasaan penonton. Sempat aku berdesis, dan mengumpat dengan tokoh suami dan seorang wanita penggoda. Sebagai seorang istri, aku larut dalam skenario yang diciptakan sang sutradara. Pada akhirnya aku seperti berbicara sendiri dan bertanya-tanya. “Apakah setiap laki-laki itu begitu adanya?” Akan mulai bosan dengan suasana rumah tangga yang monoton, istri yang tak mempunyai anak, istri yang tak mampu bersosialisasi dengan kolega suaminya, istri yang tak mampu berpenampilan cantik di depan suami. Semua terangkum dalam sebuah kisah suara hati istri.

Ada quate yang masih kuingat bahwa “Mengapa lelaki tak mampu setia dengan satu orang wanita?” Seketika aku menjadi protektif terhadap suami, yang biasa pulang kerja tak mencium bajunya, aku ciumi baju untuk memastikan bahwa di baju suami tak tercium wangi parfum wanita lain. Lucu juga tingkahku akhirnya, Kala kuciumi baju, yang tercium bau asap dan debu yang menempel di baju, karena lumayan jauh jarak tempat suami bekerja kudapati hanya debu.

Setelah pulang, telat sedikit kutembaki suami dengan beribu pertanyaan. mengapa begini? mengapa begitu? Suami merasakan ada keanehan dalam diriku, kuceritakan semua yang kulihat. Lalu kuajak suami sekalian menonton, aduh ada kata-kata yang masih menggelitiki pikiranku, yang menyebabkanku tersenyum-senyum sendiri. Pernah kubertanya, “Mas sudah bosan denganku?” suami tak menjawab, malah mengatakan “Wah, korban sinerton deh.” jawab suami sambil menepuk kepala.

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.