Masker Jaman Now

“Wihhh, kerennya!” Sahut Fredy, tiba-tiba.

“Apanya?,” Sita mulai kepo melihat ke arah Fredy, yang terus saja menggoda.

“Kamu serius, Sit?, Dengan masker penutup muka kamu seperti itu?.”

“Ya, iyalah. Aku tak tahan dengan asap rokok!. Kan biar aman.”

“Okelah kalau begitu, tapi serius kamu cantik!” Fredy kembali memberi usil.

Di angkutan umum, mereka berdua terpaksa harus berdesakan dengan penumpang lain. Bermacam kelakuan terlihat jelas di sana.

Masker yang dipakai Sita memang bergambar tengkorak yang garang. Memberi seram yang melihat.

Meski curiga dengan senyuman yang mengarah pada dirinya, Sita tetap mengambil jurus kalem bahasa seribu diamnya. Tak peduli dengan sikapnya.

“Fredy, kenapa mereka semua pecicilan begitu, sih!” Sita merasa risih, dipandangi wajah orang-orang baru disekitarnya.

“Karena kamu bikin ulah!”

“Kenapa memangnya?.”

“Masker kamu itu loh.”

“Hmm, seharusnya mereka tahu. Kalau ini masker Jaman now!,” jawaban Sita ketus tak peduli.

“Teu, marah! Hahaha.”

“Biarin!.”

“Ya, sudah. Yuk, kita turun. Sudah sampai di depan kampus.”

Dengan gerak cepat, Sita yang super cuek itu bilang sama mamang angkot yang lama kenal saking sering naik angkot yang satu itu.

“Mang, aku kasbon ongkosnya ya, gak bukan makan nih,” memelas dengan nada tinggi.

“Hush! Apaan sih. Aku Fredy, lelaki terkaya yang boleh sekali ini aku bayarin kamu naik angkot!”

” Hahaha,” setengah kegirangan, Sita akhirnya harus luluh mengiyakan.

“Sssts..Fred! Terima kasih ya!.” Bisik Sita, sambil berlari masuk kampus duluan, pergi meninggalkan Fredy, yang hanya bisa melongo.

“Itu anak! Tapi gue kangen terus sama lu!” Gerutu Fredy dalam hatinya.

Mungkin beginilah suasana yang dibuat tangan Tuhan. Agar salah satu insan ada yang harus sabar, satunya lagi menikmati kebaikan orang lain tanpa diminta balas.

Masker Jaman now, yang udah bikin rempong. Tapi keberuntungan itu selalu berpihak.

Jangan suka memandang orang lain dari sikap yang terlihat, namun selalu i’tibar dulu sampai ke akarnya. Siapa tahu merekalah yang selalu dekat dengan kebaikan itu.

END

Foto : dokumentasi pribadi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.