Bunda’s Gonna Kill Me

Bunda’s Gonna Kill Me

“Good afternoon, is this Syed Rayyan‘s Mommy?”

“Good afternoon. Yes, speaking.”

Nomor telepon sekolah.

Saya biasanya sudah ndredeg duluan kalau menerima telepon ini.

“May I talk to you about Rayyan?”

Kemudian sang guru menceritakan bahwa Rayyan sudah berhari-hari tidak menyelesaikan PR Matematikanya. Pagi itu dengan entengnya ia bahkan bilang bahwa PR nya tidak terbawa. Hadeh!

Saya tentu saja kaget karena setiap pulang sekolah, saya selalu bertanya kepada anak-anak apakah mereka memiliki pekerjaan rumah. Saya juga memastikan mereka mengerjakannya dengan baik di malam hari.

Namun bukan itu saja yang membuat dahi saya berkerut. Sang guru juga bercerita bahwa Rayyan mengatakan sesuatu yang menurutnya aneh.

“He said his mother’s gonna kill him if she found out the truth about his homework.”

Rayyan!!!!!!

Saya antara pingin ketawa sama gemas mau njitak. Kami semua di rumah paham betul betapa dramatic nya si bungsu. Kadang ia akan berbicara layaknya seorang Youtuber asal Amerika dengan aksen tertentu. Ia bahkan sering tidak memahami apa yang dikatakannya sendiri. Hadeh!

Akhirnya ketika ia pulang dari sekolah, saya mengajaknya berbicara. Ia harus tahu bahwa apapun yang diucapkannya tidak bisa serta merta keluar tanpa dipikirkan lebih dahulu. Karena impression masing-masing orang akan berbeda dalam menangkapnya. Dalam hal ini adalah tentang saya, ibunya.

Saya memintanya berterus terang dan menceritakan semuanya. Kemudian saya menyuruhnya berpikir apakah yang ia ucapkan itu benar atau layak dikatakan.

Di saat yang sama sebenarnya saya juga sedang berpikir dan berkaca sendiri. Mungkin saya pernah begitu emosi hingga tanpa sadar melakukan sesuatu yang begitu membekas di pikiran anak itu.

Saya memang pernah mendidik anak-anak begitu keras. Penuh dengan bentakan, kemarahan, dan kadang tangan melayang. Semua muncul sebagai refleksi dari emosi saya yang menumpuk atas suatu masalah yang pernah terjadi dulu. Emosi yang tidak bisa saya keluarkan maupun bendung. Menumpuk dan semakin menumpuk.

Anak-anak menjadi korbannya kemudian.

Beruntung, dengan bertambahnya usia dan ragam masalah yang ada, saya justru belajar banyak untuk menerima. Menerima semua masalah dan kekurangan dalam hidup. Menerima bahwa tidak semua hal bisa saya kendalikan maupun selesaikan.

Saya lalu belajar memaafkan, termasuk memaafkan diri sendiri, menepuk punggung dan berkata bahwa saya sudah berusaha sebaik mungkin. Good job, Bunda. You’ve done your best. Setelah itu baru saya belajar mengubah diri menjadi lebih sabar, lebih terbuka, dan banyak berkomunikasi untuk menghindari masalah.

Self lack yang saya miliki kemudian berubah menjadi self acceptance hingga sadar pentingnya self love. Saya harus mencintai diri sendiri hingga bisa belajar banyak untuk lebih menerima keadaan dan mengasihi orang lain. Sampai akhirnya saya bisa mencapai titik pemahaman atas arti selfless hari ini.

As for Rayyan, setelah berbicara dari hati ke hati dengannya, ia meminta maaf dan berjanji untuk berhati-hati dengan setiap ucapannya. Ia juga menyesal telah berbohong dan memberikan bad impression tentang ibunya pada orang lain. Ia berjanji akan berbicara pada sang guru dan meminta maaf atas kesalahannya.

Walau tentu saja airmata tidak mampu menyelamatkannya dari “hukuman” akibat ketidakjujurannya. Ia tidak bisa menggunakan gawai di akhir minggu ini seperti biasa. Ia juga tidak bisa menonton acara televisi kegemarannya. Ia harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya dan menjalani hukuman sebagai akibat.

Saya juga harus lebih memperhatikan urusan sekolahnya yang beberapa hari ini memang lalai karena sibuk mengerjakan sesuatu. Maaf ya, Nak.

“Rayyan is very smart. He can grasp every subjects and learn very fast. He is also well articulated. He’s just too playful sometimes.”

Beruntung sang guru melihatnya dari sisi yang lain, walau tidak menafikan kekurangannya yang tidak bisa fokus pada pelajaran. Ini adalah pekerjaan rumah saya.

Let’s work together, Nak. Don’t worry, I’m not gonna kill you. Hahaha!

rumahmediagrup/rereynilda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.