Inner Child Penakut Dalam Diriku Kini Menjadi Pemberani

Inner Child Penakut Dalam Diriku Kini Menjadi Pemberani

Kemarin sore. Suami sudah 5 hari tidak di rumah, hanya bisa sesekali video call disaat doi sempat. Tidak bisa setiap saat dihubungi karena sedang meeting nasional. Jehan sakit muntah dan diare sudah 2 hari. Betapa repotnya. Hujan deras luar biasa. Tyaga dan Jehan tidur pulas. Ditambah mati listrik. Lengkap sudah sepinya.

Tiga tahun lalu, dirumah ini, jiwa ribka kecil (Inner Child) yang terjebak dalam tubuh dewasa berusia 36 tahun pasti stres berat bahkan depresi menghadapi anak sakit. Lalu melow nangis berderai-derai dan terkena serangan panik ketakutan karena sendirian akibat kelebat-kelebat trauma saat hujan. Menghadirkan rasa depresi yang rasanya luar biasa tidak enak sama sekali. Ingin beli obat penghilang ingatan supaya saat teringat tidak membuat menangis lagi. Bahkan ingin mati saja rasanya supaya bisa melupakan semua trauma yang menyesakkan jiwa.

Tiga tahun berjuang terus untuk belajar dan berlatih MINDFULNESS PARENTING untuk mengasuh Inner Child (IC)-ku, sekarang alhamdulillah sudah bisa santai luar biasa. Bisa tetap lembut ke Tyaga dan Jehan. Merawat Jehan sakit. Mengurus keduanya meski aku sangat lelah sebab 5×24 jam benar-benar sendirian. Tak ada orang dewasa dirumah yang bisa membantu bergantian urus jehan sakit sebentar saja.

Barusan jam 3 pagi membuka video dari adik bungsu Pamela Wuri yang nge-prank isinya pocong di depan mata. Aku sudah bisa tidak deg-degan apalagi ketakutan. Ribka kecil dalam tubuh dewasaku diusia 39 tahun sudah bisa sangat berani sekarang dan tanpa air mata setetes pun ketika menghadapi semua yang diluar kendali. MasyaAllah alhamdulillah.

Hujan. Satu kata menghadirkan beberapa trauma masa lalu.

1. Trauma masa kecil terjebak banjir ditengah hujan lebat. (1990, usia 10 tahun). Ini merupakan akar dari inner child trauma hujan.

2. Trauma sesudah dewasa, mendapati teman kos hampir diperkosa orang asing yang mencungkil jendela disaat hujan sangat lebat. (2005, usia 25 tahun)

3. Trauma sesudah dewasa melihat korban kecelakaan lalu lintas dalam kondisi telungkup dipinggir jalan dan aku melintasi jalan di depanya yang mengalir darah si korban. Mengalir deras ditengah jalan dan ditengah hujan lebat luar biasa. (2009, usia 29 tahun)

Berkat pertolongan Allah, selama 3 tahun lamanya, jiwa masa kecil yang penuh ketakutan akhirnya bertumbuh dan berkembang menjadi jiwa dewasa (Adult Self) yang pemberani. Alhamdulillah ketiga trauma itu sudah berhasil aku tangani dengan baik. Jadi saat mengingatnya aku sudah bisa benar-benar santai.

Batinku sudah bisa bicara, “Oh hujan ya … ga usah takut ya ribka kecil, ada aku, ribka dewasa disini menjagamu.”

Untuk tumbuh dewasa secara seimbang baik fisik maupun psikis, bukan hanya makan yang banyak dan sehat saja agar tubuh tidak gagal tumbuh. Tetapi perlu mengasuh jiwa masa kecil dalam diri untuk terus belajar mendewasa sesuai tahapan usianya. Agar tidak terjadi kegagalan tumbuh psikis.

Sujud syukur alhamdulillah …

-Ribka ImaRi-
Sokaraja, 14 Februari 2020
Pejuang Trauma Inner Child

Mau belajar mengasuh Inner Child juga?
Hubungi Mentor Ribka ImaRi
wa.me/6285217300183

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.