Jangan Paksa Aku !

Siswaku yang satu ini sebut saja Zian, tiba-tiba saja menyita perhatian bu guru dan teman lainnya. Selama ini ia seperti siswa yang lainnya mengikuti semua kegiatan dan pembelajaran di sekolah dengan baik meskipun kemampuan akademisnya di bawah rata-rata teman sekelasnya.

Sudah seminggu ini tak mau mengikuti aturan belajar di kelas. Ia akan menghampiri meja temannya dan membuang semua yang ada di meja temannya. Bersyukur temannya mau mengerti dan mengalah dengan sikap Zian yang tak biasa.

Jika diingatkan oleh temannya ia akan bertambah ulahnya. Jadi sebagai gurunya aku mencoba memberi pengertian kepada temannya agar bersabar menghadapi ulah Zian, jika bersabar Allah akan memberi pahala kepada hambaNya . Siswaku kemudian akan diam dan menganggukkan kepala.

Kucoba mendekati Zian, “Jika tak mau belajar kita ke luar kelas aja yuk.” Kebetulan saat itu aku tak ada jam mengajar.

Tanpa menjawab ia berjalan keluar kelas. Segera kuikuti dari belakang, ia menuju lapangan sekolah duduk di koridor sekolah sambil menerawang jauh melihat siswa lain sedang berolahraga.

Segera kudekati dan kuajak bicara. “Zian mau olahraga?” tanyaku. Ia gelengkan kepala. Kubiarkan ia sejenak.

“Apakah ada masalah? Boleh kok Zian bicara pada ibu, siapa tahu ibu bisa bantu,” bujukku.

“Aku gak mau dipaksa belajar. Aku capek, bunda selalu suruh aku belajar!” jawabnya diiringi lirih isaknya.

“Mungkin bunda bermaksud baik, Zian.” jawabku mencoba menenangkannya.

“Tapi aku capek belajar terus,” timpalnya.

“Baiklah, bu guru nanti akan coba bicara dengan bunda,” ujarku.

Keesokkan harinya saat jam mengajarku kosong, sengaja kubuat janji dengan bunda Zian untuk bertemu di ruangan guru. Kuceritakan apa yang terjadi selama seminggu ini.

Bulir airmata tampak menetes di pipinya. “Memang saya terlalu keras bu guru. Saya berharap bahwa Zian akan seperti kakaknya yang selalu mendapat rangking di kelasnya. Tapi saya bermaksud baik,” terang bunda Zian diiringi isak tangisnya.

“Setiap anak terlahir istimewa dengan kelebihan dan kekurangannya. Sebagai orangtua wajar jika bunda berharap lebih namun sebaiknya kita dapat mengarahkan, membantu, dan mendukung potensi yang dimiliki Zian,” ucapku.

“Di sekolah Zian adalah anak yang peduli terhadap teman-temannya. Ia suka membantu teman dan gurunya. Ia juga anak yang sopan bun,” lanjutku.

***

Pertemuan kami semoga memberi manfaat, bukan terhadap bunda Zian saja namun juga bagiku sebagai gurunya. Hari ini aku belajar pentingnya bersikap sabar dan bijak dalam menyikapi perbedaan dan karakter anak.

Setiap anak adalah unik mereka tumbuh dengan proses yang berbeda. Oleh sebab itu jangan pernah membandingkan kemampuan mereka. Karena setiap anak mempunyai potensi dan bakatnya masing-masing.

Sumber Foto : Koleksi Pribadi

rumahmediagrup/She’scafajar

2 comments

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.