Kemana Arah kan Membawa Langkah

Sangat Sederhana ketika membaca judul di atas. Sempat terpaku melihat sikap yang tidak sejalan dengan cara berpikir kita.

Kenapa kita bahas ini ya? Sebenarnya apapun yang terjadi kita harus selalu siap menjalani.

Tetapi memang kendalanya juga cukup lumayan berat. Ketika menyaksikan sebuah kejadian di depan mata kita yang sangat menggugah hati, untuk dapat menahan sikap kita.

Dalam hal ini, sikap yang menurut kita tidak sesuai, tentu dengan keharusannya. Kita ambil contoh, begitu banyak pasangan yang sudah tidak lagi mengindahkan mawaddah atau sakinah dalam sebuah hidup berpasangan.

Sudah seharusnya semua pasangan saling menghargai pasangan yang lain. Kenapa belibet ya. Namun seperti itulah kenyataannya.

Banyak yang tidak bisa memperlakukan keluarga diatas segalanya, sementara menyikapi orang lain lebih memberikan kasih sayang.

Maka di sini terlihat jelas, bahwa kesakinahan dan mawaddahpun, penting didalam hubungan dengan pasangan.

Kalau sudah tidak ada kecocokan, mana bisa berlangsung hubungan yang harmonis. Sebaiknya instrospeksi apa penyebab yang menjadi penyulutnya.

Bisa orang ketiga, atau rasa bosan terhadap pasangan. Tetapi selayaknya hal ini tidak terjadi, karena janji menyayangi dari awal ijab kabul berlangsung, sudah diazamkan kedalam sanubari.

Nah, apakah dalam sebuah hubungan, harus kaku seperti yang kebanyakan terjadi di dalam sebuah pasangan. Tentu itu tergantung pasangan tersebut menyikapi.

Masalahnya, apakah mereka memandang baik hubungan atau malah sebaliknya. Harus segera ditemukan solusinya.

Kalau memang masih ada sayang dan cinta, mengapa tidak berupaya untuk melakukan perubahan.

Bukankah pasangan yang solid, harus saling memberi kasih sayang dan dukungan yang lebih, dibandingkan memberi kasih sayang lebih untuk orang lain.

Memiliki iman adalah satu cara agar terhindar dari segala sikap yang memberi harapan palsu, untuk senantiasa menjaga hati pasangan kita tentunya.

Dengan tidak ada tuntutan harus memberi sama seperti yang telah kita terima. Karena yang begitu bukan hubungan harmonis namanya.

Jika hanya menjunjung tinggi keegoisan masing-masing, tidak saling memberi perhatian, untuk apa berjalan bersama. Wallohu’alam.
Foto : dokumentasi pribadi

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.