Asa Amira (8)

Asa Amira (8)

POV Elmira

Namaku Elmira. Anak pertama dari 4 bersaudara. Lahir dari rahim seorang bunda yang sangat lembut dan baik hati. Bahkan ketika ayah meninggalkan kami saat umur adik bungsu berusia 1 tahun, bunda tidak marah. Ia tak pernah menunjukkan emosinya di depan kami.

Ayahku seorang pilot. Terkadang ia pulang ke rumah hanya sebentar karena katanya jadwal terbangnya padat. Saat bunda hamil adik bungsu, ayah hanya pulang satu kali. Dan ternyata saat adikku berusia satu tahun, rahasia besarnya terbongkar, ayah sudah menikah lagi dengan salah satu pramugari yang sering membersamainya terbang.

Bunda tidak pernah marah, dia hanya menangis sebentar di hari ayah benar-benar meninggalkan kami dengan kalimat talak demi tante Mey. Kata bunda, ga apa-apa, tante Mey teman sekolahnya bunda jadi biarkan saja ayah bersamanya. Ah, saat itu aku tak mengerti betapa hati bunda sangat terluka.

Setelah itu, kehidupan kami berubah drastis. Rumah yang selama ini kami tempati bunda serahkan kepada Om Arya adik bunda nomor 2, katanya bunda ga bisa tinggal lagi di rumah itu. Terlalu banyak kenangan yang ingin bunda lupakan. Alhamdulillah nenek dengan senang hati menerima kehadiran kami.

Nenek senang sekali saat tahu kami tinggal bersamanya. Memang beliau sangat kesepian semenjak kakek meninggal dan semua anaknya berumah tangga. Kini ia tinggal sendiri di rumah besarnya. Maka, saat bunda mengatakan ingin tinggal bersama nenek, beliau sangat bahagia, katanya tidak akan kesepian lagi.

Nenek orangnya baik, ramah, hanya bicaranya kadang kurang terkontrol apalagi kalau ada barang kesayangannya rusak. Oleh karena itu, aku sangat berhati-hati saat menyentuh semua benda punya nenek.

Aku punya kelebihan, katanya aku pandai memijit. Entah warisan darimana yang jelas seingatku ga pernah belajar di mana pun. Kalau sedang istirahat belajar kadang bunda atau nenek minta dipijit.

Prestasiku juga di atas rata-rata, bahkan aku bisa mengantongi gelar juara umum di SD maupun SMP. Malah jika ada lomba-lomba antar sekolah biasanya aku yang diutus. Alhamdulillah sudah banyak piala yang kupersembahkan untuk sekolah.

Guru-guru pun hampir semua kenal baik. Ada yang sering ngasih jajan gratis, ada yang sering ngajak nginep di rumahnya, ngajak jalan-jalan, dan sering ngasih barang-barang semisal baju, jilbab, alat tulis maupun sepatu. Mungkin mereka iba karena perlengkapan sekolahku ga pernah ganti, hahaha.

Benarkah aku selalu bahagia dan punya hidup sempurna?

rumahmediagrup/wina_elfayyadh