Asa Amira (9)

Asa Amira (9)

POV Elmira

Kehidupan kami terasa sangat berbeda setelah tinggal di rumah nenek. Tak ada lagi yang namanya jalan-jalan ke mall tengah kota, nonton bioskop, dan ke Gramedia. Padahal aku suka banget membaca dan bisa seharian kalau main di Gramedia.

Kata bunda, sekarang kami harus benar-benar berhemat. Bunda juga selalu memberikan wejangan agar kami (aku dan kedua adik laki-laki) selalu membantu meringankan pekerjaan rumah yang kami mampu. Ini sebagai balas budi karena nenek mengizinkan kami tinggal di rumahnya.

Tabungan bunda juga semakin menipis hingga terpaksa harus jualan keliling kalau pagi hari, jual jajanan di depan sekolah Amira kalau siang hari. Kata bunda biar sekalian antar jemput dia sekolah juga lumayan buat nambah uang sekolahnya kami.

Bagaimana kabarnya ayah? Entahlah, dulu sekali pernah beliau kirim rupiah buat jajan anak-anaknya yang dititipkan ke Om Arya. Ayah hanya bisa menitipkan ke Om Arya karena bunda sepertinya menutup pintu komunikasi dengan ayah. Tapi sekarang ga ada lagi rupiah yang mampir.

Kata Om Arya, ayah sudah ga jadi pilot lagi. Ia diberhentikan paksa karena melakukan kesalahan fatal. Sekarang ayah hidup susah bersama tante Mey di negeri antah berantah. Jejak mereka hilang seolah tertelan bumi.

Anehnya, aku tak pernah merasakan kangen sama ayah, apa mungkin karena ayah juga sering terbang dan jarang di rumah, jadi saat tak ada ayah pun rasanya sudah biasa.

Alhamdulillah aku dan kedua adik laki-lakiku dapat beasiswa penuh, jadi bunda tidak perlu memikirkan biaya sekolah kami. Rizki Allah pun tak terduga, aku mendapatkan beasiswa full hingga lulus S1 karena menjadi juara Nasional olimpiade Matematika.

Eh iya, hampir lupa, aku punya adik perempuan lucu dan imut, namanya Amira. Jarak usia yang lumayan jauh membuat kami ada sedikit jarak. Apalagi sejak SMA kelas 1 aku sudah meninggalkan rumah karena harus tinggal di asrama. Pulang ke rumah hanya saat liburan saja itu pun sebentar dan ga bisa lama karena diam-diam aku membuka usaha online. Aku tidak bisa lama di kampung karena sangat susah sinyal sehingga kesulitan komunikasi dengan para customer.

Bunda tak pernah tahu kalau aku punya usaha kecil-kecilan eh alhamdulillah sekarang sudah mulai membesar. Bunda tahunya aku fokus belajar di asrama. 😁

Amira sedikit berbeda dengan adikku yang lain. Sejak kecil ia sering sakit-sakitan. Tidak boleh terlalu capek. Jika capek sedikit ia pasti jadi rewel dan hebatnya dia bisa nangis berjam-jam. Kalau sudah nangis dia pasti langsung demam. Bunda agak khawatir dengan kesehatannya sehingga terkesan memanjakan dia. Bunda tak pernah menyuruh dia belajar mencuci piring, pakaian, maupun membersihkan rumah.

Ah … Adikku yang satu ini memang istimewa.

rumahmediagrup/wina_elfayyadh

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.