Pamit

Pamit

Peristiwa ini terjadi sekitar enam tahun yang lalu. Saat itu, aku masih menjadi pembuat kue basah yang kujual dengan menitipkan di warung, dan lapak di pasar tradisional.

====

Pagi itu, selepas membereskan perabot masak, pesawat telepon rumah berdering. Saat kuangkat, dari seberang sana terdengar suara Ibu Ketua Pengajian memintaku untuk segera ke rumah salah satu tetangga kami

“Assalamualaikum bu Rama. Maaf, tolong segera ke rumah Pak Kholil ya, kita bantu doa untuk istrinya yang sudah tidak teratur nafasnya,” kata Bu Yadi yang langsung menutup teleponnya tanpa menunggu kujawab.

Maksud hati ingin mandi dan istirahat sejenak, aku jadi buru-buru ganti baju dan segera menuju ke rumah Bu Kholil yang terletak hanya lima rumah dari rumahku. Di sana sudah ada Ibu Adi dan Ibu Somad, termasuk bu Yadi juga. Aku serta ibu-ibu mengambil posisi di sisi kanan dan kiri Bu Kholil. 

Bu Yadi menuntun talqin, dan kami lamat-lamat membaca surah Yasin. Pak Kholil sendiri sibuk dengan ketiga anaknya yang masih kecil-kecil, sambil sesekali mendekati istrinya.

Situasi tampak masih terkendali, nafas Bu Kholil nampak teratur dan tenang. Saat melihat anak-anaknya anteng, pak Kholil lebih intens di samping istrinya. Kesempatan ini dipergunakan aku dan ibu-ibu yang lain, untuk pulang sebentar ke rumah.

Aku segera bersiap untuk mandi sambil menanyakan apakah si sulung sudah mempersiapkan peralatan sekolahnya. Sambil tiduran di sofa, dia menjawab, “Sudah Bunda. Tadi juga sudah sarapan.”

Buru-buru aku mandi, sambil menyalakan keran air. Lamat-lamat kudengar suara, “Bunda, bunda….”

“Siapa ya. Itu di depan ada Rara, Bu,” sahutku setengah berteriak.

“Saya pamit Bun….”

“Oh nggih Bu. Sebentar lagi saya selesai,” sahutku sambil melilitkan handuk di badan.

Saat kubuka pintu kamar mandi, Rara ada di depanku.

“Uh kamu bikin kaget saja,” kataku sambil mendelik.

“Lho, ini Rara yang mau tanya, Bunda bicara sama siapa tadi.” katanya penuh selidik.

“Kamu tuh yang tidak sopan, ada tamu kamu diam saja.”

“Tadi enggak ada siapa-siapa Bunda, jangan-jangan….” Rara menghentikan kalimatnya.

Refleks, segera kuganti baju dan menyisir seadanya lalu kututup dengan hijab.

“Rara, kamu di rumah dulu ya. Nanti ibu antar ke sekolah.” kataku sambil keluar menuju rumah pak Kholil.

“Rara takut Bun. Rara di luar aja ya, sambil lihat Bunda dari jauh.” Dia memegang tanganku dan melepasnya saat kami di depan pagar.

Setengah berlari aku menuju ke rumah itu, dan benar saja, ibu-ibu yang lain sudah berkumpul di sana. Bu Kholil berpulang dipangkuan suaminya dengan ditemani ketiga anak mereka. 

Jadi, tadi itu?

Wallahu a’lam bishawab. 

#Nubar

#NulisBareng

rumahmediagrup/hadiyatitriono

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.