Mereka Ada di Sekitar Kita

“Bu, giliran saya maju kapan ya?” Tanya salah satu siswa. “Nanti ya, kalau sudah dibalas email, baru lihat jadwal interviewnya kapan, di sana ada undangannya.” Jelasku. Ujian praktik bahasa Indonesia masih berlangsung, kami melaksanakan praktik simulasi interview panggilan kerja. Jadi membutuhkan waktu yang lama, satu per satu dipanggil untuk interview.


Dari hari Kamis hingga Sabtu ujian praktik masih berlangsung, karena masih beberapa siswa belum selesai. Hari Sabtu seharusnya pulang siang, akan tetapi kepulangan diundur hingga sore hampir Ashar. Siswa dan guru-guru yang lain sudah pulang.
Giliran salah satu siswi maju, dia anak yang pintar dan pandai. Bisa dibilang anak ini cerdas. Apalagi dalam soal hitung menghitung. Namun ketika interview, dia terlihat berbeda. Gugup sekali ini anak. Jari tangannya gemetaran, wajahnya pucat dan berkeringat. Setiap pertanyaan tidak dijawab dengan tepat, terkadang malah tidak sinkron.

Pertanyaan demi pertanyaan sudah kulemparkan, semakin lama dia semakin tak fokus. Jawabannya pun semakin amburadul. Akhirnya kupercepat interview ini, karena aku melihat dia semakin tak nyaman dan matanya pun berkeliaran. Kepala dan bahunya sedikit menunduk. Lehernya semakin menegang, ketika bergerak layaknya robot yang sedang berinteraksi.

Setelah interview selesai, aku mulai mengevaluasi. Dari awal dia masuk ruangan, sikap duduk, cara berbicara hingga menjawab pertanyaan. “Rina, kamu mengapa begitu tegang? Apakah kamu sedang sakit?” Tanyaku. “Tak apa-apa Bu. Aku tak sakit.” ia jawab dengan pelan dan masih menundukkan kepala. “Kamu grogi atau takut? tanyaku kembali “Tidak Bu, aku tak takut.” ucapnya. “Lantas kamu mengapa? Kamu seolah-olah ketakutan. Apakah kamu melihat sesuatu?” kutembaki ia dengan pertanyaan.

Rina yang semula menunduk, langsung mendongak dan kaget. Kembali aku bertanya “Tidak Bu, aku tidak takut. “Terus kamu, mengapa jawabnya selalu salah malah cenderung kacau, kamu tak fokus dengan pertanyaan.” Aku mulai geregetan, karena pertanyaanku tak ada yang dijawabnya. Ia hanya menggelengkan kepala dan hanya menjawab singkat tiap aku bertanya.

Aku semakin penarasan, kuulangi lagi pertanyaan yang sama. “Kamu takut melihat Ibu? Kamu seram melihat Ibu?” dia hanya terdiam, dan hanya menggelengkan kepala lagi. Sekian lama kubujuk, malah terkesan memaksa, barulah dia berucap. “Aku tidak takut Ibu, dalam diri ibu tidak ada apa-apa. yang aku takutkan sosok di belakang Ibu.” Jelasnya. “Hah, masa sih, memang kamu melihat apa? kita hanya berdua saja kok di ruangan ini.” sahutku. “Itu Bu, di belakang Ibu, ada sosok laki-laki tinggi besar, berbadan hitam legam dan bermata merah. Matanya mengarah ke saya, ia marah kepada saya Bu.”

Sontak aku kaget, bulu kudukku berdiri. Aku langsung membaca ta’awuz. Kembali aku bertanya, “sudah pergi belum?” pelan-pelan aku menggeser dudukku. “Belum, Bu.” Jawabnya singkat. Merinding seluruh tubuhku. Aku beristigfar, berkali-kali. “Tinggi besar Bu, hitam badannya. Merah matanya Bu, seram.” Bisiknya pelan. Selepas mendengar penjelasan Rina, tubuhku lemas, lunglai tak bertenaga. Kucoba menenangkan hati, lalu kuberanjak dari tempat duduk. “Ayo keluar.”

Sambil kurangkul, lalu kuajak dia ke kelasnya. Aku tenangkan ia, ternyata di kelas masih ada beberapa teman Rina, kuceritakan apa yang terjadi. Rina pun menjelaskan semua yang ia alami, hingga temannya merasa takut. Akhirnya kuputuskan ujian praktik dicancel dulu. Aku baru mengetahui jika Rina merupakan anak yang mempunyai kelebihan, mampu melihat makhluk halus.

Wallahu a’lam bisshowab

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.