Benarkah Kesalehan Diwariskan dari Orangtua?

Benarkah Kesalehan Diwariskan dari Orangtua?

Tergelitik hati rasanya saat membaca sebuah pernyataan seseorang bahwa dia mensyukuri takdir yang berlaku pada dirinya karena mewarisi kesalehan dari orangtuanya yang merupakan ulama. Menurutnya darah ulama akan menurun kepada keturunannya. Benarkah demikian? Apakah berarti kedudukan mereka lebih mulia daripada orang biasa yang tak “berdarah ulama”? Mari kita lihat contoh-contoh yang nyata diberitakan di dalam Al Quran.

Nabi Adam alaihisalam. Ada sebuah peristiwa inspiratif dari rekam jejak sejarah peradaban manusia dari biografi lelaki pertama yang diciptakan Allah SWT. Yaitu ketika kedua anak beliau, Habil dan Qabil, berkompetisi meraih cinta Illahi lewat persembahan terbaiknya. Qabil, yang berwatak kurang baik, kurang beriman, cinta dunia, nyatanya sampai tega menghabisi saudara lelakinya tersebut hanya karena menginginkan menikah dengan saudari kembarnya sendiri. Persembahannya buruk dan ditolak oleh Allah SWT sehingga ia tak bisa menikahi Iqlima, saudari kembarnya yang cantik. Jika Qabil memiliki keimanan yang kuat seperti ayahnya, apakah peristiwa pembunuhan pertama oleh manusia itu akan terjadi lewat tangannya?

Koleksi gambar : Quotes Creator

Nabi Ibrahim alaihisalam. Semua tentu sangat hafal dengan profil beliau sebagai seorang nabi yang setiap tahun kisah hidupnya selalu diceritakan berulang kali lewat peristiwa Idul Adha. Bagaimanakah kondisi kedua orangtua Nabi Ibrahim as? Apakah beliau lahir dari orangtua yang ulama atau minimal mengimani Allah SWT? Bukankah ada suatu kejadian di mana bapak beliau memarahi dan menentangnya dengan keras karena Nabi Ibrahim as berani menentang penyembahan terhadap berhala dan Firaun yang saat itu berkuasa dan mengklaim sebagai tuhan? Sang ayah sendiri diceritakan adalah salah seorang pembuat patung berhala. Sebuah profesi yang cukup bergengsi kala itu.

Nabi Nuh alaihisalam. Saat air bah datang, orang-orang beriman berlindung dalam bahtera yang dibuat oleh Nabi Nuh as, tetapi apa yang terjadi pada anak beliau yang bernama Kan’an? Kan’an nyatanya memilih melarikan diri ke atas gunung untuk menyelamatkan dirinya. Dia enggan dan menolak ajakan ayahnya untuk beriman kepada Allah SWT dan bersama-sama naik ke dalam bahtera. Bukankah ketidakpatuhan seseorang kepada Nabiyullah merupakan bukti tiadanya iman di dalam hatinya?

Sumber gambar : Quotes Creator

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Terlahir dari seorang ayah bernama Abu Thalib, seorang penjaga, juru kunci Kabah. Saat itu Kabah dalam kondisi dipenuhi berbagai macam berhala dengan segala ukuran, dari yang terkecil hingga yang terbesar. Abu Thalib meskipun selalu membantu dan melindungi dakwah Rasulullah SAW, hingga akhir hayatnya tetap enggan memeluk agama Islam. Sekalipun berkali-kali keponakan dan anak tercinta mengajaknya, namun Abu Thalib tetap bergeming. Sementara, putra bungsunya justru menjadi salah satu dari 10 orang yang pertama masuk Islam dan dijamin masuk surga.

Mushab bin Umair radhiyallahu anhu. Salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang terkemuka. Beliau dilahirkan dari orangtua penyembah berhala. Ibunya sangat keras menentang Islam dan tak menginginkan anak kesayangannya sampai masuk Islam. Qadarullah, cahaya hidayah singgah ke dalam hati sang putra tanpa diketahuinya. Ketika sang ibu tahu, Mushab bin Umair ra langsung diusir dari rumah. Dicabut semua fasilitas kemewahan yang selama ini diberikan oleh sang ibu dan tak lagi dianggap sebagai anak.

Putri Abu Jahal. Suatu ketika saat Rasulullah SAW masih hidup, santer terdengar sebuah gosip tentang rencana keluarga Abu Jahal yang hendak menikahkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib ra. Tentu semua umat muslim tahu siapa Abu Jahal. Dia adalah salah seorang paman Rasulullah SAW yang paling keras menentang dakwah Islam. Abu Jahal sendiri mati saat perang Badar dalam keadaan kafir. Sedangkan salah seorang putrinya memilih untuk masuk Islam.

Kakak Nabi Yusuf alaihisalam. Terbakar oleh rasa iri dan cemburu karena ayah mereka, Nabi Ayyub alaihisalam, lebih mencintai dan mengistimewakan Nabi Yusuf as, kakak-kakaknya sepakat merencanakan sebuah makar. Mereka ingin melenyapkan Nabi Yusuf as selama-lamanya agar kasih sayang ayah mereka kembali tercurah dengan lebih besar lagi. Maka dirancanglah sebuah skenario untuk menyingkirkan Nabi Yusuf as hingga akhirnya Nabiyullah yang masih belia tersebut terjebak di dalam sebuah sumur kering. Apakah kakak yang memiliki keimanan kepada Allah SWT akan tega berbuat zalim seperti itu kepada adik yang masih kecil?

Allah SWT berfirman, “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al Hujurat, 49: 13)

Maka benarkah keimanan itu diwariskan? Allah SWT sungguh Maha Adil. Bagi yang tidak mewarisi darah ulama atau kesalehan dari orangtuanya, tetap bisa mulia di hadapan-Nya selama tunduk, patuh, dan taat kepada setiap perintah dan larangan-Nya. Takwa. Itulah yang dinilai-Nya.

Wallahu alam bishowwab.

***

Referensi :

Al Quran dan Terjemahnya. 1992. Kitab Suci Al Quran. Bandung: Gema Risalah Press Bandung.

Muhammad Hamami, Dr. Bassam. 2015. Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam. Jakarta: Qisthi Press.

Khalid, Muh. Khalid. 1998. Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah. Bandung: CV. Diponegoro

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.