WORDS

WORDS

Sudah lama rasanya saya tidak berbagi tentang Parenting Fail. Ha? Fail? Iya, beneran. Parenting fail ala saya.

Ilmu Parenting yang saya pelajari sambil jalan bersama suami dan anak-anak. Kesalahan demi kesalahan selama perjalanan itu yang membuat saya makin belajar. Lebih mudah kan belajar dari sebuah ketidaktahuan dan kesalahan?

Jadi begini ceritanya.

Suatu hari, saya membawa anak-anak bertemu dengan seorang teman yang sudah lama sekali tidak berjumpa. Seperti umumnya para ABG nanggung, 2 putri saya sudah sedari awal menyatakan keengganannya untuk ikut. Mereka lebih memilih untuk tinggal di rumah saja. Rayyan? Enggak perlu ditanya, dia pasti melekat kemanapun saya pergi.

Tiba di sebuah restoran tempat kami sepakat bertemu. Setelah semua bersalaman dan berkenalan dengan teman saya, anak-anak pun sibuk dengan makanan di meja masing-masing. Tentu saja setelah lama tidak bersua, kami berdua lalu terlibat dalam perbincangan seru. Sementara putri-putri saya terlihat mulai bosan.

Sang teman berusaha membuka percakapan dengan mereka dan bertanya bagaimana saya di rumah sambil tertawa karena tahu betapa galaknya saya. Si sulung hanya tersenyum, mungkin tidak terlalu paham dengan apa yang dikatakan teman saya. Sementara putri ke dua saya yang memang terkenal judes menjawab sambil bergumam,

“Why does she need to know?”

O’o. Wrong answer.

Mata saya kemudian terbeliak besar sekali ke arahnya sebagai tanda tidak setuju. Kemudian saya melirik ke arah teman saya yang kelihatannya tidak mendengar apa yang dikatakan putri saya. Phew! Tidak enak sekali perasaan saya sebenarnya.

Saya tentu saja harus menahan diri untuk memarahinya, walaupun mimik saya tidak bisa disembunyikan. Saya menyesali jawabannya dan berbisik, “You shouldn’t say that. We’ll have a talk when we reach home.”

Ia kemudian meminta maaf dan menunduk karena menyadari kesalahannya.

Setibanya di rumah, saya bertanya apa maksudnya menjawab seperti itu. Ia tidak tahu alasannya karena hanya spontan menjawab. Kemudian dimulailah pembicaraan dari hati ke hati seperti biasa.

Nak, adab itu sesuatu yang sangat penting. Jauh lebih penting daripada kecerdasan akademis. Kalaupun kamu pintar dan menjadi juara di sekolah namun adabmu nol percayalah, di mana pun kamu berada, orang akan menghindarimu.

Adab, sopan santun, tata krama, memang nampak sepele. Tapi kita dihargai oleh sekitar dari tutur kata dan perilaku, Nak. Respect is earned, not given. Bagaimana lingkungan akan menghargaimu bergantung dari bagaimana kamu menghargai lingkungan sekitar, termasuk menghargai lawan bicaramu.

Kali ini saya merasa gagal mendidiknya. Namun karena ini juga, ia jadi belajar untuk berhati-hati dengan lisannya. Ia juga berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Be kind, Nak. Tutur kata dan perbuatanmu mencerminkan siapa dirimu. Berhati-hati karena tajamnya lidahmu dapat menyakiti orang lain tanpa kamu sadari. Be very careful with what you say or do.

Takut, Nak. Takut ketika ada hati yang tersakiti karena tajamnya lisan. Kita toh tidak berharap ada di posisi yang sama seperti mereka, kan? Sebelum berucap atau berbuat sesuatu, cobalah untuk memakai sepatu yang sama dengan lawan bicaramu. Rasakan kenyamanan pun ketidaknyamanannya. Mampukah kita?

Much Love,

rumahmediagrup/rereynilda

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.