Seutas Tali Cinta Bayangan

Seutas Tali Cinta Bayangan

Oleh: Ribka ImaRi

Akhir pekan lalu, di hari Sabtu, aku justru berkutat dengan 4 ember cucian baju. Karena dua hari sebelumnya tidak sempat mencuci. Tak lama selesai mencuci, aku lanjut menjemur baju sambil menemani kedua anakku, Tyaga dan Jehan menonton televisi. Jarak kami hanya beberapa meter saja.

Selang beberapa saat, suamiku datang menghampiri. Kupikir ia mau membantuku menjemur baju. Duh sudah GR saja aku saat itu. Ternyata suami malah menggangguku di depan anak-anak.

Ya, Tyaga dan Jehan lama-lama sudah terbiasa melihat ayahnya yang super jahil. Aku pun berusaha lebih santai sekarang. Tidak lagi sumbu pendek emosian seperti dulu yang bahkan aku sering menangis kala suami menggodaku sampai kesal maksimal. Dan berakhir dengan pertengkaran.

Tidak asyik kan jadinya. Masak bercanda jadi berantem. Kalau sekarang, aku sudah berusaha siap sedia lebih dulu saat menghadapi candaan suamiku.

Dan benar saja! Jahilnya pun dimulai! Aku sempat kesal ketika suami mendekat dibelakangku yang hanya berjarak beberapa puluh sentimeter saja. Karena aku sedang terburu menjemur baju supaya cepat selesai. Lalu melanjutkan pekerjaan rumah tangga lainnya.

“Bun, nih ayah punya tali. Pegang, Bun! Ujung satunya Ayah masukkan ke telinga Bunda ya” Padahal tidak ada tali, hanya tali bayangan. Kemudian aku berpura-pura memegannya dengan tangan kiriku.

“Ngapain sih, Yah? Mau jahil ya?” tuduhku pada suami. Karena biasanya seperti itu ending-nya.

“Sudah, pegang saja!” perintahnya. Jadi saat itu aku berusaha pausing. Sebuah teknik dari mindfulness parenting dengan menarik napas panjang lebih dulu daripada kesel dengan jahilnya suami nantinya.

Aku hanya berusaha menurut dengan menaruh kembali ke dalam ember, baju yang kupegang dengan tangan kanan karena hendak kugantung di hanger. Sementara suami sibuk melanjutkan aba-aba.

“Sudah dipegang? Nih ayah ikat dulu ke leher.” Kulihat dari ekor mata kananku, suamiku sibuk bergerak-gerak sendiri seolah sedang mengikat tali sisanya di lehernya. Sementara aku diam mematung dengan tangan kiri seolah memegang tali.

“Tarik, Bun!” perintah suamiku lagi.

Kali ini aku pun menututi perintahnya lagi. Aku pura-pura menarik talinya yang tengah kupegang dengan tangan kiri. Tiba-tiba mendaratlah ciuman suami di pipi kananku.

Tyaga dan Jehan yang sedari semula memperhatikan dengan seksama langsung tertawa tersipu malu. Terutama Tyaga, mungkin sudah lebih mengerti candaan ayahnya kali ini.

Dan aku? Sukses senyum-senyum malu penuh ke-GR-an sambil memegang pipi kananku. Hahaha. Persis seperti video di dibawah ini. Video yang dikirim suamiku beberapa hari setelah kejadian di atas.

Sumber video: kiriman dari teman suami.

Usut punya usut, suami mendapatkan video ini dari teman kerjanya. Kemudian langsung dipraktekkan ketika akhir pekan. Untung aku sempat pausing lebih dulu daripada mengomeli suami yang mengganggu aku yang tengah menjemur baju.

Dengan mengedepankan penerimaan keadaan (acceptance) ketimbang mengusir suami yang mendekat, akhirnya berbuah manis. Perlakuan suami yang jahil tapi romantis di depan kedua anak kami, akan terekam indah di memori otak bawah sadar. Kelak akan ditirulakukan anak kepada pasangannya.

Kepada Tyaga, aku membisikkan pesan mesra, “Nanti Mas dewasa punya istri, contoh yang Ayah lakukan barusan ya.” Tyaga hanya ngeloyor ke kamar mandi sambil senyum-senyum malu-malu. Hihihi

-Ribka ImaRi

Seorang istri yang terus berjuang menerima romantisnya suami apa adanya.

Sokarja,

6 Maret 2020

rumahmediagroup/ribkaimari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.