Sepasang Sandal

Ina berjalan dengan lunglai. Kakinya terasa pegal, telapak kakinya memanas karena sandal yang dipakainya telah menipis. Jalannya tertatih, wajahnya hitam memerah terkena panasnya matahari. Meskipun demikian ia tak pernah mengeluh dan meratapi keadaannya.

Hari ini Ina berencana cukup hanya mencari barang bekas di perumahan sebelah kampungnya. Tak tenang rasanya harus meninggalkan rumah terlalu lama, karena emak sedang sakit. Hampir satu minggu emak terbaring lemah.

Gadis sepuluh tahun itu terpaksa harus bekerja untuk membantu emak. Bapaknya telah lama meninggal dunia saat Ina berumur dua tahun.

Sesampai di rumah, Ina letakkan barang bekas yang ia kumpulkan di pojok gubuk rumahnya. Dirasakan tenggorokannya begitu kering, segera Ina menuju dapur untuk membasahi tenggorokan dengan segelas air minum.

Setelah hilang dahaganya, Ina bergegas menuju kamar tidur yang dipisahkan dengan kelambu usang. Melihat emak terbaring lemah di tikar, tak tega Ina melihatnya. Segera ia menawarkan minuman untuk emaknya.

Ina merogoh saku celananya, ada uang 7000 ribu. “Ina ke warung dulu ya mak,” bisiknya lirih di telinga emak. Hanya anggukan kecil yang dapat emak lakukan untuk membalas percakapan anaknya.

Tak berapa lama Ina sudah kembali dengan sebungkus nasi dengan lauk tempe dan tumis kangkung. Ina membantu emaknya untuk duduk dan dengan perlahan berusaha menyuapi emak.

Emak mengunyah makanannya dengan perlahan sambil mengelus kepala putri satu-satunya. Ada gurat sedih di relung hatinya, melihat putri kecilnya harus bersusah payah agar dapat bertahan hidup.

“Cukup nak, emak sudah kenyang. Kamu juga harus makan ya,” ucap emak lirih.

Ina segera menghabiskan nasi bungkusnya. Kemudian mengambilkan air minum dan membantu emak untuk minum obat sakit kepala yang dibelinya di warung tetangga.

***

Tangan mungilnya menghitung rupiah yang tersimpan apik di bawah tikar. Tak cukup, pikirnya. Sepasang sandal baru begitu diinginkannya. Namun ternyata uangnya tak pernah cukup.

Ia sadar, harus bersabar lagi dan bekerja lebih giat agar dapat mengumpulkan barang bekas lebih banyak lagi. Namun untuk saat ini sepertinya keinginannya harus ditahannya, karena yang terpenting baginya adalah kesehatan emak.

Sumber Foto : Koleksi Pribadi

rumahmediagrup/She’scafajar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.