Dokumentasi Data Buku Pribadi, Penting atau Tidak?

Dokumentasi Data Buku Pribadi, Penting atau Tidak?

“Aduh, aku lupa ikutan event apa aja, ya? Saking lamanya belum terbit-terbit!”

“Aku lupa nama pijenya. Judul bukunya juga lupa. Tapi ingat nama bulan saat bergabungnya.”

“Oh, judul buku “A” nggak ada di grup punya Mbak? Di grup yang lain, ya? Maaf, saya nggak ada catatannya.”

“Maaf, Mbak, mau tanya. Kalau event judul “C” siapa pijenya, ya? Saya lupa dari area mana.”

Komentar-komentar tersebut pernah Sobat dengar di grup nulis yang diikuti? Kita termasuk yang bilang begitu di setiap grup nulis yang diikuti? Ataukah kita sebagai pije atau pengelola grup nulis dan sering mendapatkan ungkapan-ungkapan kurang menyenangkan semacam itu?

Pada dasarnya kita memang tidak berhak menghakimi atau menyuruh-nyuruh orang lain yang lupa mendokumentasikan kegiatan nulisnya untuk tertib dalam pendokumentasian. Meski minimal untuk mereka sendiri. Tetapi jika kita sebagai orang yang tidak tertib dalam hal pendokumentasian, rasanya kurang pantas untuk mengatakan kealpaan diri sebagai peserta sebuah proyek nulis tanpa mau meraba perasaan orang lain yang membaca ungkapan kita tersebut.

Pernah merasakan posisi sebagai pije atau pihak penyelenggara event nulis, Sobat? Coba bayangkan apa yang Anda rasakan saat menghadapi kontributor yang beragam komentar tetapi kealpaannya hanya satu, yaitu tidak tertib dalam hal pendokumentasian. Sudah alpa membuat pendokumentasian sendiri lalu menambahi dengan embel-embel ”saking lamanya, buku belum terbit juga, dan sebagainya”. Bagaimana kita bisa lupa dengan nama event dan pije yang diikuti tetapi tidak lupa untuk mengatakan bahwa event yang diikuti sudah lama berlangsung? Satu hal yang kotradiktif bukan? Ataukah sekadar ingin ber-playing victim?Atau attention seeker?

Hal-hal kontradiktif tersebut di atas tidak akan terjadi bila kita semua sebagai peserta proyek nulis menyadari akan pentingnya dokumentasi dan mulai membiasakan diri untuk tertib. Faktanya, alih-alih menyadari kealpaan diri sendiri, kita malah terus berargumen yang intinya tidak mau disalahkan dan mencari kambing hitam sebagai pelampiasan kealpaan kita tersebut? Siapa yang dijadikan kambing hitam? Siapa lagi  kalau bukan pihak penyelenggara event dan timnya.  

Jika kita mengikuti proyek nulis atau menerbitkan buku solo, sebaiknya perhatikan juga pendokumentasiannya. Supaya tidak lupa, setiap kali selesai menyelesaikan sebuah proyek, segera tuliskan di satu buku catatan khusus. Bila buku sudah terbit, maka datanya bisa dimasukkan ke dalam portofolio menulis kita. Portofolio itu penting untuk menilai sudah sebanyak apa jam terbang kita sebagai penulis.

Memangnya apa pentingnya dokumentasi atau pencatatan untuk setiap proyek nulis atau buku yang kita buat? Salah satunya untuk menghindari penyakit lupa. Baru sekali satu dua kali menulis sih mungkin masih ingat. Tetapi ketika karya tulis yang dihasilkan sudah puluhan bahkan ratusan, apakah kita sanggup mengingatnya satu persatu?

Sumber gambar : koleksi Nubar Rumedia

Saat menerbitkan buku, kita tetap perlu peduli dan ikut mengawasi setiap proses pengerjaan buku tersebut. Sudah berapa bulan sejak kita menyelesaikan naskah dan pembayarannya? Sudah sampai di tahap mana progress-nya?

Untuk buku yang terbit di penerbit indie, waktu yang diperlukan untuk menerbitkan buku itu sekitar 3-5 bulan. Untuk di mayor, bisa 2-3 tahun. Jika kita menerbitkan di indie tetapi belum terbit juga selama setahun, kita boleh bertanya kepada pihak penerbit. Bertanya dengan santun, bukan berkata halus dengan bahasa menyindir atau kata-kata berkonotasi negatif lainnya. Bertanyalah karena memang ingin tahu ada kendala apa, bukan karena ingin nyinyir.

“Mbak, kok, namaku nggak ada di cover buku yang sedang dicetak?” Pertanyaan seperti ini mungkin terdengar sepele, tetapi cukup membuat pihak penyelenggara atau penanggung jawab proyek kelimpungan, lho. Sebab pije harus membuka kembali catatan dokumentasinya. Bila tidak menemukan jawabannya, pije akan meminta tolong leader-nya untuk membantu memeriksa data.

Ndilalah setelah dicari dan dibuka data yang ada di pihak penyelenggara, ternyata kontributor yang bersangkutan memang tidak ada dalam daftar nama penulis karena memamng ia tidak pernah mengikuti event tersebut. Ya, wajarlah Namanya tidak tercantum dalam cover buku. Lha wong memang tidak berpartisipasi.

Kalau sudah begitu, siapa yang malu? Ya kontributor yang bersangkutan. Sudah panik duluan. Merasa ikut tapi kenyataannya tidak. Buang-buang waktu pihak penyelenggara proyek nulis juga, kan jadinya?

Jika kita sebagai peserta suatu proyek nulis memiliki catatannya, dari mulai ngirim naskah sampai transfer uang buku, saat sesekali mempertanyakan juga, kan, enak. Pihak penyelenggara juga akan lebih mudah menemukan data kita dalam dokumentasi yang mereka simpan. Peserta antologi itu kan banyak. Nubar Jabar Rumedia saja sudah menghasilkan 50 buku antologi. Artinya secara hitungan kasar, yang ikut menulis ada 1000 orang.

Ada juga kontributor yang baru mempertanyakan kenapa bukunya belum dikirim-kirim juga sementara yang lainnya sudah setelah sekian waktu berlalu. Bisa jadi dulu yang bersangkutan memang mengirimkan naskah, tetapi tidak lanjut saat di proses transferan. Mungkin saja paketnya sudah dikirim tetapi nyangkut atau sampai di tempat lain, dan berbagai hal. Semua bisa ditelusuri asalkan ada dokumentasinya.

Apabila kita sebagai penulis, minimal memiliki catatan peribadi sendiri tentang event-event menulis apa saja yang diikuti, maka tidak akan ada yang namanya merasa buku belum dikirimkan, bisa segera cek jika paketan buku nyasar, dan sebagainya. Memiliki data dokumentasi pribadi juga bisa menghindarkan kita dari kasus penipuan, lho!

Semakin menjamurnya proyek-proyek menulis antologi oleh penerbit indie nyatanya tidak menjadikan para penerbit tersebut selamanya berlaku jujur. Banyak juga yang berlaku curang dengan membawa kabur uang milik kontributor proyek. Beberapa penulis, terutama yang pemula pernah mengalami hal ini.

Nah, setelah menyimak ulasan ini, bagaimana pendapat Sobat semua? Perlu atau tidakkah pendokumentasian pribadi itu? Salam literasi.

***

Rumahmediagrup/rheailhamnurjanah

4 comments

Tinggalkan Balasan ke Rhea Ilham Nurjanah Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.