Diary Hidup

“Kok loyo?” Tanyaku mengawali chat, ketika melihat status di whatsapp salah satu siswa. “Saya cape bu.” Jawabnya singkat. Kembali ku bertanya, “cape kenapa Kak?”

“Saya sedang tidak baik-baik Bu, sebulan ini. Ya memang karena keadaan atau perlakuan orang tua terhadap saya Bu, makanya saya selalu melamun, selalu kosong pandangan. Kadang juga nggak fokus, ya jujur bukan karena sakit Bu, pada awal itu memang karena saya sedang banyak beban pikiran yang saya tanggung, hehehe.” jelasnya panjang lebar, seolah-olah inilah kesempatan untuk meluangkannya lalu ia melanjutkan.

“Eh kemarin baru merasakan sakit, pas kemarin ke klinik kata dokter juga saya kecapean sama terlalu banyak pikiran Bu, jujur saya baru ngomong begini ke orang Bu, ibu adalah orang yang pertama kali saya curhat begini, bahkan saya nggak mau cerita ke temen atau siapapun itu Buu.” Lanjutnya ia bercerita. Aku dengarkan, kubiarkan dia meluapkan perasaannya.

Sebagai seorang guru, aku merasa senang jika ada siswa atau siswi bercerita, mungkin dengan menuangkan isi hatinya, sedikit masalah dalam diri mereka berkurang. Walaupun mungkin aku tak mampu untuk memberikan solusi atau menyelesaikan masalah. Aku cukup mendengarkan saja.

“Ini hanya masalah saya dan keluarga saya Bu, Entah kenapa setiap saya melangkah, saya selalu salah. Saya ingin membantu pun saya salah, saya jujur pun juga salah, saya merasa hidup ini selalu salah, saya merasa cape bu kalau begini keadaannya terus menerus. Di balik senyum dan tertawa saya yang bahagia, ada hati dan perasaan yang tidak bisa saya ungkapkan Bu cukup saya saja yang merasakan tapi saya berusaha menutupi itu semua dengan senyuman dan tawa, padahal saya cape.

Pernah saya mengeluh kepada ibu saya, saya bilang seperti ini “Bu kenapa ya Akhi cape banget.” jujur saya ingin ibu saya peka terhadap saya, tapi justru keluarlah kata-kata yang saya tidak inginkan, Beliau mengucap “Nah itu kamu mau MATI kali ya” sontak mendengar kata-kata tersebut saya kaget mengapa orang tua saya bisa mengatakan begitu terhadap anaknya, padahal omongan itu doa. Cape memang Bu jika mempunyai orang tua yang tidak peduli dengan kondisi anaknya, tapi saya bersyukur, karena orang tua saya masih ada. Ya kalo ibu mau tahu, selama sakit saya yang mengurus sendiri Bu tanpa ada peran orang tua di situ, kalo saya cerita ke orang tua, atau saya mengeluh sakit pasti saya diolok-olok dan dimaki, dan pada akhirnya keluarlah kata-kata yang tidak di inginkan.

Begitu panjang dan lebar dia mengetik kalimat itu, dengan sabar aku menanti apa lagi yang akan dia ceritakan, aku hanya bisa mengatakan, yang sabar ya, silakan kamu ceritakan semua. Curahkan permasalahan kamu, semoga setelah bercerita akan sedikit lega. Setelah kujawab seperti itu, kembali ia mengetik.

“Di balik kenakalan saya, sejujurnya saya ingin diperhatikan Bu karena saya tidak pernah mendapat perhatian dari orang tua saya, Bahkan dalam hidup saya “Orang tua Itu hanya baik dalam sinetron saja…” Saya mengatakan begini karena saya ingin meluapkan isi hati saya dan apa yang saya alami selama ini.” lanjutnya ia bercerita.

“Dari saya masuk awal SMK, banyak saya melakukan kesalahan yang merugikan orang tua saya Bu, tapi itu semua saya lakukan karena saya ingin meluapkan kekesalan, kekecewaan saya bu. Saya selalu merasa kesepian, saya melakukan itu karena ingin mendapatkan perhatian dari orang tua kali itu, tapi sampai sekarang justru keadaan yang saya alami lebih parah daripada tahun-tahun sebelumnya, jujur saya lelah Bu, saya bingung harus bagaimana lagi, tapi saya punya pikiran, saya sekolah tinggal sebentar lagi, maka dari itu saya akan berjuang semaksimal mungkin. Walaupun masih ada luka yang masih saya pendam selama bertahun-tahun.”

Ya Rabb Begitu menyesakan ketika kumendangar curhatannya, seandainya ia ada dan ia seorang siswi, ingin kurangkul ia. Ingin kupeluk ia, dan akan kuberikan bahuku untuknya. Agar ia mampu menumpahkan rasa yang ada dalam hati. Aku lanjutkan untuk membaca curhatannya, begitu berartinya seorang ibu untuk menjadi teman curhatnya.

Setelah ia meluapkan isi hatinya, aku hanya bisa menenangkannya dengan kata sabar. Lalu kembali ia bercerita, “Iyaa Bu saya lega, hal yang sudah saya pendam bertahun-tahun bisa saya ceritakan sekarang, dan saya tidak menyangka kalau Ibu Suratmi lah yang bisa menyimak isi kata hati saya. Selama ini jika saya merasakan hal ini, saya selalu tuliskan dalam BUKU DIARY HIDUP saya saja, hehehe.”

Masya Allah begitu pentingnya seorang guru itu, mereka menganggap guru sebagai pengganti orang tua. Bahkan mungkin mereka akan lebih merasakan kedekatannya terhadap guru melebihi ibunya. Aku merasa begitu berharga, ternyata dugaanku tak meleset sebenarnya ia anak baik, anak yang hanya mendambakan dan meridukan kasih sayang dan perhatian orang tua, apalagi IBU. Peran guru itu begitu penting, bukan hanya mentransfer ilmu. Namun harus mampu menjadikannya nyaman melebihi ibunya sendiri.

Sebelum mengakhiri kisahnya, ia mengatakan. “Aku telah mandiri sejak kecill Bun (mengurus diri sendiri tidak termasuk uang) aku juga selalu berusaha untuk bisa menjadi orang yang sukses di masa depan nanti, semoga belajarnya aku ini setiap malam, akan membuahkan hasil yang sama baik dengan harapankan. Doakan saya ya bu, jika ibu sedang curhat dengan Tuhan.”

Ya Allah, aku meneteskan air mata kala membaca chat nya dia yang terakhir di ujung malam. Dia membutuhkan wali kelas yang mampu sabar dan memahami setiap konflik yang terjadi pada siswanya. Sebagai seorang guru harus mampu menjadi ibu atau bapak di sekolah.

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.