Stop Sampai di Aku Saja (1)

Stop Sampai di Aku Saja (1)

***
Saat aku menulis ini semua, alhamdulillah kondisi psikisku sudah sangat stabil. Sudah bisa bahagia hakiki tanpa tangis, sudah bisa tidak mengamuk apalagi main fisik ke anak. Aku menulis hanya ingin berbagi cerita dan pencerahan untuk semua orangtua jaman sekarang, agar tidak sempat melakukan kesalahan sama sepertiku. Agar anak-anak tidak perlu mengalami kekerasan yang sama seperti jaman kita kecil dulu.

***
Kalau ada sosok yang bikin aku tiada lelah memperjuangkannya sampai titik darah penghabisan, inilah sosok itu. Sosok Inner Child-ku (IC). Karena seindah apapun hidupku sekarang, jika bayang-bayang IC yang suram ini tetap kelebat-kelabat, selamanya aku akan tetap bersedih tiba-tiba di tengah kebahagiaanku. Aku tetap merasa kesepian ditengah keramaian. Inilah sebabnya aku mengidap bipolar genetis (keturunan dari bapak). Karena mengalami dua kutub emosi yang berbeda secara bersamaan.

Bapakku dulu saat tertawa-tawa bahagia di luar rumah, ketika masuk rumah tiba-tiba marah bagai orang kesetanan. Sementara aku yang sedang berbahagia datang ke acara pernikahan teman, tiba-tiba nangis berderai teringat kenyataan sumpah serapah bapak, “lu bukan anak gua.” Lalu aku anak siapa?jika buku nikah dan foto-foto pernikahan tidak pernah ada kulihat dan kupegang seumur hidup sedari aku kecil.

Itulah sebabnya, aku benar-benar berjuang bahagia demi IC-ku bahagia. Aku lelah bermuram durja, sedih tiada akhir teringat masa kecilku yang suram. Aku lelah terus menerus menangisi nasibku IC-ku yang melihat, merasa, mengalami kekerasan verbal dan kekerasan fisik (merusak barang) setiap detik bersama bapakku.

Dengan ACCEPTANCE (ACC) aku terima semua garis takdirku pernah mengalami kekerasan. Aku berjuang memaafkan beliau hanya demi jiwa IC-ku bebas bahagia. Bukan demi apapun. Tapi demi diriku sendiri bisa bahagia tanpa tapi dan alasan apapun. Alhamdulillah sudah lebih dari 1 tahun ini aku sudah bisa tidak pernah lagi menangis tengah malam bahkan sehari-hari.

Tadinya, cuci piring nangis.cuci baju, nangis.masak, nangis.nyuapin anak, nangis. boboin anak, nangis.lihat anak pulas, nangis. Bahkan berkendara apalagi dilampu merah, nangis.pokoknya setiap teringat teganya bapak bilang “lu bukan anak gua, lu anak setan) dimasa kecilku sampai aku dewasa menjelang menikah di usia jelang 30 tahun di bulan Agustus tahun 2010.

Bersyukur mengenal MINDFULNESS PARENTING (ILMU PENGASUHAN DENGAN KESADARAN). Membuatku benar-benar sadar untuk stop semua hal buruk di masa kecilku.cukup sampai di aku saja. Jangan aku teruskan ke anak-anakku.

RADICAL ACCEPTANCE YANG AKU BIKIN UNTUK JIWAKU :

-STOP SAMPAI DI AKU SAJA RANTAI INNER CHILD BURUK INI. INNER CHILD ANAK-ANAKKU HARUS BAHAGIA. JANGAN SAMPAI AKU MENDAUR ULANG POLA ASUH YANG SAMA.

-STOP SAMPAI DI AKU SAJA REKAMAN SUARA SUMPAH SERAPAH BAPAKKU, AKU HARUS BERJUANG SEMBUH. JANGAN AKU TERUSKAN SAKITNYA LUKA BATINKU KEPADA KEDUA ANAKKU.

-ANAK-ANAKKU TIDAK BOLEH KEKERASAN VERBAL YANG SAMA. JANGAN SAMPAI ANAKKU TERTATIH MENDEWASA DENGAN MENANGIS TENGAH MALAM DAN TIBA-TIBA HANYA KARENA TIBA-TIBA TERINGAT PERLAKUAN KEJAM ORANGTUANYA DIMASA KECILNYA.

Kisah nyata dari Ribka ImaRi
Ibu pejuang depresi dan bipolar sejak kecil yang ingin memutus rantai gangguan jiwa genetik ini.

rumahmediagroup/ribkaimari

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.