PASPOR KEJAR TAYANG

Oleh : Jifisa Amin

Salah satu sifat saya yang mungkin menjengkelkan beberapa orang adalah terlalu santai. Kesannya lelet, tidak tepat waktu. Bahkan ada yang terang-terangan menjuluki pemalas. Ah, saya tidak sakit hati, karena kesantaian yang saya lakukan ada alasannya tersendiri.

Namun semua akan berbeda bila saya diajak jalan-jalan alias travelling. Semua bisa saya lakukan dengan cepat, dengan catatan semuanya saya yang atur. Contoh paling dekat adalah saat suami meminta saya mengurus pergantian paspor untuk saya dan 4 anak. Si sulung sudah tergolong dewasa jadi harus urus sendiri. Sementara suami paspornya memang valid terus karena tuntutan pekerjaan.

Berhubung untuk membuat baru atau mengganti paspor perlu kehadiran semua pemegang paspor, maka lebih pas dilakukan hari Sabtu, kala si kakak libur. So, berangkatlah kami ke Kantor Imigrasi Tanjungpandan pada Sabtu kemarin sekitar jam 10 pagi.

Sesampainya di sana, kami diberitahu khusus Sabtu jam pelayanan hanya sampai jam 12 siang. Oh, masih lama ini, pikir saya santai. Saya pun duduk dengan tenang menunggu antrian.

Jam 10.15 saya dipanggil ke meja informasi. Petugas menanyakan mau bikin untuk berapa orang. Saya katakan untuk dewasa ada 2 orang dan 4 orang masih terhitung belum dewasa atau anak-anak. Setelah mendengar jawaban saya, petugas menyodorkan segepok formulir yang harus dilengkapi dengan rentetan minta fotokopi ini-itu. Mata saya membulat, adrenalin meningkat. Apa bisa mengisi semuanya dalam waktu singkat?

Saya terima tumpukan berkas dengan hati galau. Sekarang jam 10.20. Belum fotokopi, belum cari materai, belum cari tempat tenang untuk mengerjakan berkas. Saya keluar dari Kantor Imigrasi dengan otak dan mata memindai beberapa tempat yang cocok dan dekat. Tak ada.

Sambil menyetir, saya pasrah. Biarlah lanjut Senin saja, pikir saya pula. Mepet begini, belum ngapa-ngapain…

Hei! Senin mau minta izin ke sekolah lagi? Suara hati saya protes. Soalnya dia tahu kalau saya paling malas urusan surat menyurat (kecuali dengan kekasih) apalagi perkara minta izin. Pokoknya kamu harus selesai proses berkas, foto, sidik jari, dan wawancara hari ini! Demikian perintah si suara hati.

Sontak radar saya menguat. Suara hati benar. Proses ini tak boleh ditunda. Hasil pemindaian segera mendapati ada fotokopian di arah depan selajur jalan. Alhamdulillah. Saya menepikan mobil.

Bergegas saya turun. Tak disangka tempatnya cukup nyaman. Fotokopian dengan warung makanan ringan, ada meja kecil dan bangku plastik yang cukup untuk 2 orang. Saya letakkan tumpukan berkas, minta izin mengerjakan formulir di meja itu, dan mulai order.

Saya suruh si sulung duduk di samping saya dan mengerjakan berkas pribadinya.
Untung semuanya tersedia di situ. Fotokopi, pulpen, lem, materai. Cuma diperlukan ketenangan untuk mengatur semuanya berjalan lancar, dan saya percaya saya cukup expert bersikap tenang.

Dengan hati-hati tapi cukup cepat, saya tulis tangan semua data yang dibutuhkan. Lalu saya masukkan semua dokumen dalam map. Tiap pemohon mendapat sebuah map. Isi map dewasa dan anak berbeda. Khusus dewasa, penggantian paspor habis berlaku yang dibuat di dalam negeri setelah tahun 2009 cukup membawa e-KTP dan paspor lama. Saya tadi datang tanpa daftar online dulu, jadi saya juga diminta untuk memfotokopi e-KTP dan paspor lama.

Untuk permohonan paspor anak, tiap map harus berisi :

  1. E-KTP dan paspor kedua orang tua yang masih berlaku;
  2. Kartu Keluarga;
  3. Akta Kelahiran atau Surat Baptis;
  4. Akta Perkawinan atau Buku Nikah orang tua;
  5. Paspor Lama;
    Semua dokumen itu dalam bentuk fotokopi di kertas A4, ditambah:
  6. Formulir data diri anak ditandatangani di atas materai oleh orang tua dan surat kuasa orang tua.

Sudah kebayang repotnya?
Sementara waktu tak pernah mundur.

Jam 11.40 akhirnya semua berkas sudah terorganisir rapi. Saya andalkan skill pembalap saya untuk mencapai Kantor Imigrasi dalam sekejap.

Jam 11.45 kami sudah mencapai pintu kantor.
“Ma, petugasnya udah beres-beres,” katanya ragu sambil matanya menatap melalui pintu kaca.

“Masuk saja!” perintah saya tegas.

Syukurlah petugas nan ramah masih bersedia meski mereka harus mengecek semua persyaratan secepat kilat.

“Ibu, sistem kita otomatis mati kalau sudah jam 12. Semoga masih keburu ya,” ujar petugas sigap.

Jam 11.50 satu per satu kami mulai direkam biometrik dan wawancara. Si sulung dan si nomor 3 yang berpakaian casual diminta pakai kemeja. Untunglah disediakan di sana. Lalu klik! Foto di paspor pun pakai kemeja pinjaman.

Gerak para petugas sungguh bikin takjub. Cepat, tenang, semua bergerak demi menuntaskan pesanan seorang ibu dan 5 anaknya sebelum jam 12 teng.
Salut dah.

Akhirnya semua bisa selesai tepat sebelum sistem mati. Untuk biayanya, paspor biasa 48 halaman berharga Rp.350.000,- dan harus dibayar di Kantor Pos/Bank. Petugas tidak menerima pembayaran langsung. Paspor bisa diambil 3 hari kerja sejak pemohon membayar, begitu kata petugas.

Rabu siang, si sulung menjadi delegasi pengambilan paspor untuk kami semua. Hanya menyerahkan lembar permohonan dan bukti pembayaran di Kantor Pos, paspor segera berpindah tangan.

Kini, waktunya merencanakan perjalanan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.