Rindu Diatas Awan – Bagian 1

Rindu Diatas Awan – Bagian 1

Langit terasa ikut muram mendengar amarah beliau. Apa yang sebenarnya terjadi masih menjadi teka-teki bagiku, mereka nampak terpaku dalam diam mendengar dengan seksama. Setiap kata yang diutarkan menjadi penuh emosi tak beraturan, baru pertamakali ini aku melihat beliau semarah itu.

Gerak-gerik mereka seakan menimbulkan banyak pertanyaan, hal apa sebenarnya yang disembunyikan. Apakah itu penting?

Perlahan titik air mulai menjatuhi muka bumi mengubah suasana panas menjadi hening sejenak. Mendengar hujan mulai turun beliau bergegas meninggalkan ruangan dan berpamitan, helaan nafas terdengar keseluruh ruangan itu. Mereka seperti baru saja terbebas dari kurungan penjara puluhan tahun, padahal sekitar sepuluh menit yang lalu suara gertakan keras memenuhi ruangan.

Aku ikut terdiam mengamati setiap wajah yang ada dihadapanku, tatapan mata mereka menerobos jauh entah kemana yang mereka temukan hanya sebuah ketiadaan. Semakin mereka berusaha mencari tahu akan sia-sia saja tidak ada apapun atau siapapun.

Rintik air hujan masih menjadi melodi dalam kehampaan sejenak kami. Walaupun sebenarnya aku sendiri bertanya-tanya. Apakah benar hal itu terjadi?

Meskipun begitu kami berusaha mengingat kembali hari saat kejadian dimana posisi masing-masing. Bagi beliau benda itu sangatlah berharga meski hanya sebuah buku catatan warna merah. Entah apa isi sebenarnya buku catatan itu tidak ada yang tau kecuali beliau sendiri.

Tanah masih terasa basah oleh hujan, jalanan berlubang menjadi tergenang air kini gesekan rantai sepeda memecah keheningan diantara pepohonan rindang. Roda itu terus berputar mengikuti tuan menembus kabut dengan membawa kekakhawatiran. Tidak ada yang menyangka buku itu begitu penting, sesaat setelah mendengar sebuah kabar segera ia mengayuh sepeda kesayangannya.

Sekuat tenaga ia bisa kayuh lelah kini tak dirasakannya, dalam benaknya buku itu harus segera ditemukan kita tidak tahu apa yang akan terjadi bila beliau sampai kehilangan kontrol terhadap dirinya yang sudah mulai sakit-sakitan, bagi kami semua kesehatan beliau jauh lebih penting. Agar dapat membantu lebih banyak orang seperti dirinya, beliau harus tetap sehat dan menanyakan kabar padanya sama seperti pada saat pertama kali berjumpa.

Fajar perlahan mulai menampakkan diri dari ufuk timur, sang pembawa sinar untuk berbagai kebutuhan makhluk hidup yang bergantung padanya. Sang pencipta sungguhlah sangat baik tanpa cahaya sang fajar semua pasti membeku bersama, tidak akan ada senyuman cukuplah hari itu.

Derap langkah kaki seseorang terdengar jelas dari arah pintu masuk seakan sedang memburu sesuatu. Rupanya ia adalah kang asep sapaan akrab beliau, mendengar sahabat karibnya sedang gelisah kang asep buru-buru menemui teman seperjuangannya itu dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Beliau terus bertanya sudahkah buku itu ditemukan? Saat itu, tidak ada orang rumah yang berani menjawab pertanyaan sederhana kang asep.

Semua nampak tertunduk dan memilih diam tanpa memberikan jawaban kepada kang asep, beliau adalah sosok yang paling mengenal siapa kepala keluarga dirumah itu, bagaimana ia marah, sedih, khawatir dan rindu.

Semasa sekolah ia adalah sosok yang paling bijaksana, berwawasan paling luas, paling tahu apa yang harus kita lakukan ketika ujian hidup mulai membuat kami terjatuh-jatuh dia lah yang sanggup membopong kami untuk siap berdiri terus melangkah maju dan tersenyum kembali seperti sedia kala.
Sosoknya sangat berarti, ia harus terus berdiri tegap dan tersenyum seperti beliau biasanya menyemangati kita untuk tetap tegak dan terus melangkah apapun yang terjadi mengingat dengan kondisi seperti saat inipun beliau masih ingin meneruskan mimpi-mimpinya yang belum tercapai.

Rumahmediagroup/SholikhulNur

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.