Dibalik Senja Biru – Bagian 1

Dibalik Senja Biru – Bagian 1

Lirih rasanya jika mengingat kejadian itu. Harus kehilangan sahabat yang membuat kita mempunyai arti bahagia, bisa bercanda sepuasnya dan selalu ada tempat untuk mencurahkan isi hati. Setiap hari tidak ada kata bosan bertemu mereka entah kenapa gara-gara kepompong kita seakan lupa sedih sejenak.

tiga tahun lalu, kami bertemu dalam satu ruang kelas sebagai siswa baru disekolah menengah atas awalnya kami hanya saling pandang setelah melalui hari pertama dan saling mengenal akhirnya suasana menjadi lebih ramai dari sebelumnya.

Seperti hari sebelumnya, kita akan diajak oleh kakak kelas sebagai pembimbing untuk mengenal lebih jauh sekolah yang menjadi tempat menuntut ilmu kami nantinya. Tidak semua dari calon siswa merasa senang seperti yang lain ada juga yang masih merasa canggung walau hanya sekedar mengobrol dan lebih memilih untuk diam.

Diantara mereka ada satu sosok yang mengganggu perhatianku matanya berkaca-kaca, sikap yang pemalu, dan juga cantik. aku ingin mengenalnya lebih dulu dalam hati kusimpan rahasia ini rapat-rapat.


Dalam diam tak terasa aku terus memperhatikan, ia hanya tertunduk memandangi buku sesekali berbincang dengan teman sebangku dan berhasil membuatnya tersenyum. Pertama kali yang kulihat itu bukanlah senyum sebuah kebahagian hanya saja tindakan terpaksa matanya terus berkaca-kaca ia korbankan segala kesedihan untuk satu tindakan bodoh membuat orang lain merasa bahagia.

Kegiatan pengenalan sekolah terus berlanjut dengan berbagai cara kami dibuat nyaman oleh pembimbing, menarik saat harus mengeluarkan bekal yang dibawa dari rumah masakan spesial yang tidak ada duanya itu tiba-tiba harus kami relakan. beberapa dari kami lupa membawa apa yang sudah diinstruksikan saat kami melakoni kegiatan pengenalan sekolah melalui edaran yang dibagikan sekolah sebelumnya.
Sebagai tawaran kakak kelas yang baik hati dengan suara lembutnya perlahan tapi pasti memaksa kami harus membuat keputusan.

“Saat ini ada beberapa dari teman kalian yang tidak membawa bekal, sebagai keluarga jika ada yang kesusahan maka harus kita bantu atau satu tidak makan. Maka, semua tidak ada yang boleh makan sampai selesai kegiatan hari ini.”

Suara lembut nian kini seakan berubah menjadi suara petir membuat kami saling memandang dan bertanya dalam hati bagaimana caranya kami menolong? Ah, sudahlah lebih baik aku masukan saja dan memilih tidak memakannya.

Butuh waktu bagi kami memutuskan entah apa maksud dari kakak pembimbing kami yang cantik nian itu lalu, salah seorang yang tahu tindakanku ikut memasukkan bekal kedalam tas dan akhirnya, diikuti oleh seluruh peserta. Walaupun sebenarnya kami sudah sangat menunggu saat-saat jam istirahat untuk menikmati bekal yang sudah dibawa.

Lalu di sebuah kesempatan yang lain ia tiba-tiba menoleh kearahku. Alamak, ketahuan! Bagaimana ini dadaku tiba-tiba berdegub kencang aku tersipu sendiri sembari melirik-lirik apa dia sudah tidak menoleh kearahku.
Ia tersenyum hangat dengan mata yang terus berkaca-kaca seolah sedang meminta tolong kepada siapa, apa, duh, aku jadi semakin bingung. Untuk mengalihkan perhatian dengan kondisiku saat ini aku berpura-pura tidak tahu dan melihat tapi ia masih saja tersenyum.

Rumahmediagroup/SholikhulNur

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.