KONTINUITAS DAN TRANFORMASI BUDAYA

KONTINUITAS DAN TRANFORMASI BUDAYA

DINAMIKA PEMAKNAAN ONDEL-ONDEL DALAM MASYARAKAT KONTEMPORER

Oleh:Majayus Irone

Rasional

Pada tulisan kali ini akan dibahas mengenai kondisi yang belakangan sering terlihat, yaitu pertunjukan Ondel-ondel yang seringkali kita dapati di pinggir jalan mengamen. Dalam hal ini akan mencoba melihat bagaimana transformasi pemaknaan masyarakat terhadap Ondel-ondel dari kontinuitas pertunjukan Ondel-ondel. Bagaimana Ondel-ondel yang dulunya memiliki nilai sakral, menjadi suatu pertunjukan yang sama sekali tidak menunjukkan nilai tersebut. Maka, menurut penulis menjadi hal yang menarik untuk membahas dan melihat transformasi yang terjadi tersebut.

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam kebudayaan. Dibalik beragamnya kebudayaan yang ada menandakan pula beragamnya etnik dan suku bangsa yang ada di Indonesia. Salah satu suku bangsa yang cukup terkenal di Indonesia yaitu Betawi, karena letaknya yang sangat identik dengan Ibukota Negara, yaitu DKI Jakarta menjadikannya cukup disoroti oleh khalayak. Menjadi sangat menarik melihat dinamika kehidupan suku bangsa tersebut yang kesehariannya dipengaruhi oleh hiruk-pikuk di Ibukota. Betawi merupakan suku bangsa yang terbentuk karena adanya pelunturan identitas etnik, seperti yang tertulis dalam sejarah bahwa dalam Betawi banyak pencampuran budaya-budaya dari Cina, Arab, Melayu, bahkan Portugis. Menurut Yasmine Shahab (2004), etnik Betawi adalah etnik yang sering melakukan pernikahan dengan etnik lain dibandingkan dengan etnis lainnya di Indonesia. Pernikahan campur antara etnik Betawi dan etnik lain sangat marak sejak awal 1960-an, yakni sejak semakin banyaknya pelbagai etnik dari penjuru Nusantara datang ke Jakarta (Abdul Chaer, 2015). Dengan adanya pencampuran-pencampuran tersebut menjadikan Betawi sebagai salah satu suku bangsa yang cukup kaya akan nilai-nilai budaya. Dapat dilihat dari kesenian, bahasa, hingga sistem religi yang dianut mayoritas masyarakatnya. Seperti dalam sistem religi,

masyarakat Betawi banyak terpengaruh oleh bangsa Arab yang datang ke Indonesia. Betawi sendiri sangat identik dengan kepercayaan atau agama Islam. Seperti menurut Amsir (2011:116 dalam Abdul Chaer, 2015:214) bahwa Betawi itu identik dengan Islam. Didukung juga oleh beberapa pakar yaitu Koentjaraningrat (1975:4-5); Telden (1985:8); dan Abeyasekere (1985:21) (dalam Abdul Chaer, 2015:214). Maka tak heran jika peran dari bangsa Arab dalam sistem religi masyarakat Betawi mempunyai peran besar.

Dengan posisinya yang terdapat di Ibukota menjadikan Betawi banyak mengalami dinamika terhadap kehidupan masyarakatnya. Proses urbanisasi yang terus terjadi di Ibukota turut mempengaruhi pergeseran dan persebaran masyarakat Betawi, yang pada perkembangannya mempengaruhi pula pada perkembangan kebudayaan yang ada pada masyarakat Betawi. Salah satu kebudayaan yang sangat identik dengan Betawi yaitu Ondel-ondel, telah melalui beberapa proses yang akhirnya menjadi begitu dikenal seperti saat ini. Ondel-ondel sendiri pada awalnya muncul di Betawi Pinggir, namun Ondel-ondel menjadi sebuah identitas masyarakat Betawi di Jakarta. Ondel-ondel sudah menjadi hal yang tidak asing lagi untuk kita lihat dalam keseharian, khususnya daerah Jakarta dan sekitarnya. Hal ini dikarenakan banyaknya acara kebudayaan Betawi yang memunculkan Ondel-ondel ataupun pertunjukan Ondel-ondel yang secara independen diadakan oleh sekelompok orang dalam bentuk pertunjukan keliling (mengamen).

Bahasan

Dalam tulisannya Eric Hobsbawm dan Terence Ranger yang berjudul the Invention of Traditionmenjelaskan bahwa terdapat kaitan yang erat antara tradisi dengan sejarah. Invention of Tradition yang dikenalkan oleh Hobsbawm merupakan seperangkat praktik-praktik yang berlangsung wajar, sesuai dengan aturan-aturan atau norma-norma yang berlaku umum, melalui pembentukan dan penanaman nilai-nilai, norma-norma dalam perilaku tertentu yang berlangsung melalui pengulangan-pengulangan yang berhubungan dengan sejarah masa lalu. Proses invention tradition adalah suatu proses formalisasi dan ritualisasi yang karakteristiknya merujuk pada masa lalu yang terjadi dan dilakukan secara berulang-ulang (repetisi). Proses ini berlangsung secara kontinu dan berkembang secara luas. The past, real or invented, to which they refer imposes fixed (normally formalized) practices, such as repetition (Hobsbawm 1983, 2).

Dalam sejarah, Ondel-ondel pada awalnya merupakan sebuah media untuk membersihkan, menghindari, dan pelindung dari hal-hal yang gaib. Hal ini pun erat kaitannya dengan religiusitas dan kepercayaan-kepercayaan masyarakat Betawi. Meskipun orang Betawi adalah orang taat pada agama, yang percaya bahwa Allah itu Mahaesa, Mahakuasa, Mahamendengar, dan Mahamelihat, tetapi dalam masyarakat Betawi ada berkembang cerita-cerita atau pendapat-pendapat yang bersifat tahayul (Abdul Chaer, 2015:216). Menurut Alkatiri (dalam Abdul Chaer, 2015:228) tahayul itu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Betawi, dari dulu sampai sekarang, dari lahir sampai meninggal. Dapat dikatakan memang pada pada perkembangannya Ondel-ondel banyak dipengaruhi oleh kepercayaan yang terdapat pada masyarakat Betawi, hal ini pun sejalan selain adanya keyakinan terhadap tahayul orang-orang Betawi pada dasarnya juga meyakini konsep makhluk halus yang diajarkan pada agama Islam. Menurut konsep Islam, makhluk Allah terdiri dari manusia, malaikat, jin, dan setan (Abdul Chaer, 2015:231). Ondel-ondel sendiri pada awal kemunculannya merupakan sebuah kebiasaan yang sering didapati pada Betawi Pinggir, namun berjalannya waktu Ondel-ondel menjadi sebuah identitas masyarakat Betawi di Jakarta. Pada awal-awal perkembangannya, Ondel-ondel sering digunakan dalam upacara-upacara yang terdapat pada masyarakat Betawi seperti Arak-arakan yang merupakan sebuah upacara yang dilakukan pada waktu setelah panen untuk bersyukur kepada Dewi Sri yang diyakini sebagai “Tuhan Lokal” atau pemberi kesuburan (terkait dengan Sign). Pengaruh budaya Hindu sangat terlihat pada Ondel-ondel, terutama pengaruh kebudayaan Hindu dari Kerajaan Tarumanegara. Hal ini dapat dilihat bahwa terdapat budaya Barongan atau Ogoh-ogoh di Bali. Hal yang juga tidak dapat dipungkiri bahwa dalam sejarah tidak sedikit orang-orang Bali yang bertransmigrasi ke Jakarta yang kala itu bernama Batavia. Ondel-ondel menurut masyarakat Betawi Lama dalam bahasa Melayu disebut dengan Kundil yang artinya kembang kertas. Berawal dari hal itu pula yang pada akhirnya mengubah nama Barongan dengan nama Ondel-ondel. Ketika Ondel-ondel mendapatkan ornamen kembang kertas nama Barongan tidak digunakan lagi dan menjadi Ondel-ondel (Saidi, 2011 dalam Supriyanto, 2017). Gambaran tentang mitologi dibentuk menjadi Ondel-ondel dengan konsep membawa pergi setan (roh-roh jahat) dari ladang persawahan untuk keluar dari area tersebut (Saidi, 2011 dalam Supriyanto, 2017). Analogi mengenai keberadaan ondel-ondel pun terungkap melalui salah satu tulisan yang dibuat oleh W. Scot, seorang pedagang Inggris yang pada awal abad ke-17 berada di Banten yang dikutip oleh W. Fruin Mees dalam bukunya yang berjudul Geschiedenis Van Java jilid II. Pada masa

tersebut yaitu tahun 1605, iring-iringan Pangeran Jayakarta Wijaya Krama sudah membawa arak-arakan boneka raksasa dalam acara khitanan Pangeran Abdul Mafakhir. Salah satu bukti jejak lain Ondel-ondel juga terdapat pada kesaksian seorang asal Amerika yang bernama E.R Schidmore yang datang ke Batavia pada penghujung abad ke-19, dalam bukunya yang berjudul Java The Garden of The East dilaporkan adanya pertunjukan seni di Betawi berupa tarian-tarian di jalanan. Walaupun Schidmore tidak secara spesifik menjelaskan tarian tersebut. Pada tahun 1910, bentuk dan struktur ondel-ondel terlihat sepintas seperti boneka Potehi yang ada di Cina. Menurut Jakob Sumardjo (2007:25, dalam Supriyanto 2017) bahwa seni pertunjukan Indonesia, seperti pertunjukan rakyat masih memiliki sifat transenden. Nilai keindahan Ondel-ondel tidak semata-mata dihasilkan berdasarkan pertimbangan konsep yang serba rasional, tetapi pada pemikiran spiritual yang menghasilkan seni perlambangan sesuai dengan peradaban agama (Wiyoso, 1996 dalam Dharsono, 2007:36 dalam Supriyanto 2017:73). Ondel-ondel sebagai benda seni memiliki fungsi yang cukup penting dalam kehidupan masyarakat, walaupun dari segi praktis telah bergeser kepada fungsi non praktis sebagai hiburan dan dekorasi pada masa kini (Supriyanto, 2017).

Dalam perkembangannya, muncul dan terus berlanjutnya kebudayaan Ondel-ondel merupakan sebuah bentuk dari usaha yang disebut oleh Hobsbawm (1983) sebagai the Invention of Tradition. Menurut Yasmine Shahab (2001) dalam tulisannya yang berjudul “Rekacipta Tradisi Betawi: Sisi Otoritas dalam Proses Nasionalisasi Tradisi Lokal”, proses rekacipta terhadap suatu kebudayaan dipengaruhi oleh peran-peran yang dipegang oleh beberapa pihak yang memiliki kuasa. Dalam hal ini, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta sebagai kepanjangan dari Pemda DKI Jakarta, Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) dan organisasi-organisasi Betawi lainnya, serta para praktisi dan profesional seni yang memiliki peran dalam rekacipta kebudayaan Betawi tersebut. Walau dalam perkembangannya juga terdapat problematik mengenai siapa yang lebih memiliki kuasa dalam proses rekacipta tradisi lokal tersebut. Akan tetapi, perlu dilihat juga melalui Historis bahwa dalam proses rekacipta terhadap tradisi Betawi terdapat Agen yang penting, yaitu Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977 yang bernama Ali Sadikin – kelompok elit pemerintah. Pada masa pemerintahannya, Ali Sadikin memiliki minat dan kepedulian yang besar terhadap seni dan sejarah (Pemda DKI 1977; Ranadhan 1972 dalam Shahab 2001) yang akhirnya membawa pada program-program pengembangan Jakarta dan Betawi (Shahab 1994 dalam Shahab 2001). Selanjutnya, dibentuklah Dinas Kebudayaan DKI pada tahun 1968 (Shahab 1994; Ratih 2001; Purwo 2001 dalam Shahab 2001). Dari usahanya tersebut (dapat dilihat agency) banyak diangkat

kebudayaan sebagai rekacipta budaya Betawi oleh Pemerintah DKI Jakarta – yang juga mengangkat Ondel-ondel sebagai budaya Betawi. Dalam hal ini, pemerintah mengangkat budaya Betawi bukan tanpa sebab — melainkan sebagai usaha untuk mewarnai Jakarta dengan tradisi lokal sebagai bentuk identitas yang khas. Mulai dari program-program itulah yang selanjutnya terus mengangkat dan membawa Ondel-ondel sebagai salah satu bagian dalam setiap acara orang-orang Betawi, seperti pernikahan, sunatan, ataupun pertunjukan yang sekarang ini sering dilihat di pinggir jalan (mengamen) dan dikenal banyak orang.

Dari beberapa hal yang sudah disampaikan sebelumnya memperlihatkan adanya sebuah transformasi dan juga kontinuitas dari Ondel-ondel. Dapat dilihat adanya perubahan pemaknaan yang dari Ondel-ondel yang dulunya seringkali digunakan dalam upacara-upacara yang bersifat sakral seperti upacara panen untuk bersyukur kepada Dewi Sri yang diyakini sebagai “Tuhan Lokal” atau pemberi kesuburan ataupun sebagai pembersih, pengusir, atau pelindung dari hal-hal yang gaib – dalam hal ini setan menurut konsep Islam. Menurut Blackburn (dalam Supriyanto, 2017) Ondel-ondel dipentaskan pada acara keagamaan. Pada masa lalu, Ondel-ondel juga memiliki wujud yang menyeramkan dengan penggunaan taring sebagai salah satu unsur menambahkan nilai magis. Namun, setelah adanya rekacipta yang dicanangkan oleh Gubernur DKI, Ali Sadikin; Ondel-ondel mengalami perubahan penampilan, yang dalam hal ini menjadi sebuah seni pertunjukan yang sekaligus juga sebagai simbol nenek moyang yang diperlihatkan dari struktur Ondel-ondel yang masing-masing memiliki nilai – seperti Ondel-ondel yang selalu berpasangan yang melambangkan manusia selalu berpasangan dan menurut masyarakat Betawi setiap pasangan tersebut memiliki kedudukan yang sama, mencintai, dan melestarikan. Adapun penggunaan peci dan juga sarung pada Ondel-ondel sebagai penggambaran orang Betawi yang identik dengan Islam (Supriyanto, 2017). Akan tetapi, yang menjadi problematik adalah pertunjukan mengamen Ondel-ondel yang sedang marak terjadi di beberapa tempat yang menurut penulis merupakan sebuah transformasi yang bersifat menurun dari nilai Ondel-ondel – yang tadinya sakral hingga menjadi simbol nenek moyang, yang pada sekarang seperti hilang nilai-nilai tersebut. Dari hal tersebut, maka sangat dirasakan adanya problematik dalam pemaknaan Ondel-ondel di dalam msyarakat pada masa sekarang, yang bahkan dirasa dari orang-orang Betawi sendiri banyak yang tidak tahu ataupun mengerti nilai-nilai yang ada di dalam Ondel-ondel. Hal ini mungkin sejalan dengan pendapat “Acara Betawi kok tidak ada orang Betawinya” (dalam Shahab 2001), bahwa memang dalam beberapa waktu orang Betawi sendiri jarang diikutsertakan ataupun terhalang dalam setiap usaha pergerakan pelestariannya (terkait Ruang dan Waktu).

Sebagai komparasi, diambil sebuah kasus rekacipta tradisi yang terjadi di Skodlandia. Masyarakat Skotlandia berusaha mengkonstruksikan dan meritualisasikan sejarah masa lalu dan terus dikembangkan oleh kator-aktor penting seperti James Macpherson dan Pendeta John Macpherson, yang pada akhirnya mengukuhkan sebuah sejarah yang ada (pada kenyataannya adalah manipulasi sejarah) sebagai bagian dari perkembangan tradisi dan pengukuhan tradisinya secara nasional. Tartan dalam hal ini menjadi sangat penting untuk dibangkitkan dan dihidupkan sebagai penciptaan jatidiri mereka untuk menunjukan eksistensinya (Hugh, 1989 dalam Shahab 2004).

Simpulan

Jadi, dari semua yang telah dipaparkan dapat diambil kesimpulan bahwa Ondel-ondel menurut perkembangannya mengalami transformasi dalam pemaknaannya, dan hingga saat ini Ondel-ondel masih bisa terus menunjukkan eksistensinya – bukan sebagai suatu hal yang sakral. Akan tetapi, Ondel-ondel saat ini sudah mengalami proses komodifikasi yang tidak terlalu memperhatikan nilai-nilai yang ada pada Ondel-ondel sebagai penggambaran nenek moyang yang syarat akan makna.

Kegiatan Ondel Ondel ngmen keliling kampung juga dapat melunturkan nilai sakral dari Ondel ondel itu sendiri disamping ada penurunan nilai budaya. Ondel- ondel yang dulu dipandang sangat elegan, memiliki kharisma sekarang menjadi tanpa nilai. Dengan ngamen keliling kampung, masuk gang, tidak kenal waktu, pengamennya tidak memilki etika, estetika, bahkan tidak mengerti dan faham tentang ondel ondel itu sendiri. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah, pengamennya anak usia sekolah yang drop out, pengamen bertato, berambut penuh warna warni, tidak menggunakan kostum khas Betawi. Uang yang mereka dapat digunakan hanya untuk kebutuhan makan minum, bahkan ada juga yang digunakan untuk berjudi dan mabuk mabukan. Seharusnya pemerintah dalm hal ini Dinas Pariwisata, Lembaga Kebudayaan Betawi, Bamus Betawi, seniman dan budayawan serta pegiat seni harus urun rembug dalam menyelesaikan benang kusut Ondel –Ondel Ngamen yang sudah meresahkan masayarakat. Stop Ondel Ondel Ngamen..!!!

Sumber Referensi

Chaer, Abdul. 2015. Betawi Tempo Doeloe: Menelusuri Sejarah Kebudayaan Betawi. Jakarta: Masup Jakarta.

Hobsbawm, Eric. 1983. “Introduction: Inventing Traditions.” Dalam The Invention of Tradition, oleh Eric Hobsbawm dan Terence Ranger, 1-14. Cambridge: Cambridge University Press.

Shahab, Yasmine Zaki. 2004. Identitas dan Otoritas: Rekonstruksi Tradisi Betawi. Depok: Laboratorium Antropologi, FISIP UI.

Shahab, Yasmine Zaki. 2001. “Rekacipta Tradisi Betawi: Sisi Otoritas dalam Proses Nasionalisasi Tradisi Lokal.” Antropologi Indonesia 66 46-57.

Supriyanto. 2017. “Bentuk Estetik Ondel-ondel.” Gelar, Jurnal Seni Budaya Volume 15 No. 1, Juli 2017 72-80.

Majayus Irone (Budayawan)/Penulis Rumedia Grup

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.