Penelpon Misterius

            Dering telpon terdengar dari ruang tengah.

“Neng, ada telpon untukmu !” Kakak sepupu memanggilku.

“Ya A.” jawabku. 

Aku yang lagi duduk santai di halaman belakang segera menghampiri panggilan itu. “Dari siapa A ?” tanyaku pada kakak.

“Ga tau katanya dari Tasik, pacarmu kali.” Jawab kakakku ngeledek aku. Lalu kuterima gagang telepon itu.

“ Hallo, assalamua’laikum. Dengan siapa ya ?” tanyaku pada penelpon.

“Ayo tebak siapa ?” jawabnya malah mempermainkanku.

“Ya ga tau ih .’ Jawabku.

            Aku merasa heran selama ini ga pernah ada yang menelponku yang mengaku dari Tasik. Kecuali orang tuaku. Tapi kali ini bukan keluargaku dan aku tak pernah mengenalnya. Lagi pula aku ga pernah memberikan nomor telpon tempat aku tinggal kepada temanku.

            Aku masih berpikir dan mulai menebak-nebak siapakah sebenarnya orang yang menelponku ini. Mungkinkah temanku waktu aku kerja di pabrik ? Ah, bukan. Dari mana dia tahu nomor telpon rumah sodaraku ini?

Dulu memang aku pernah kerja di sebuah pabrik di Bekasi. Namun kemudian aku ikut tes CPNS dan lulus. Karena tempat tugasku dekat dengan rumah uwa, lalu tinggal bersama kakak dari bapakku ini. Uwa punya perusahaan home industri membuat kerupuk. Semua pekerjanya dari kampung. Jadi kalau aku tinggal di rumah uwa serasa di kampung sendiri padahal kami sama-sama perantau. Kalau bilang pulang kampung kami menyebut pulang ke Tasik walaupun sebenarnya kampung halamanku bukan wilayah Tasik. Mungkin karena lebih dekat ke Tasik kalau pulang kampung biasa menyebut pulang ke Tasik bukan ke Ciamis. Lalu siapakah orang yang menelponku yang ngaku dari Tasik ini ? Apakah dia sudah mengenalku sebelumnya ? semua masih misteri.

            “Hallo, siapa dong ?” tanyaku lagi.

            “Aku dari Tasik .” jawabnya.

            “iya, siapa?” Tanyaku lagi agak kesal.

“Kalau memang mau ketemu aku, ke sini aja.”aku menyuruhnya supaya dia segera menjelaskan.

            “ Iya, tapi aku ga tau kamu di mana.” Jawabnya.

            “ Kamu tau nomor telpon ini dari siapa? ” tanyaku lagi

            “ Tau aja.” Jawabnya singkat

            “ Udahlah kamu ke sini aja, kamu turun di depan SMP 1, kemudian kamu jalan kaki ke arah utara, tanyakan aja pabrik kerupuk .” aku menjelaskan karena udah kesal dengannya terus bertele-tele. Aku berpikiran mungkin dia memang orang yang udah aku kenal.

            “ Bagaimana kalau kita janjian aja?” jawabnya

            “ Maksudnya bagaimana ?” tanyaku kurang paham.

            “ Kita ketemu saja di Plaza, di depan Katineung ya !” katanya lagi.

            Plaza adalah sebuah tempat perbelanjaan di Cikampek, dekat dengan pasar tradisional dan terminal. Ada juga pertokoan yang waktu itu tempatnya masih sederhana namun cukup ramai. Sedangkan “Katineung” adalah nama sebuah kios bubur kacang ijo yang terkenal cukup enak. Aku suka mampir ke warung itu jika pulang kerja saat perut terasa lapar. Pelanggannya cukup banyak. Siang ataupun malam tempat itu selalu ramai dikunjungi sekedar untuk menikmati bubur kacang yang disajikan.

            “ Baiklah, aku ke sana bersama kakakku nanti abis magrib.” Aku menyanggupi tawarannya.

            Sehabis magrib, aku mengajak sepupuku untuk menemaniku bertemu dengan orang itu. Aku ga berani jalan sendiri apalagi pergi malam-malam seperti ini. Kakakku saja yang sudah lama tinggal di Cikampek jarang ke luar rumah. Apalagi aku yang baru tinggal di kota ini. Tak lupa sebelum pergi kami pamitan dulu sama Uwa, biar beliau ga khawatir kalau kami pergi ke luar. Kami berangkat dengan menggunakan angkot ke tempat yang sudah dijanjikan.

            “ Emang De udah tau siapa orangnya yang akan kita temui ?” Tanya kakakku

            “ Engga Teh.” Jawabku. Aku biasa memanggilnya “Teteh” walau usianya tiga tahun lebih muda dariku. Dia masih kuliah semester 2. Teteh yang ini adalah anak bungsu dari Uwa. Sedangkan yang paling tua kakak sepupu laki-laki udah menikah dan punya anak. Demikian pula anak uwa yang kedua sudah berumah tangga. Namun yang kedua perempuan. Jadi Uwa mempunyai dua orang anak perempuan satu laki-laki. Dan yang sering main denganku adalah yang bungsu. Mungkin karena sama-sama masih sendiri, kami akrab banget. Sering curhat tentang laki-laki. Ya seperti kebanyakan anak muda lainnya. Dan yang sebenarnya kami itu sama- sama jomblo hehehe…

            Tak berapa lama kami sudah sampai di tempat tujuan. Kami turun dari angkot yang kami tumpangi. Sewaktu kami berjalan menuju tempat yang dijanjikan kami melihat seorang laki-laki sedang bersandar di sebuah kios. Seperti sedang menunggu seseorang. Perawakannya cukup tinggi, rambutnya agak ikal. Tapi kami ga berani menyapanya karena ga mengenalnya. Di depan warung “Katineung” kami masih berdiri sambil menunggu. Berharap ada orang yang akan menyapa. Namun sudah ditunggu kurang lebih 15 menit ga ada juga yang menyapa. Akhirnya kami masuk saja ke dalam warung dan memesan 2 mangkuk bubur kacang karena malu berdiri terus di depan.

            “ Apakah mungkin laki-laki tadi yang di depan itu ya De ?” kata Kakak kepadaku

            “ Ga tau Teh, mungkin juga. “ jawabku.

            Dalam hati aku berkata, kenapa aku bego ga menanyakan ciri-ciri dia. Atau setidaknya dia pakai baju warna apa. Ah, dasar kami gadis-gadis lugu yang ga pernah mengenal laki-laki.

            Tiba-tiba masuklah dua orang pemuda dan duduk di samping kakakku. Kami melirik ke arah dua pemuda itu dan berharap salah seorang dari mereka menyapa biar jelas apakah mereka yang kami tunggu. Namun mereka diam saja dan malah menikmati bubur kacang yang sudah dipesannya.

            Setelah bubur kacang yang kami santap habis, kami pun membayarnya dan keluar dari warung itu karena kalau terus diam di sana risi juga. Setelah beberapa saat di luar tiba-tiba kami dikejutkan deru suara motor yang digass poll. Orang yang menyalakan motor itu seperti sedang kesal atau marah. Dan akhirnya suara motor itu berlalu. Aku dan kakak saling melirik. Mungkinkah orang tadi yang seperti sedang menunggu seseorang dan dia kesal karena orang yang ditunggu ga datang. Kami sungguh tak tau.

            Akhirnya kami menyebrang jalan untuk menunggu angkot yang menuju ke rumah kami. Pada saat kami sudah di seberang jalan, dua orang pemuda yang tadi sama-sama menikmati bubur kacang menghampiri kami. Mereka menyapa kami dan bertanya mau ke mana. Kami menjawab mau pulang. Kami pun berkenalan dengannya. Kakakku memberanikan diri bertanya kepada salah seorang dari mereka, apakah dia sedang punya janji untuk menemui seseorang. Tapi mereka menjawab tidak. Mereka adalah karyawan dari salah satu pabrik yang ada di kota itu. Dan mereka baru pulang kerja. Setelah angkot yang kami tunggu datang, kami pun pamitan sama mereka. Dalam perjalanan pulang kami sama-sama tertawa menertawakan kejadian yang kami alami malam ini. Mengapa kita sungguh bego terutama aku, janjian dengan seseorang tanpa tau siapa yang akan kita temui. Sampai rumah, kami cekikikan terus dan berharap laki-laki itu mau menelpon lagi. Namun sampai larut malam pun tak ada lagi yang menelpon menanyakan aku. Sungguh rasa penasaran itu masih mengisi relung hati. Hingga kini hingga 20 tahun berlalu aku tak tau siapakah yang telah menelponku itu. Ini sungguh pengalaman berharga. Lain kali kalau mau menemui seseorang yang belum kita kenal tanyakan dulu ciri-cirinya. Karena waktu itu tidak seperti sekarang kita bisa telponan lewat what apps dan dapat melihat poto profilnya. Namun 20 tahun lalu, yang namanya handpone masih merupakan barang mewah dan yang punya pun baru beberapa orang saja. Telpon rumah masih barang langka. Kalau ingin telponan harus mengguna jasa wartel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.