PERTUNJUKAN

Pertunjukan

Bel berbunyi, tanda jam istirahat sudah habis, semua teman masuk kelas dengan ributnya. Aku yang tidur di kelas, bangun dengan terpaksa, tidak bisa lagi menikmati mimpi.

“Nanti, kau sudah siap mau tampilkan apa, Dan?” tanya Arman padaku, membuat aku gelagapan.

Ah, ya, wali kelas membuat kebijakan, seminggu sekali, setiap pelajaran terakhir akan diisi dengan pertunjukan. Masing-masing anak menampilkan sesuatu, sesuai dengan kreativitasnya. Bu Darsi–wali kelas sebelas–banyak ide, beda dengan Bu Wati, wali kelas sepuluh. Bu Darsi mengatakan, anak-anak zaman milenial harus aktif, harus memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan dan menjadi ciri khas, sehingga kelak bisa bersaing dengan anak-anak negara lain saat MOU diterapkan.

“Aku gilirannya masih minggu depan, kok, jadwal sesuai absen,” jawabku sambil menguap lebar.

“Ya, semoga saja. Bu Darsi tidak bisa ditebak orangnya. Sana, cepat cuci muka! Ada iler, tuh, nempel!” seru Arman sambil menunjuk ke arahku.

Aku hanya nyengir, kebiasaan kalau tidur emang suka ileran, apalagi kalau sangat lelah, bisa ileran dan mendengkur. Aku kapok tidur saat pelajaran berlangsung karena Bu Darsi pernah merekam dengkuranku. Dia mengatakan akan meng-upload rekaman itu ke sosial media kalau aku berani tidur lagi saat pelajaran berlangsung. Ancaman itu manjur membuat aku tukar tidur saat istirahat saja, saat kelas sepi, lumayan juga, bisa puas mendengkur lagi.

Aku bergegas ke kamar mandi, keburu Bu Darsi datang, dia guru yang sangat disiplin. Kalau sampai kita telat masuk pelajaran dia, ada saja hukuman yang diberikan. Arman pernah datang terlambat dan dia diminta membuat puisi cinta dan membacanya di depan kelas. Bagi sahabatku yang pemalu, hukuman itu sangat membekas, membuat dia kapok datang terlambat.

Begitu aku duduk, Bu Darsi masuk kelas, nyaris terlambat. Arman membuat tanda tos, kutepuk dengan keras, aman.

“Beni! Kau mau menampilkan apa hari ini?” tanya Bu Darsi sambil menatap tajam anak bertubuh jangkung itu.

“Aku suka main basket, jadi akan menampilkan tehnik bermain basket, Bu,” jawab Beni dengan tenang, disambut sorak-sorai semua teman.

“Baiklah, waktumu sepuluh menit, ya. Hari ini enam orang yang tampil. Kenapa beda dengan minggu lalu? karena ibu ingin kalian selalu siap kapan pun diminta tampil.”

Hah, enam orang? Minggu lalu empat orang, sekarang enam? Bisa-bisa namaku termasuk hari ini yang tampil? Wah, gawat ini. Saat Beni maju sambil membawa bola basket, aku sibuk menghitung dengan jari, nama teman sesuai absen, Beni, Bram, Bella, Cantika, dan Camelia.

“Kau kena hari ini, Dan,” bisik Arman sambil nyengir, ternyata ikut menghitung juga.

“Aku tunjukkan apa?”

“Ya, ndak tahu!” Arman angkat bahu, jelas tidak bisa menolong, hanya menepuk bahuku saat melihat aku pucat. Sahabat apa kau ini, awas saja nanti!

Sial! Bagaimana sekarang? Aku belum ada persiapan apa pun. Pikirku masih minggu depan, masih ada waktu, ternyata hari ini.

“Bilang saja belum siap! Palingan kau dapat ceramah dan hukuman. Giliranmu, kan, paling terakhir, Bu Darsi pasti tidak sempat marah nanti,” ujar Arman sok bijaksana.

Tepukan teman-teman melihat penampilan Beni yang terlihat sangat jago men-drible bola membuat aku tambah pusing. Bram yang jago karate juga tampil maksimal. Bella menampilkan tarian tradisional, dengan selendangnya terlihat bergerak dengan lemah gemulai, memukau semua teman, tepuk tangan semakin keras terdengar. Cantika juga tidak mau kalah, menampilkan tarian modern, tubuh semampainya meliuk gesit membuat bangku belakang yang berisi kaumku ramai, penuh suara siulan.

“Ayo! Camelia maju, giliranmu sekarang!” suruh Bu Darsi dengan suara keras, mengatasi suara-suara ramai itu.

Seandainya sehabis Camelia langsung pulang, aku pasti bisa menikmati semua pertunjukan itu seperti mereka. Teman-teman tampil dengan maksimal dan terlihat menjiwai, sesuai dengan bakat mereka. Aku semakin panik, apa yang harus aku tampilkan?

Kelas akhirnya bisa tenang, saat guruku yang memakai baju batik itu mengangkat tangan, meminta semua hening, siap menyaksikan penampilan selanjutnya.

“Ayo, Nak! Kamu mau menunjukkan apa?” tanya Bu Darsi dengan nada lembut.

Keheningan yang cukup lama membuat aku ikut menyimak, memperhatikan ke depan. Camelia, teman yang biasa-biasa saja, selama ini tidak pernah terlihat begitu menonjol di kelas. Wajahnya kalah jauh dengan teman-teman cewek yang lain.

Bella dan Cantika termasuk digandrungi sama teman-temanku, karena memiliki kulit putih dengan wajah cantik. Arman sering membahas mereka berdua, terlihat ikut tergila-gila. Camelia berbeda, dengan kulit cokelatnya dan wajah pas-pasan terlihat sangat biasa. Aku tidak tertarik melihat Camelia, kembali meremas kepala, ingin sekali ada keajaiban yang terjadi, bisa menolong diri ini.

Tiba-tiba terdengar suara Camelia mengalun dengan merdunya. Aku kira dia menyanyi, namun syair yang keluar dari mulut tebalnya itu terdengar berbeda.

“Dia sedang apa?” tanyaku pada Arman yang terlihat matanya begitu melotot, seolah tak percaya dengan pertunjukan dari gadis berambut sebahu itu.

“Camelia sedang mengaji! Dia membaca ayat-ayat Al-Quran,” jawab Arman tanpa menoleh kepadaku, terlihat begitu terpesona dengan suara merdu gadis berkacamata itu.

Aku melihat teman-teman semua terdiam, tidak ada sorak-sorai seperti saat menonton penampilan empat teman tadi. Semua seolah terbius dengan suara lembut Camelia. Ada beberapa teman kulihat menundukkan kepala, menyimak. Aku yang beragama Kristen saja terpaku dengan penampilan Camelia. Wajah itu terlihat berbeda saat ini, seolah bercahaya tatkala melantunkan ayat-ayat suci itu. Sejenak, aku lupa dengan sakit kepalaku.

Saat Camelia selesai, kulihat Bu Darsi menghapus air matanya. Rupanya guruku itu terharu dengan penampilan Camelia. Tepuk tangan bergemuruh menyambut pertunjukan gadis itu yang terlihat terus menunduk tersipu tatkala menuju tempat duduknya.

“Penampilan yang sangat bagus, Nak. Kalian memiliki keahlian masing-masing dan mau menekuninya, itu bagus sekali. Camelia juga menunjukkan sesuatu yang sangat surprise bagi ibu. Agama harus kalian pegang erat, pelajari dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi saat kalian remaja, godaan begitu banyak, salah sedikit kalian akan terjerumus ke lembah dosa dan akan sulit untuk kembali.”

Bu Darsi bertepuk tangan, tersenyum sangat lebar, terlihat bangga pada kami semua. Ketika pandangannya tepat ke arahku, dia mengangguk, mempersilakan aku maju.

Aku merasa panas-dingin, ingin menghilang rasanya. Seandainya saja bisa pinjam kantung Doraemon, pasti aku orang yang paling beruntung. Perlahan aku maju dan menatap mata teman-teman semua sambil garuk-garuk kepala yang terasa mulai gatal.

“Kau mau menampilkan apa, Dani?” tanya Bu Darsi sambil menatapku dengan tajam.

“Tarian monyet kali, garuk-garuk terus, tuh!”

Entah siapa yang nyeletuk, disambut tawa semua. Aku hanya bisa melotot pada semua teman.

“Sialan!” Arman juga kulihat menunduk, dasar ndak setia kawan dia.

Aduh, tampilkan apa, ya? Aku sekarang memasukkan tangan ke saku, takut garuk-garuk kepala lagi. Ada handphone! Ok, baiklah, daripada dihukum aku harus tampil, apa pun yang terjadi, terjadilah.

“Ngapain kamu mengeluarkan handphone?” Bu Darsi terlihat kaget, sama seperti teman-teman.

“Saya jago main game, Bu. Jadi, saya akan tunjukkan permainan itu. Saya ingin jadi Gamer nanti. Zaman milenial pasti dibutuhkan keahlian seperti saya ini, Bu,” jawabku dengan suara keras, biar meyakinkan.

Bu Darsi terlihat menggeleng, menatapku dengan gemas.

“Bagaimana caranya teman-teman tahu kamu ahli main game?”

“Boleh saya duduk di meja biar tinggi, Bu? Teman-teman bisa mengelilingi saya untuk menonton,” usulku dengan cepat, melihat lampu hijau telah diberikan oleh guruku itu.

Ibu paruh baya itu seolah berpikir sejenak, kemudian mengangguk. Aku pun main game dengan asyik, teman-teman terlihat menikmati dan ikut tegang. Sekilas kulihat Bu Darsi tersenyum melihat gayaku main game.

Asyik, akhirnya, setelah sekian lama, ada juga orang yang mau menghargai kegemaranku ini. Semoga, Bu Darsi bisa memuji aku nanti di depan ibuku.

Bali, 23 Maret 2020

rumahmediagrup/Ketut Eka Kanatam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.