Rumah Kos

Rumah Kos

Beberapa orang mahasiswi mendatangi sebuah rumah. Mereka bertujuan ingin indekos di sana.

Rumah itu sangat besar dan mewah. Pemilik kos juga orang yang baik hati. Ia tidak perhitungan dalam memberikan fasilitas penghuninya. Mulai dari kamar mandi sekelas hotel, dapur bersih, laundry gratis lengkap dengan petugasnya, serta harga sewa kos yang murah. Para mahasiswi merasa beruntung menemukan tempat sebagus itu.

Pemilik kos memiliki aturan yang tidak boleh dilanggar. Para penghuni harus menaati jam malam, tidak boleh memasukkan tamu yang berbeda jenis, dilarang keras berbuat mesum, memakai obat terlarang, dan taat membayar uang kos. Mahasiswi-mahasiswi itu pun menyetujuinya.

Seiring berjalannya waktu, para mahasiswi mulai melanggar satu demi satu peraturan. Mereka seakan terlalu nyaman dengan kondisinya sekarang. Kosan itu, seolah menjadi rumah sendiri dengan aturan sendiri. Bukan lagi aturan dari sang pemilik kos.

Beberapa kali pemilik kos mendapat komplain dari tetangga rumah kosnya, terakhir dari bapak RT. Setiap malam ada saja mahasiswi yang mengurung pemuda di kamarnya. Mereka juga sering pulang larut malam dengan berbagai alasan.

“Kampung ini jadi tercemar karena ulah mereka!” kecam pak RT.

Sang pemilik kos pun akhirnya geram. Namun, ia masih berbaik hati karena tak serta merta mengusir para penghuni kos. Ia hanya memutus beberapa fasilitas, seperti air dan listrik. Hal itu saja sudah membuat mahasiswi-mahasiswi itu kewalahan.

Tidak ada air maka mereka tak dapat minum, mandi, bersuci. Tak ada listrik membuat kosan menjadi sangat gelap saat malam, tak bisa menyetrika, dan tak dapat melakukan aktivitas lain yang memerlukan listrik.

Beragam cara dilakukan untuk bertahan hidup. Mulai dari membeli air, menyalakan lilin, sampai membeli makan di luar. Keadaan memaksa mereka merogoh kocek lebih dalam. Hingga uang untuk semesteran juga digunakan agar bisa tetap bertahan.

Ternyata para mahasiswi belum juga jera. Pemilik kos pun meminta security perumahan agar menolak siapa saja yang akan mengantar makanan atau air ke sana. Gadis-gadis itu akhirnya terkena beragam penyakit. Sakit kulit, atau pun sakit lambung.

Berangkat dari cerita tersebut, seakan menjadi cerminan kehidupan kita kini. Tuhan sudah menganugerahkan fasilitas mewah, seperti: kekayaan alam, kebebasan, kesehatan, kehidupan, keluarga, cinta, harta.

Ia hanya meminta untuk selalu menaati peraturan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Namun, ternyata kita terlalu terlena dengan dunia, dan merasa jemawa. Seolah lupa dengan hakikat diri sendiri.

Kita hanya pengontrak, yang bisa sewaktu-waktu diminta ke luar dari dunia ini. Namun, karena kebaikan-Nya, maka Ia masih mengizinkan untuk menghirup nafas dan tinggal di dunia.

Sebuah musibah dan ujian yang Tuhan berikan menjadi bahan muhasabah. Apakah hal itu datang sebagai teguran atau wujud kasih sayang. Sayang karena Ia ingin makhluk-Nya tak terlampau jauh keluar jalur. Teguran agar kita mengerti kesalahan.

Perbanyaklah bersyukur sebagai wujud terima kasih atas semua fasilitas mewah yang sudah Ia berikan. Mari meminta ampun untuk semua kesalahan yang telah diperbuat.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13)

rumahmediagrup/Asri Susila Ningrum

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.