Aaaaaahhh…!

Nurilatih

Pukul 22.35 wib, Ega baru pulang dari Surabaya langsung menuju tempat cuci tangan di depan rumah. Itu juga atas chatpri adik tersayang, Fenti yang biasa tidur sekamar dengannya. Ega tersenyum membaca chat dari Fenti, adik satu-satunya yang begitu sayang dan perhatian kepadanya. Kadang dia menggemaskan, karena dia terlalu over protektif terhadap apa yang Ega lakukan. Meski Ega tahu itu adalah bentuk dari cinta kepada kakaknya. Mengingat ini, maka baju terluar yaitu rompinya dilepas dan langsung dimasukkan ke dalam bak berisi air di halaman depan. Itu sedianya akan dia cuci baju tersebut esok har, karena hari ini sudah malam.

Ini hari ke-3 sepulang dari Surabaya, tenggorokan Ega terasa nyeri hidungnya terasa seperti digelitik. Ini tanda-tanda influenza Ega mendarat lagi. Melihat kenyataan ini Fenti langsung bereaksi untuk menyuruh kakaknya segera minum vitamin, minum air putih yang banyak. Sedikit terbersit dalam pikiran Ega, apakah virus Covid-19 mampir di tubuhnya. Pikirannya melayang jauh ke Wuhan, sebagaimana cerita yang didapat melalui media massa yang tak henti-henti sampai hari ini, sampai masa lockdown berjalan 7 hari. Hidungnya masih terasa gatal dan cairan bening keluar dari sana. Dia belum siap untuk mati. Ega banyak dosa. Ega masih belum bisa membalas kebaikan orang-orang yang telah menolongnya. Juga belum cukup punya banyak tabungan ibadah, meski belajar agama sudah dilakukan sejak lama, meski banyak nasihat di setiap dia mengalami masalah.

Wing …. wing … wing … suara sirine ambulans memenuhi jalan kecil memasuki rumah Ega. Ega heran juga, dia melihat dirinya diturunkan dari ambulan. Saudara-saudaranya dengan wajah pandangan penuh kehati-hatian menunggu kehadiran Eka. Tubuh Ega terbungkus plastik yang telah disiapkan dari rumah sakit. Seluruh keluarga, ayah dan ibunya memerintahkan untuk menidurkan Ega di sebuah jodog tempat memandikan jenazah. Ega baru mengerti, itu berarti dia sudah mati. Ega heran dia berteriak tak satupun menjawab permintaannya. Sekarang Ega akan dimandikan oleh keluarganya sendiri tidak ada tetangga. Mereka hanya melihat dari kejauhan. Kemudian ada perintah dari bu nyai untuk memulai menyiram tubuhnya. Yang menyiram tubuh Ega adalah ibunya. Tapi aneh pikir Ega, ibu menyiram di bagian tengah yaitu diantara pangkal paha. Dan Ega masih bisa merasakan pantatnya basah. Dia minta ibu menghentikan. Tapi ritual dilanjutkan oleh ayahnya. Ayahnya memegang slang air untuk menyiram tubuhnya namun heran ayahnya menyiram di bagian yang sama. Air itu mengalir ke bawah ke pantatnya. Ega bersyukur tidak keinginan, karena air krannya hangat. Heran juga pikirnya, mengapa air kran ini hangat. Ayah terus mengucurkan air hangat itu sampai terdengar teriakan di telinga Ega. “Kakaaaaak….kau ngompol”

Asparaga, 24 Maret 2020

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.