Antara Awan Berarak

Siang itu semua siswa kelas 6 duduk-duduk di sekitar ruang kantor. Ini adalah momen yang mendebarkan. Udara di bawah pohon terasa tak ada sejuk-sejuknya. Tak seperti biasanya tempat ini meninggalkan kesan indah bagi kami yang bercanda antara senang yang tercipta tanpa kata. Kadang tertawa tak jelas hanya karena melihat guru kami yang killer sedang lewat. Indah saja memeriahkan perasaan yang lelah oleh tugas-tugas.

Gencar, begitu namanya menyisihkan beberapa figur yang menguntit keresahan Ceyla. Jauh di ujung langit awan putih berarak satu persatu menghilang dan musnah. Layaknya Gen pada kehidupan Ceyla

Gen begitu saja muncul diantara serangkaian kejadian yang tak ada dalam pikiran Ceyla. Gen yang datang dengan perhatian dan masa lalu yang sudah lama terpendam segala aktivitas hidup. Gen yang yang pernah mengisi hari-harinya waktu itu. Saat kesulitan tingkat dewa menurutnya.

Entah di mana Ceyla sudah tak bisa mengingat. Jalan Jawa yah … Jalan Jawa. Langkah kakinya gontai, hatinya hampa. Matanya menghitung kotak kotak trotoar satu-satu. Beberapa permukaannya gupil-gupil terinjak kaki para pejalan kaki. seperti angan Ceyla. Tak pernah utuh.

Ceyla mencoba mengeja hari hari kegagalan, slide demi slide. Tak suka sebenarnya dia. Hanya menambah nelangsa. Namun itu yang terjadi. Sulit hilang, layaknya menghapus tinta di kertas.

“Hai… Piye dik kabarnya?” Gen membuka percakapan dengan bahasa Jawa yang kental.

“Aku?” Tanya ceyla mencoba memperpanjang waktu.

“Ya iyalah. Masak orang itu!” Jawab Gen semaunya. Ceyla tersenyum kecut, masih belum menjawab saat Gen sela dengan pernyataan. “Kamu cantik.” Puji Gen tanpa sungkan pada status Ceyla yang sudah tidak jomblo lagi.

“Gombal” hanya itu yang keluar dari mulutnya, karena dia masih tak yakin. “Emak-emak …” Lanjutnya makin galau.

“Sungguh… kamu tidak kelihatan bahwa kamu sudah menikah, atau bahkan punya anak!” Tegasnya meyakinkan Ceyla. Ceyla tersipu, dan berusaha menyembunyikan perasaannya. Tidak etis mengumbar bahagianya dihadapan cowok lain yang bukan siapa-siapa,

Jalan aspal Karimata tampak luas dan indah. Entah darimana mana melihatnya. Atau hanya suasana hatinya yang mengharu biru? Ah … Ceyla mencoba menepis perasaan yang terlarang. Ingin berucap sesuatu, tapi semua kata bisu.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.