Balada Air Mata

Balada Air Mata

Virus corona dengan covid-19 nya menjadi perbincangan utama di jagad ini. Banyak peristiwa terekam dan beredar di berbagai media sosial. Akupun ingin menyimpan peristiwa dan perasaanku yang berkaitan dengan wabah ini sebagai catatan kenangan bila semua berakhir dan hidup kembali normal.

Kumulai catatan ini dengan rasa haru.

1. Musibah keluarga.

Sudah dua minggu adik kandungku berpulang ke Rahmatullah. Kenangan sedih sepeninggalnya masih terasa di setiap sudut rumah. Ibu juga masih terbaring sakit dan lemah. Ini musibah dalam keluargaku. 

Saat terjadi kematian adik, wabah corona belum merebak luas seperti dewasa ini. Patutlah kami bersyukur karena prosesi pemakaman masih dihadiri banyak jamaah, kerabat, saudara dan teman-temannya.

2. Wabah Corona mengubah tatanan rutin yang selalu dijalani. 

Di lingkungan perumahan tak lagi terdengar teriakan dan tawa riang anak-anak sepanjang gang.

Majelis taklim masih berselisih pendapat akan pengajian atau tidak minggu lalu, walau akhirnya lebih condong kepada patuhi peringatan pemerintah.

Pasar dimana lapak kami berada makin sepi dari pengunjung. Di sana kami mengais rezeki, kini lengang tanpa canda tawa lepas. 

Tetangga kami yang beragama Hindu, esok 25 Maret 2020 akan merayakan hari raya Nyepi. Tahun ini, malam Pengerupukan tidak terdengar tetabuhan yang riuh mengiringi arak-arakan ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh tidak diarak seperti biasanya.

3. Berdiam di rumah dan lakukan kegiatan di rumah saja.

Rutinitas harian anak-anak yang padat di sekolah dan di tempat kegiatan lainnya, kini beralih di rumah. Memang lebih menyenangkan bisa mengontrol pelajaran mereka langsung. Namun apa daya, nyatanya kami tak punya kemampuan pedagogik layaknya seorang guru. Sering terjadi salah paham dalam mengajar mereka. Saat seperti ini baru menyadari beratnya usaha para pendidik di kelas, untuk membuat anak kita mampu memahami ilmu yang diajarkan. Semoga kelak tak ada lagi berita pertikaian murid dengan guru, atau orang tua dengan guru. 

Berdiam di rumah juga membuat ikatan keluarga makin kuat. Berkumpul dalam suasana prihatin, saling menguatkan, saling membantu.

4. Mencoba mengambil hikmah dari kejadian ini, walaupun belum berakhir. 

Ketaatan kepada Sang Khalik ditingkatkan. Yakin bahwa Allah menguji kita sebatas kemampuan umat-Nya.

Memang situasi sekarang belum kondusif. Perjuangan tenaga medis di garda depan sungguh hebat. Semoga para pejuang kemanusiaan selalu dalam lindungan-Nya dan terjaga kesehatannya. Kami yang masyarakat awam ini, akan patuh untuk berdiam di rumah dan beraktivitas di rumah.

Saat kembali normal, semoga udara di alam raya sudah lebih bersih dan segar. Wabah sirna dan penduduk kembali sehat. Kami jalani kembali rutinitas kehidupan tapi dengan kualitas yang lebih baik. Balada air mata pasti berakhir.

rumahmediagrup/hadiyatitriono

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.