Ikatan Hati


Ikatan Hati



Sore ini hujan lebat. Tapi saya memaksa suami dengan sedikit bujukan untuk mencari makanan diluar. Teringat belum makan nasi dari pagi. Bagi orang Indonesia seperti saya belum terasa makan kalau nasi belum masuk ke perut. Padahal dari pagi sudah ada beberapa potong kue dan buah yang sudah dimakan.

Suami hanya mengantarkan saya ke tempat warung nasi langganan. Saya maunya makan di tempat, sementara dia tidak bisa menemani karena ada hal yang mau diuruskan dulu. Beliau berjanji akan menjemput lagi setengah jam kemudian.

Tidak lama nasi beserta lauknya yang panas sudah terhidang. Saya minta segelas air putih hangat untuk minumannya.

Diluar hujan deras. Warung masih sepi. Biasanya, di waktu sore seperti ini warung mulai rame dikunjungi pembeli. Mungkin orang-orang malas keluar dalam kondisi seperti ini.
Hanya ada satu laki laki muda yang duduk termenung tidak jauh dari tempat saya duduk dan si Teteh pemilik warung.

“Tante, aku rasanya kok engga bisa ya, meneruskan rumah tangga ini. Istriku itu kayaknya ada yang disembunyikan deh. Handphone yang biasanya tergeletak dimana aja sekarang udah dikunci pake kode dan selalu dibawa kemana aja. Sampai ke kamar mandi,” terdengar suara si anak muda memecahkan kesunyian.

Suara si Teteh pemilik warung menjawab omongan laki-laki muda itu. Rupanya yang disebut tante oleh anak muda adalah si Teteh. Sang tante itu memberi nasihat panjang lebar.

“Sabar dan banyak berdoa. Minta sama Allah dibukakan jalan buat masalah ini. Ajak istrimu ngobrol baik baik. Mungkin ada kesalahan di kamu juga. Istri itu bagaimana suami membawanya dalam rumah tangga.”

Tanpa sadar saya menggangguk sambil makan. Ternyata saya ikut menguping pembicaraan mereka.

“Kamu tahu ‘kan, bagaimana Ommu dulu. Suami Tante itu bukan orang yang bisa diajak ngomong baik-baik. Pemalas dan perokok berat. Kelakuan dia banyak engga benernya. Tante udah tau kelakuannya dari masih pacaran. Tapi yang namanya cinta. Hati ini sering hancur. Rasanya pengen pisah aja. Tapi ya itu, karena lihat anak sudah dua jadi penyemangat hidup. Tante selalu berpikir, pasti suatu saat dia akan berubah. Mudah- mudahan kedepannya suami Tante juga berubah lebih baik . Sekarang masih mending mau bantu bantu ikut jualan,” giliran si Teteh yang curhat kali ini.

Saya yang tadinya mau menelepon suami jadi batal. Si Teteh melirik saya.

“Nih, kayak si Bunda, kayaknya adem lihat rumah tangganya. Kemana-mana berdua aja. Si Ayah kelihatannya baik ya, Bun. Bundanya juga manut aja,”

“Ah engga juga, Teh, saya sama suami juga kadang ada konflik juga. Engga semulus apa yang dilihat orang. Kadang saya juga ada sebelnya sama suami. Kadang juga suami sebel lihat saya. Saling sebel jadinya diem- dieman. Kalo udah gitu, yang rugi dia lah. Musuhin saya berarti engga dapet jatah …. he he. Makan aja dia beli sendiri. Sementara duit ada di saya semua. Untung dong saya karena uang makan utuh! Nah kalo udah gini dia pasti baik baikin saya lagi. “jawab saya.

Si Teteh tertawa sementara sang keponakan memandang saya dengan tatapan yang nelangsa.

Sepertinya mereka berdua ingin melibatkan saya dalam pembicaraan. Namun, tidak terlalu saya tanggapi.
Sejujurnya saya tidak mau memberi komentar atau nasihat untuk masalah ini. Bukan kapasitas saya. Saya bukan keluarga mereka dan bukan ahli psikologi pernikahan, tidak tahu siapa yang bersalah.

Hakikatnya pernikahan itu menyatukan dua pribadi yang berbeda dalam satu naungan rumah tangga dan menciptakan harmoni yang indah. Ibarat kopi, pahit dan manis berpadu satu untuk menghasilkan rasa yang nikmat.

Saya jadi teringat kata-kata seseorang di waktu lampau,
” Ternyata kita tidak berjodoh karena banyak kesamaan diantara kita. Pola pikir dan pandangan kedepan. Apa jadinya kita jika kita bersama. Jenuh dan mungkin mencari yang berbeda dengan kita. “

Saya dan suami sudah menikah selama 21 tahun. Dan sampai sekarang pun kami sama berproses saling menyesuaikan dan saling menundukan ego masing- masing. Saya yang selalu rapi juga disiplin dan si dia yang santai dan kalem.

Tidak ada yang sempurna. Yang ada pendewasaan yang menyempurnakan kehidupan. Menerima kekurangan dan kelebihan pasangan kita dalam ikatan hati dan rengkuhan cinta pada-Nya

“Jelas sekali bahwasanya rumah tangga yang aman dan damai ialah gabungan diantara tegapnya laki-laki dan halusnya perempuan”

Hamka

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.