Ketika Cahaya Itu Datang

Ketika Cahaya Itu Datang

          Senja semakin merambat naik. Semburat-semburat jingga lambat laun berganti kelam. Nyala lampu sorot serta aneka lampu dari bangunan-bangunan yang berdiri di kanan-kiri jalan mampu mengusir sebagian gulitanya malam. Di trotoar itu, di bawah bayang-bayang pohon, sesosok tubuh seperti membentuk bayangan hitam, diam terpaku. Lampu-lampu kendaraan yang lewat di depannya, sepintas menyapu bayangan hitam itu. Sekelebat tergambar bahwa sosok bayangan hitam itu adalah sesosok tubuh laki-laki muda.

            Perlahan sosok itu bergerak maju meninggalkan bayang-bayang pohon menuju satu titik, terminal bus. Hiruk pikuk suasana di terminal itu tak sedikit pun menarik perhatiannya. Dengan langkah gontai, ia menuju sebuah sudut terminal. Gelap, tapi tak menghalanginya untuk meraih sebuah bangku panjang, duduklah ia di situ. Meski gelap, ia bisa melihat dengan mata batinnya setiap detail di sudut itu. Bagaimana tidak, di sudut gelap itulah ia menghabiskan sisa-sisa waktunya setelah seharian menjalani hidup, selama sepuluh tahun. Dia adalah anak yatim piatu yang merantau ke ibu kota seorang diri. Bang Rohadi, jeger terminal itu yang telah meraihnya. Karena Bang Rohadi juga, ia disegani oleh sesama preman terminal.

            Bersama Bang Rohadi, ia menjalani kehidupan lengkap sebagai penguasa terminal. Meminum-minuman keras hingga mabuk berat, berjudi hingga pulang dengan semua saku penuh uang bila mujur tengah berpihak padanya atau pulang dengan terlebih dulu melucuti semua barang berharga yang ada di tubuhnya bila naas menimpa, memalak preman atau anak jalanan dari wilayah lain yang merambah wilayah kekuasaannya tanpa izin, hingga mencopet dompet calon penumpang bus yang diperkirakan penuh dengan lembaran bernilai besar, telah menjadi kegiatan hariannya. Hidupnya benar-benar kacau. Tiada sedikitpun sentuhan agama yang ia terima di terminal itu. Betul-betul seperti kehidupan dalam rimba. Tanpa etika, tanpa tatakrama. Yang berlaku hanyalah aturan yang berkuasa ditakuti, yang lemah dikerjai.

            Oleh Bang Rohadi, ia dipanggil Baja. Kata Bang Rohadi, supaya mentalnya bisa kuat seperti baja. Boleh jadi, tak satupun penghuni terminal yang tahu nama dia yang sebenarnya. Setahun lalu, Bang Rohadi  menjadi korban tabrak lari tak jauh dari terminal tempatnya mangkal. Ia tewas di tempat. Kejadian itu tak banyak yang mengetahui. Kalaupun ada yang tahu, mereka ambil sikap tak peduli. Sepeninggal Bang Rohadi, Baja kembali menjadi sebatang kara. Tetapi, ia tetap bisa berkuasa di terminal itu. Preman-preman terminal terlanjur gentar menghadapinya. Hingga pagi tadi, ia bertemu seorang pemuda sebayanya yang mengaku mahasiswa yang sedang mengadakan penelitian tentang kehidupan preman. Pemuda itu begitu santun. Sikap dan kata-kata pemuda itu membuat Baja merasa sangat dihargai. Entah kenapa, setiap ucapan pemuda itu begitu mengena dalam hatinya.

            Ia sendiri tidak paham perasaan apa yang tengah melanda hatinya. Sebentar-sebentar tangannya meraih botol pipih yang ada dalam kardus tak jauh dari tempatnya duduk. Digenggamnya, dipegang tutupnya, ditatapnya lama-lama. Setengah dilemparkan, botol yang selama ini menjadi sahabatnya itu kembali ke tempatnya semula.

            Malam kian larut namun kantuk tak juga datang menyapanya. Malam itu ia begitu gelisah. Akhirnya, ia bangkit. Seakan ada yang menuntun, ia melangkahkan kaki perlahan, tanpa ekspresi. Hatinya menuntunnya ke suatu tempat. Tempat yang keberadaannya tidak asing baginya. Hanya saja, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Bila sebelumnya, ia melewati tempat itu tanpa berminat sedikitpun, kini seolah ada energi yang menuntunnya untuk mengarah tepat ke tempat itu. Sebuah ruangan yang tidak begitu besar, remang-remang. Dia diam mematung tepat di depan pintu masuk yang tak berdaun pintu itu. Sekilas terlihat beberapa sosok yang terbaring lelap di beberapa titik di atas karpet hijau yang tergelar.

            Musala, ya tempat itu adalah musola yang selama ini tak pernah terhampiri olehnya. Cukup lama ia berdiri mematung di depan situ. Setelah menarik napas berat, ia membalikkan badannya. Setengah berlari ia kembali ke sudut terminal tempat biasanya ia menghabiskan malam dengan mimpi-mimpinya.

            Dingin mulai merasuk masuk hingga terasa menusuk tulang. Dia membaringkan tubuhnya di atas bangku, meringkuk menahan dingin. Namun matanya tak jua mau terpicingkan. Hingga akhirnya terdengar sayup-sayup suara azan Subuh dari kejauhan. Dia tersentak, telah lama sekali dia tak mendengar alunan semerdu itu. Bagaimana tidak, selama ini, ketika alunan azan Subuh membahana, ia sedang lelap-lelapnya dibuai mimpi.

            Alunan azan merasuk masuk ke telinganya lalu menyelinap ke tiap celah dalam tubuhnya hingga menggetarkan dadanya, membuncahkannya menjadi linangan air bening di sudut-sudut matanya. Jeger terminal itu terisak. Di pelupuk matanya tergambar jelas bagaimana ia sebelum sepuluh tahun ini. Dialah yang selalu mengumandangkan azan itu di surau tempatnya mengaji. Dia bersama beberapa temannya, sesama anak SD terbiasa mengaji di surau itu sedari Maghrib. Mereka bermalam di situ. Setelah mengaji dan shalat Isya, mereka beramai-ramai menghapal surat-surat pendek dari zuz 30 dengan bimbingan Pak Ustadz hingga kantuk datang.

            Seolah tersentak ia bangkit menuju ke musola yang tadi malam ia kunjungi. Sekarang ruangan musola telah lebih terang daripada tadi malam. Beberapa orang telah berdiri berjamaah salat Subuh. Dia berpaling ke tempat wudu. Ragu, dia mendekati tempat itu. Tangannya meraih keran. Dinginnya air yang mengenai kulit tangannya telah menghentakkan hati seorang hamba yang selama ini terlupa. Ia coba berwudu, ragu. Diulanginya lagi, tercenung. Akhirnya, ia tutup kembali keran. Berdiri mematung. Berjalannya waktu telah menghapus ingatannya tentang wudu. Bagaimana dengan salat? Masih ingatkah ia pada cara-cara salat?

            Ia tersentak ketika ada yang menepuk bahunya. “Lagi ngapain, Bang?” sapanya. Senyum tersungging di sudut bibir pemuda yang menepuk bahunya tadi.

            “Kau?” Baja bertambah kaget. Pemuda inilah yang membuatnya tak bisa tidur semalaman. Pemuda ini pulalah yang menjadi jalan tergeraknya hati Baja hingga kini berada di tempat wudu ini  setelah semalaman terus memikirkan setiap ucapannya. Kata dia, “Allah tak akan mengubah nasib kita kalau kita tidak mau mengubah nasib.” Kata dia juga, “Kita harus memiliki mimpi untuk menjadi orang besar yang jauh lebih bermartabat daripada menjadi preman terminal. Yakinlah akan pertolongan Allah, Bang!”

            “Saya bermalam di musola ini. Sengaja, agar bisa melihat keadaan Abang dari dekat. Abang sudah berwudu?” tanyanya kemudian.

            “Beberapa kali aku mencobanya. Tapi… aku rasa selalu ada yang terlewat.”

            “Baiklah, Bang. Saya beri contoh. Abang ikuti saya!” Pemuda itu membimbing Baja berwudu. Setelah itu, iapun membimbing Baja mengerjakan salat Subuh. “Lanjutkan dengan doa ya, Bang. Abang mohon apa pun yang Abang inginkan.”

            “Doa? Apakah aku masih berhak untuk berdoa? Apakah Allah masih mau menerima doaku? Bukankah selama ini aku melupakan-Nya?” menatap ragu.

            “Bang, awali doa Abang dengan memohon ampun pada Allah.”

            “Apakah Allah mau mengampuniku? Dosa yang kuperbuat telah begitu banyak.”

            “Betapa pun banyaknya dosa yang telah Abang lakukan, ampunan Allah jauh lebih besar dari itu. Percayalah, Bang.” Pemuda itu menggenggam tangan Baja. Tatap mata dan senyumnya, mencoba meyakinkan Baja.”Menangislah di hadapan-Nya, Bang. Akuilah dosa-dosa Abang, lalu mintalah petunjuk agar Abang bisa kembali ke jalan-Nya.”

            Baja pun larut dalam taubatnya. Tangisnya telah meluruhkan dosa-dosa yang selama ini telah membuat hatinya hitam kelam. Cahaya mulai menerobos masuk melalui celah-celah kesadarannya. Sedikit demi sedikit cahaya itu berpendar-pendar membuat ruang hati Baja terang benderang. ***

Rumahmediagrup/sinur

#RMG_cerpensinur_01

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.